Kutim

Dianggap Unik, Tarian Hudoq Jadi Bahan Disertasi Kasmidi Bulang

Kaltim Today
13 Oktober 2020 19:37
Dianggap Unik, Tarian Hudoq Jadi Bahan Disertasi Kasmidi Bulang
Kasmidi Bulang saat mengikuti ujian tertutup secara virtual zoom dan diuji sebanyak 8 penguji. (Ramlah/Kaltimtoday.co)

Kaltimtoday.co, Sangatta - Belajar itu tiada batasnya, hidup sampai tua, belajar sampai tua, itulah yang dilakukan Kasmidi Bulang, meski cuti sebagai kepala daerah namun disela-sela kesibukannya sebagai kandidat dalam pilkada Kutim, ia tetap menuntut ilmu, dengan mengikuti kuliah program doktor.

Kasmidi Bulang yang juga mahasiswa Program Doktoral (S3) di Universitas Merdeka Malang, pada Selasa (13/10/2020) mengikuti ujian tertutup untuk memperoleh gelar doktor.

Ujian tertutup yang digelar secara virtual zoom itu diuji oleh delapan dosen promotor untuk menguji kompetensi hasil penelitian yang dilakukan di lapangan yang dibuat dalam bentuk disertasi.

“Alhamdulillah, Puji syukur kepada Allah karena pertolongan-Nya akhirnya saya bisa selesai mengikuti Ujian Disertasi Tertutup program Doktor dengan judul Disertasi Pelaksanaan Tarian Hudoq dalam Tradisi Lom Plai, setelah kurang lebih dua jam memaparkan disertasi dan berdiskusi dengan dosen penguji. Bersiap untuk tahap selanjutnya yakni ujian terbuka,” terang Kasmidi usai pelaksanaan ujian tertutup.

Kasmidi yang membuat disertasi dengan mengangkat budaya dari masyarakat Dayak Wehea dengan mengenalkan tarian tradisional yang disebut tari hudoq.

Kasmidi menyebut, tujuan utama mengangkat tarian hudoq dalam penelitiannya karena menurut Kasmidi tarian hudoq ini patut dikenalkan ke masyarakat baik lokal maupun mancanegara.

“Tarian hudoq ini merupakan tarian tradisional yang dilakukan Suku Dayak digambarkan dalam wujud muka babi, monyet, atau binatang-binatang lain yang dianggap sebagai hama. Sebaliknya, burung elang dilambangkan sebagai binatang yang akan melindungi dan memelihara hasil panen masyarakat Dayak. Sementara, hudoq yang berwujud manusia merupakan simbol nenek moyang,” papar Kasmidi.

Kasmidi menambahkan, tarian hudoq pada masyarakat Dayak biasanya ditampilkan ketika hendak membuka lahan pertanian.

“Tarian ini merupakan salah satu tahapan dalam tradisi masyarakat Dayak. Tarian ini akan dipertunjukkan ketika kepala suku telah menetapkan akan membuka lahan dan selesainya acara persembahan delapan buah telur kepada leluhur,” ujarnya.

Selain mengenakan topeng yang merepresentasikan karakter penghancur, pelindung, dan karakter leluhur, penari hudoq juga mengenakan baju yang umumnya berwarna hijau. Baju ini dibuat seperti dedaunan yang menempel di badan penari.

Baju hijau ini memang menyimbolkan dedaunan yang akan terus menghijau selama kepala suku membuka lahan garapan.

“Selain terdapat sisi mistis karena berkaitan dengan roh para leluhur, tari hudoq juga berfungsi sebagai hiburan bagi masyarakat yang sedang membuka lahan,” tambahnya.

Tari hudoq merupakan peninggalan leluhur Suku Dayak dan menjadi salah satu kekayaan nusantara yang harus dijaga dan dilestarikan.

“Tujuan utama mengangkat disertasi ini jangan sampai modernisasi menelan kesenian tradisi yang erat hubungannya dengan ritual adat di nusantara ini,” pungkasnya.

[El | NON]


Related Posts


Berita Lainnya