Kutim

Cerita Suka Duka Guru Pedalaman Kutim Selama Mengajar di Masa Pandemi

Kaltim Today
25 November 2020 15:59
Cerita Suka Duka Guru Pedalaman Kutim Selama Mengajar di Masa Pandemi
Salahsatu murid dari pedalaman Kutim yang harus belajar ditengah kebun sawit. (Foto: istimewa)

Kaltimtoday.co, Sangatta - Pandemi Covid-19 menjadi faktor utama terhambatnya hampir seluruh kegiatan masyarakat, salah satunya pada sektor pendidikan. Kegiatan belajar mengajar yang sebelumnya dilaksanakan dengan tatap muka, saat ini sebagian besar beralih menjadi dalam jaringan atau daring. Perubahan yang drastis tersebut menyebabkan kesulitan tersendiri bagi pengajar di tingkat sekolah formal.

Seperti, halnya yang dialami oleh Ahmad Jayadi, seorang guru di SMPN 2 Kecamatan Sandaran, yang sekolahnya berada di wilayah pedalaman Kutai Timur (Kutim).

Guru Mata Pelajaran Pendidikan Jasmani (Penjas) tersebut menceritakan suka duka mengajar selama masa pandemi. Melalui pembelajaran jarak jauh yang saat ini diterapkan kepada siswa-siswanya, muncul berbagai problematika baik itu yang dialami oleh siswa, orang tua, dan guru.

Dengan adanya pembelajaran daring, kelemahan yang utama adalah penyampaian materi yang kurang jelas. Penyampaian melalui media dan bukan tatap langsung dirasa Jayadi kurang diserap secara optimal oleh siswanya. Selain itu, banyak orang tua siswa yang protes terhadap guru ataupun pihak sekolah.

“Mereka merasakan betapa beratnya menyampaikan materi kepada putra-putrinya, terlebih tugas tersebut harus diselesaikan,” kata Jayadi saat dikonfirmasi, Rabu, (25/11/2020).

Diimbuhkan Jayadi, keterbatasan orang tua siswa dalam memahami dan menjelaskan materi kepada anak mereka juga menjadi salah satu kendala.

Tingkat pendidikan yang berbeda-beda, faktor kesabaran dan waktu luang yang tersedia, serta sarana prasarana juga menjadi beberapa hambatan yang dialami orang tua.

 

View this post on Instagram

 

A post shared by Kaltim Today (@kaltimtoday.co)

Jayadi mengungkapkan, dengan adanya pembelajaran jarak jauh, siswa menjadi kurang fokus terhadap materi pelajaran. Terlebih lagi apabila media yang dipakai kurang menarik, siswa menjadi mudah jenuh dengan materi yang disampaikan.

“Selama ini konsepsinya bagaimana menjauhkan gadget dari anak-anak, tapi ternyata di posisi seperti ini justru para pendidik ditantang berkreasi memajukan pendidikan menggunakan teknologi yang ada,” tutur Jayadi.

Faktor penilaian juga menjadi kendala tersendiri. Melalui metode daring, dimana guru tidak dapat mengetahui apakah siswa mengerjakan tugas dan soal sendiri ataupun dibantu oleh orang lain, menjadikan hasil ujian dipertanyakan.

Siswa sebagian besar memperoleh nilai sempurna atau 100. Menyikapi hal tersebut, Jayadi menyatakan bahwa, ada tolok ukur tersendiri dalam memberikan penilaian yang mendekati obyektif.

“Walaupun siswa tersebut nilainya seratus, saya mengukur sesuai karakter masing-masing siswa selama pembelajaran tatap muka,” ungkapnya.

Tugas pembelajaran di luar jaringan atau luring diberikan guru kepada siswa untuk diselesaikan dan dikumpulkan seminggu sekali. Hal ini dikatakan Jayadi, bertujuan agar siswa dapat melakukan konsultasi kepada guru terkait materi pelajaran yang dirasa sulit.

Pertemuan tersebut tentunya tetap menjalankan protokol kesehatan yang ketat seperti memakai masker, cuci tangan, pengecekan suhu tubuh saat akan memasuki area sekolah serta jaga jarak.

Jayadi menyoroti pula bantuan paket data internet kepada siswa dan guru yang diterima seminggu yang lalu. Bantuan ini dianggapnya cukup membantu meringankan beban pengeluaran.

“Paket internet sebesar 35 GB tersebut telah terserap oleh siswa sebanyak 80%. Sisanya belum bisa menerima bantuan internet dikarenakan nomor handphone yang terdaftar tidak aktif, namun kendala tersebut sudah diproses untuk segera diselesaikan,” jelasnya.

Jayadi pun berharap, pembelajaran tatap muka dapat segera dilaksanakan karena menurut mereka para guru pembentukan karakter siswa tidak bisa dilaksanakan melalui daring. Menurut dia, di saat seperti ini, kerja sama yang baik antara orangtua, anak, dan guru sangat diperlukan. Jayadi mengatakan orangtua juga perlu menghadirkan suasana belajar yang menyenangkan bagi anak di rumah.

“Kuncinya adalah komunikasi antara guru, orangtua, dan anak. Karena saya yakin pendidikan berhasil dengan kolaborasi yang baik antara ketiganya,” tutupnya.

[El | NON]

 


Related Posts


Berita Lainnya