Internasional
Dilanda Konflik dan Pemangkasan Bantuan, Wabah Ebola di Kongo Terancam Gagal Dikendalikan
Kaltimtoday.co - Upaya Pemerintah Republik Demokratik Kongo untuk menahan laju penyebaran wabah ebola di wilayah timur menghadapi tantangan yang sangat serius. Serangan terhadap fasilitas kesehatan, konflik bersenjata, resistensi atau kemarahan warga lokal, hingga pemangkasan bantuan internasional membuat penanganan penyakit mematikan ini dinilai terancam gagal dikendalikan.
Melansir laporan dari AP, Senin (25/5/2026), otoritas kesehatan Kongo melaporkan telah mendeteksi lebih dari 900 kasus suspek ebola di wilayah timur, dengan pusat wabah terkonsentrasi di Provinsi Ituri. Lonjakan kasus ini mempertinggi risiko transmisi yang lebih luas di kawasan yang telah lama didera krisis kemanusiaan.
Situasi di lapangan dilaporkan kian memburuk menyusul aksi anarkis sekelompok pemuda bersenjata yang menyerbu sebuah rumah sakit yang merawat pasien ebola di kota Mongbwalu, Ituri. Insiden penyerangan tersebut terjadi pada Minggu (24/5/2026) malam waktu setempat.
Direktur Rumah Sakit, Richard Lokudu, menjelaskan bahwa para penyerang memaksa masuk dan menuntut agar jenazah salah satu kerabat mereka diserahkan oleh pihak rumah sakit. Akibat situasi yang mencekam disertai rentetan suara tembakan, petugas medis terpaksa mengevakuasi para pasien secara darurat. Hingga saat ini, belum ada laporan resmi mengenai korban jiwa dalam insiden tersebut.
Aksi kekerasan di Mongbwalu ini menambah panjang daftar perusakan fasilitas medis, setelah sebelumnya dua pusat layanan kesehatan darurat juga dilaporkan dibakar oleh massa di wilayah yang sama.
Kawasan timur Kongo memang dikenal sebagai daerah konflik kronis tempat puluhan kelompok milisi beroperasi. Di antaranya terdapat kelompok M23 yang diduga didukung oleh Rwanda, serta kelompok milisi Allied Democratic Forces(ADF) yang memiliki afiliasi dengan jaringan ISIS.
Kondisi keamanan yang tidak menentu ini diperparah dengan adanya sekitar satu juta orang yang kini mengungsi di Provinsi Ituri. Pergerakan massa dan kepadatan penduduk di kamp-kamp pengungsian dekat Kota Bunia membuat risiko penularan virus ebola menjadi berkali-kali lipat lebih tinggi.
Perwakilan dari Federasi Palang Merah dan Bulan Sabit Merah Internasional, Gabriela Arenas, menyebutkan bahwa krisis kesehatan ini terjadi di waktu dan tempat yang salah.
“Wabah ini terjadi di komunitas yang sudah menghadapi ketidakamanan, pengungsian, dan sistem kesehatan yang lemah,” ujar Gabriela menggambarkan rapuhnya kondisi di lapangan.
Faktor eksternal seperti pemangkasan dana bantuan internasional dari negara-negara donor, termasuk Amerika Serikat, turut memperparah efektivitas respons medis. Banyak klinik dan fasilitas kesehatan di Kongo yang kini dilaporkan kehabisan alat pelindung diri (APD), alat tes diagnostik, hingga perlengkapan protokol pemakaman yang aman bagi korban meninggal.
“Kami hanya memiliki hand sanitizer dan beberapa masker untuk perawat,” ungkap seorang pekerja kemanusiaan lokal yang mengeluhkan minimnya logistik medis.
Dari aspek klinis, para ahli epidemiologi menyebutkan bahwa virus yang tengah menyebar saat ini adalah virus ebola tipe Bundibugyo. Karakteristik virus tipe ini tergolong sulit dibendung karena belum memiliki vaksin atau metode pengobatan medis yang disetujui secara resmi, sehingga mitigasi sepenuhnya bergantung pada pencegahan dan isolasi ketat.
Di samping kendala logistik dan keamanan, ketidakpercayaan masyarakat terhadap otoritas kesehatan pemerintah juga menjadi tembok penghalang besar. Banyak warga menolak aturan pemakaman ketat korban ebola yang melarang tradisi berkumpul atau menyentuh jenazah.
Guna mengantisipasi resistensi yang lebih masif, pemerintah setempat telah mengeluarkan larangan resmi terhadap penyelenggaraan acara duka berskala besar dan membatasi kerumunan maksimal 50 orang. Aparat keamanan bersenjata kini juga disiagakan untuk mengawasi ketat setiap prosesi pemakaman korban meninggal akibat ebola.
[RWT]
Related Posts
- Dokter: Vaksin HPV Tetap Efektif dan Penting bagi Wanita yang Sudah Menikah
- Waspada! 5 Penyakit Ini Sering Mengintai Jemaah Haji di Tengah Cuaca Panas Ekstrem
- Mitos atau Fakta: Anak Terkena Campak dan Cacar Tidak Boleh Mandi? Ini Penjelasan Dokter
- Suka Angkat Beban di Gym? Hati-hati, Teknik yang Salah Bisa Ganggu Fungsi Ereksi
- Lebih dari Sekadar Penglihatan, 6 Penyakit Serius Ini Bisa Terdeteksi Lewat Mata









