Daerah

Hidup Serba Kekurangan, Ibu Stroke dan Tiga Anak Yatim di Samarinda Dapat Perhatian dari Istri Wagub Kaltim

Defrico Alfan Saputra — Kaltim Today 15 Mei 2026 12:39
Hidup Serba Kekurangan, Ibu Stroke dan Tiga Anak Yatim di Samarinda Dapat Perhatian dari Istri Wagub Kaltim
Istri Wakil Gubernur Kalimantan Timur, Wahyu Hernaningsih Seno bersama TRC PPA Kaltim meninjau lokasi keluarga yang memprihatinkan di Jalan Biawan, Samarinda. (Defrico/Kaltimtoday.co) 

Kaltimtoday.co, Samarinda - Kondisi satu keluarga di Jalan Biawan, Samarinda yang hidup dalam keterbatasan ekonomi mendapat perhatian serius dari Pemerintah Provinsi Kalimantan Timur. Keluarga tersebut diketahui terdiri dari seorang ibu yang mengalami stroke dan tiga anak laki-laki yang kini berstatus yatim serta menghadapi risiko putus sekolah.

Istri Wakil Gubernur Kalimantan Timur, Wahyu Hernaningsih Seno, menyampaikan bahwa pihaknya bersama Dinas Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (DP3A) serta lurah setempat telah bergerak cepat merespons laporan masyarakat.

“Alhamdulillah, kami dari pribadi saya, kemudian Ibu Kadis DP3A, serta Ibu Lurah di wilayah ini langsung merespons cepat adanya keluarga yang membutuhkan bantuan,” ujarnya.

Menurutnya, kondisi ibu yang sakit stroke serta anak-anak yang masih membutuhkan perhatian pendidikan menjadi alasan utama perlunya intervensi bersama, baik dari pemerintah maupun masyarakat. 

“Kesehatannya akan dibantu melalui KIS. Untuk anak-anaknya, ada yang sudah bekerja, tetapi ada juga yang hampir putus sekolah. Ini menjadi tugas kita bersama sebagai warga untuk saling membantu,” jelasnya.

Ia menegaskan bahwa penanganan tidak hanya bersifat sementara, tetapi juga diarahkan pada keberlanjutan, termasuk bantuan pendidikan, pekerjaan, hingga tempat tinggal yang layak.

Salah satu langkah yang disiapkan adalah penempatan sementara keluarga tersebut di rumah singgah milik pemprov sambil menunggu proses koordinasi lanjutan terkait bantuan hunian.

“Untuk sementara akan kami tempatkan di rumah singgah milik pemprov terlebih dahulu, sambil menunggu regulasi terkait penanganan rumahnya,” katanya.

Terkait rencana perbaikan rumah atau bedah rumah, ia menyebut hal tersebut masih menjadi kewenangan pemerintah kota, sehingga diperlukan koordinasi lintas instansi.

“Bedah rumah itu ranah pemerintah kota terlebih dahulu, sehingga perlu komunikasi antara Dinas Sosial dan pihak kota untuk menentukan penanganan terbaik,” tambahnya.

Sebagai informasi, mereka sehari-hari tinghal di sebuah rumah kayu tua. Dindingnya berlubang,lantainya rapuh, sementara atap bocor membuat air hujan bebas menetes hingga membasahi kasur tempat  penghuninya tidur setiap malam.

[RWT] 



Berita Lainnya