Daerah
Insiden Tongkang Senggol Jembatan Mahulu, Satpolairud Polresta Samarinda Periksa 13 Saksi
SAMARINDA, Kaltimtoday.co - Satuan Polisi Perairan dan Udara (Satpolairud) Polresta Samarinda tengah bergerak cepat menyelidiki insiden hanyutnya kapal tongkang yang menyenggol pilar Jembatan Mahakam Ulu (Mahulu) pada Minggu (25/1/2026) pagi. Hingga saat ini, sebanyak 13 saksi telah dimintai keterangan guna mengungkap penyebab pasti kecelakaan tersebut.
Kasatpolairud Polresta Samarinda, Kompol Rachmat Ari Bowo, menjelaskan bahwa pihaknya langsung melakukan olah Tempat Kejadian Perkara (TKP) sesaat setelah menerima laporan pada pukul 06.30 WITA. Penyelidikan difokuskan pada kronologi lepasnya kendali tongkang di perairan Sungai Mahakam.
“Begitu mendapat informasi, kami langsung ke lokasi untuk olah TKP. Proses penyelidikan masih berjalan dinamis dan sudah ada sekitar 13 orang saksi yang kami periksa untuk mendalami peristiwa ini,” ujar Kompol Rachmat pada Senin (26/1/2026).
Berdasarkan temuan awal di lapangan, tongkang BG Marine Power 3066 diduga kehilangan kendali saat sedang berada di buoy tambat. Insiden bermula ketika tali buoy tersebut putus akibat tersenggol kapal lain, sehingga tongkang terlepas dan hanyut mengikuti derasnya arus sungai.
“Tongkang lepas kontrol, kemudian menghantam fender pengaman terlebih dahulu sebelum akhirnya menyenggol bagian pilar jembatan,” jelasnya lebih lanjut.
Selain aspek teknis, Satpolairud juga memberikan klarifikasi tegas terkait isu keterlibatan oknum aparat dalam rekaman komunikasi yang sempat beredar luas. Kompol Rachmat memastikan bahwa berdasarkan hasil klarifikasi, tidak ditemukan adanya keterlibatan oknum aparat sebagaimana spekulasi yang berkembang di masyarakat.
Pihak yang terekam dalam komunikasi tersebut diketahui merupakan warga setempat berinisial D. Yang bersangkutan telah dimintai keterangan dan menjelaskan bahwa dirinya hanya dimintai bantuan oleh nakhoda kapal untuk membantu pengamanan sementara selama proses tambat berlangsung.
“Kami sudah memanggil pihak-pihak terkait untuk klarifikasi. Hasilnya, tidak ada keterlibatan oknum. Warga berinisial D tersebut murni dimintai tolong oleh nakhoda untuk menjaga keamanan di area tambat,” tegas Kompol Rachmat.
Saat ini, kepolisian terus melakukan koordinasi intensif dengan sejumlah instansi teknis seperti Kantor Kesyahbandaran dan Otoritas Pelabuhan (KSOP), Pelindo, hingga Dinas Pekerjaan Umum (PU). Kerja sama lintas instansi ini bertujuan untuk mendalami kelayakan fasilitas tambat serta mengevaluasi titik-titik aman pelayaran di sekitar infrastruktur jembatan.
“Untuk detail teknis mengenai kondisi tali buoy dan aturan jarak tambat, kami akan berkoordinasi dengan KSOP serta Pelindo karena hal itu memerlukan keahlian khusus di bidang kemaritiman,” pungkasnya.
[TOS]
Related Posts
- Pagu Naik Jadi Rp150 Juta per RT, Bupati Kukar Luncurkan Program RT-Ku Terbaik
- Overkapasitas Pasien, Pemprov Kaltim Evaluasi RSUD AWS dan Siapkan Gedung Baru
- Demi Jamin Kepastian Harga Tandan Buah Segar, Dinas Perkebunan Kaltim Desak Petani Sawit Jalin Kemitraan
- Melalui Penerbangan Langsung ke Tiongkok, Ekspor Perikanan Segar Kaltim Capai 56 Ton per Bulan
- Pemprov Kaltim Buka Lowongan Komisaris Independen dan Direksi di Empat BUMD, Simak Syaratnya









