Ekonomi dan Bisnis

Harga Emas Dunia Anjlok Hampir 3 Persen, Perak Terkoreksi Tajam hingga 9 Persen

Network — Kaltim Today 13 Februari 2026 11:29
Harga Emas Dunia Anjlok Hampir 3 Persen, Perak Terkoreksi Tajam hingga 9 Persen
Ilustrasi. (Pexels)

Kaltimtoday.co - Harga emas global mengalami tekanan tajam pada perdagangan Jumat (13/2/2026), bahkan menyentuh level terendah dalam hampir sepekan. Pelemahan ini terjadi setelah data ketenagakerjaan Amerika Serikat menunjukkan kondisi ekonomi yang masih solid, sehingga memupus harapan pelaku pasar terhadap pemangkasan suku bunga dalam waktu dekat oleh Federal Reserve.

Dalam perdagangan tersebut, harga emas spot turun sekitar 2,8 persen ke level US$ 4.938,69 per ons. Sepanjang sesi, harga bahkan sempat berada di posisi terendah sejak 6 Februari 2026. Sementara itu, kontrak emas berjangka AS untuk pengiriman April ditutup melemah 2,9 persen ke posisi US$ 4.948,4 per ons.

Tekanan juga terjadi pada logam mulia lainnya. Harga perak merosot hingga 8,9 persen menjadi US$ 76,54 per ons setelah sebelumnya sempat melonjak sekitar 4 persen. Harga platinum turut terkoreksi sekitar 4,7 persen pada perdagangan hari yang sama.

Analis pasar dari City Index dan forex.com, Fawad Razaqzada, menilai penurunan tajam terjadi karena banyak pelaku pasar memasang batas kerugian di area harga penting.

Menurutnya, volatilitas tinggi sebelumnya mendorong investor memasang stop loss di bawah level US$ 5.000 dan di atas US$ 5.100. Ketika harga turun menembus batas bawah tersebut, banyak posisi otomatis terjual sehingga memicu penurunan berantai dalam waktu singkat, sebagaimana dikutip dari Reuters.

Sementara itu, data ekonomi terbaru menunjukkan pasar tenaga kerja AS masih kuat pada awal 2026. Penambahan tenaga kerja non-pertanian mencapai 130.000 pekerjaan pada Januari, setelah data Desember direvisi turun menjadi 48.000 pekerjaan. Tingkat pengangguran juga tercatat sedikit menurun menjadi 4,3 persen.

Selain itu, klaim awal tunjangan pengangguran turun ke angka 227.000 pada pekan yang berakhir 7 Februari 2026, menunjukkan kondisi ketenagakerjaan yang relatif stabil.

Situasi ini memperkuat pandangan bahwa bank sentral AS memiliki ruang untuk mempertahankan suku bunga tinggi lebih lama guna memastikan tekanan inflasi tetap terkendali.

Suku bunga yang tinggi umumnya menekan harga emas karena logam mulia tidak memberikan imbal hasil seperti instrumen investasi berbasis bunga, sehingga minat investor terhadap emas cenderung menurun ketika suku bunga tetap tinggi.

[RWT] 



Berita Lainnya