Internasional

Ebola Kembali Mengganas, WHO Tetapkan Status Darurat Kesehatan Global 2026

Rahmawati — Kaltim Today 18 Mei 2026 12:16
Ebola Kembali Mengganas, WHO Tetapkan Status Darurat Kesehatan Global 2026
Ilustrasi. (Pixabay)

Kaltimtoday.co - Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) resmi menetapkan lonjakan kasus virus Ebola di Provinsi Ituri, Republik Demokratik Kongo (RDK), serta Uganda sebagai Kedaruratan Kesehatan Masyarakat yang Menjadi Perhatian Internasional (Public Health Emergency of International Concern/PHEIC).

Status darurat global yang diumumkan pada Minggu (17/5/2026) ini merespons situasi kritis di lapangan, di mana wabah telah menewaskan sedikitnya 80 orang dari ratusan kasus suspek yang tersebar di zona kesehatan utama seperti Bunia, Rwampara, dan Mongbwalu.

Berdasarkan pemeriksaan laboratorium, virus mematikan ini kembali mengancam keamanan kesehatan modern dengan tingkat fatalitas rata-rata mencapai 50%, sehingga memaksa tenaga medis menerapkan protokol perlindungan tingkat tinggi dengan alat pelindung diri (APD) lengkap demi memutus rantai penularan.

Secara ilmiah, virus Ebola merupakan anggota famili Filoviridae dengan materi genetik berupa RNA untai tunggal negatif berbentuk filamen yang sangat infeksius. Karena karakteristiknya yang mematikan, kemampuan penularan antarmanusia lewat kontak langsung cairan tubuh, serta minimnya pilihan pengobatan, WHO mengategorikan filovirus ini ke dalam kelompok risiko 4 yang wajib ditangani di laboratorium dengan standar keamanan tertinggi (Biosafety Level 4/BSL-4).

Jejak historis mencatat patogen ini pertama kali diidentifikasi pada tahun 1976 di dekat Sungai Ebola, Zaire (sekarang RDK), melalui dua varian awal yakni strain Sudan dan strain Zaire yang mencetak angka kematian ekstrem hingga 88%. Teror virus ini terus berlanjut lintas dekade hingga puncaknya pada epidemi terbesar di Afrika Barat (2013–2016) yang menginfeksi lebih dari 28.000 orang dan merenggut 11.325 nyawa.

Tantangan pada wabah tahun 2026 ini kian rumit seiring meningkatnya kekhawatiran para ilmuwan terhadap Bundibugyo virus. Berbeda dengan strain Zaire yang sudah memiliki vaksin dan terapi resmi, varian Bundibugyo merupakan salah satu dari tiga spesies paling berbahaya yang hingga saat ini belum memiliki vaksin atau pengobatan khusus yang disetujui.

Kelangkaan data ilmiah akibat jarangnya kemunculan varian ini membuat penanganan medis menjadi perlombaan melawan waktu. Guna mengantisipasi dampak yang lebih luas, WHO bersama Africa CDC kini mempercepat koordinasi lintas negara dengan memperketat pengawasan perbatasan, mengaktifkan sistem manajemen darurat nasional, serta menguji coba kandidat vaksin eksperimental untuk meredam penyebaran di kawasan sub-Sahara. 

[RWT] 



Berita Lainnya