Opini

Desain Pembelajaran Daring oleh Guru di Masa Pandemi Covid-19

Oleh: Gunawan, M.Pd (Guru fisika SMK Negeri 2 Samarinda)

Pandemi Covid -9 telah merubah praktek pendidikan dan pembelajaran dari ruang kelas menjadi pembelajaran jarak jauh (PJJ). Seiring penetrasi teknologi informasi dan komunikasi berbasis internet, PJJ dibagi dua, yaitu PJJ diluar jaringan internet/offline (luring) dengan media modul, buku, radio, televisi dan PJJ dalam jaringan internet/online (daring) sebagai perantara pembelajaran dengan daring sinkronus.

Pembelajaran dengan daring sinkronus artinya pembelajaran yang dilaksanakan secara real time (langsung) tatap muka guru dengan siswa dalam video confrence (vicon) seperti zoom, Microsoft teams, google meet, Facebook Messenger dan lainnya dan daring asinkronus dilaksanakan tidak tidak langsung tetapi melalui aplikasi sistem manajemen pembelajaran (Learning management system/LMS) seperti google classroom, edmodo, schoologi, microsoft teams, Khan akademi dan lainnya.

Baca juga:  Tambang Batu Bara Bukan Solusi bagi Lingkungan Hidup

Perkembangan jaringan internet dan kepemilikan smartphone oleh siswa semakin besar, membuat pembelajaran daring sebagai pilihan yang tepat karena memudahkan, fleksibel, dan bagi siswa dunia digital adalah habitatnya.

Bagaimana dengan guru? ada pendapat mengatakan masalah pendidikan di era digital adanya gap antara guru dan siswa, siswa generasi z oleh Marck Prensky (2001) menyebutnya digital native (pribumi/penduduk asli digital) yang ciri menonjolnya adalah terbiasa menggunakan fitur-fitur, cara berpikir, bahasa, budayanya digital, berbeda dengan guru sebagai generasi X,Y (digital imigrant) digital adalah dunia baru yang butuh penyesuaian, sebagaimana imigran pada pengertian aslinya dia harus belajar bahasa, budaya, dan fitur-fiturnya.

Pembelajaran daring sudah satu tahun mengikuti usia Covid-19, ada banyak evaluasi seperti  pembelajaran hanya mengirim materi, mencatat, meringkas, mengerjakan soal dan dikumpulkan. Apakah hal tersebut efektif? bisa jadi efektif dalam konteks penguasaan materi pelajaran, tetapi tujuan pendidikan lebih dari itu, ada tujuan lain seperti penguasaan kompetensi dan keterampilan abad 21 berpikir kritis, kreatif, komunikasi dan kerja sama (4C) dan literasi serta kebermaknaan belajar. Pembelajaran yang tidak didesain dan direncanakan secara sistematis, tidak berorientasi mencapai tujuan akan cenderung dilaksanakan dengan metode langsung, berupa tugas, soal tanpa arah yang jelas dan berkurang keberhasilannya.

Baca juga:  SDGs Desa: Asa Pembangunan Berkelanjutan dari Desa

Bagaimana guru mendesain pembelajaran daring? Guru harus melakukan hal berikut:

1. Mengetahui tentang karakteristik peserta didik, misal tentang status sosial dan tempat tinggal karena ini akan menentukan apakah siswa memiliki akses yang cukup pada kepemilikan gadget, laptop, data internet untuk mengikuti pembelajaran daring sinkron dan asinkron.

2. Merumuskan tujuan pembelajaran, guru harus mengidentifikasi muatan-muatan yang penting dan esensial pada setiap topik, dan keterampilan abad 21 4C dan literasi, serta apakah program dan tujuan belajar tersebut relevan dengan kebutuhan pembelajar sendiri, tuntutan lapangan kerja, perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi atau perkembangan yang terjadi di masyarakat, yang dekat di lingkungan siswa, menjawab problem orang tua,

3. Membuat instrumen penilaian, dalam bentuk berpikir tingkat (HOTS) bukan level mengingat, menjelaskan dan aplikasi karena soal bentuk rendah ini jawabannya banyak terdapat di internet.

Baca juga:  Maklumat Kapolri Bentuk Pengkerdilkan Demokrasi dan Langgar Konstitusi

4. Mengembangkan strategi pembelajaran,  yaitu pembelajaran pendekatan saintifk dengan komponen mengamati, menanya, mencoba, menalar, mengkomunikasikan (5M) hal ini dilaksanakan untuk mencapai kebermaknaan pembelajaran sebagaimana teori konstruktivisme, bahwa pengetahuan harus dibangun sendiri oleh siswa melalui proses “penemuan”.

5. Membuat dan menyiapkan bahan pembelajaran, berupa media presentasi, Whiteboard digital, aplikasi/software eksperimen, simulasi, video, modul, materi pembelajaran, atau link website. Bahan tersebut harus memenuhi prinsip kebebasan, artinya media tersebut dapat diakses oleh siswa yang berbeda karakteristik, kemandirian artinya yang memungkinkan bahan tersebut dipelajari secara mandiri, prinsip keluwesan yaitu siswa memungkinkan mengatur jadwal dalam belajar, mengakses materi belajar dan mengikuti ujian, prinsip mobilitas, yaitu memungkinkan siswa belajar dengan cara berpindah tempat sesuai dengan keadaan yang memungkinkan untuk terjadinya proses pembelajaran, dan prinsip keterkinian, yaitu bahan pembelajaran yang menarik seperti kemudahan akses, pemilihan warna, dinamis, fasilitas narator, animasi, tata letak serta atraktif. (*)

*) Opini penulis ini merupakan tanggung jawab penulis seperti tertera, tidak menjadi bagian tanggung jawab redaksi kaltimtoday.co

 

Facebook Comments
Tags

Related Articles

Back to top button
Close