Opini

Jangan Hanya Merekam, Jadilah Penolong Pertama

Kaltim Today
20 Juli 2026 12:22
Jangan Hanya Merekam, Jadilah Penolong Pertama
Rinnelya Agustien.

Oleh : Rinnelya Agustien (Dosen Program Studi Keperawatan Anestesiologi Politek Borneo Medistra)

“Apa yang akan Anda lakukan apabila menemukan seseorang tergeletak di jalan?” Pertanyaan tersebut menjadi pembuka pelatihan Bantuan Hidup Dasar (BHD) yang diselenggarakan di Panti Asuhan Aisyiyah 2 Balikpapan pada hari Sabtu, 18 Juli 2026.  Sejumlah peserta menjawab akan segera menolong, tetapi ada pula yang berseloroh ingin merekam kejadian tersebut dengan telepon genggam.

Jawaban spontan tersebut menggambarkan kondisi yang belakangan semakin sering ditemukan: ketika seseorang tergeletak tidak sadarkan diri di ruang publik, banyak orang di sekitarnya justru sibuk merekam menggunakan ponsel, alih-alih memberikan pertolongan atau menghubungi ambulans.

Padahal, pada kasus henti jantung atau korban yang tidak sadarkan diri, setiap detik sangat berharga. Pertolongan yang diberikan pada beberapa menit pertama dapat menentukan apakah korban masih memiliki peluang untuk bertahan hidup.

Persoalannya, sebagian besar masyarakat sesungguhnya bukan tidak peduli. Mereka ingin membantu, tetapi tidak mengetahui apa yang harus dilakukan. Ketakutan melakukan kesalahan pada akhirnya membuat banyak orang memilih menjadi penonton.

Data survei Palang Merah Indonesia (PMI) mencatat hanya sekitar 25 persen masyarakat yang memiliki pengetahuan dasar mengenai pertolongan pertama. Minimnya edukasi di kalangan nonmedis membuat kesadaran dan keterampilan resusitasi jantung paru (RJP) di Indonesia masih tertinggal dibandingkan dengan negara-negara maju. Padahal, World Risk Report menempatkan Indonesia sebagai salah satu negara paling rawan bencana di dunia, sementara kesadaran akan BHD di ruang publik belum merata.

Rendahnya Pemahaman di Kalangan Remaja

Kondisi tersebut juga terlihat di kalangan remaja, yang pemahamannya mengenai bantuan hidup dasar masih sangat rendah. Padahal, organisasi kesehatan dunia seperti European Resuscitation Council dan Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) merekomendasikan agar anak sekolah mulai memperoleh pelatihan RJP sejak usia 12 tahun dan materi tersebut dimasukkan ke dalam kurikulum (Böttiger & Van Aken, 2015).

Kompetensi anak usia sekolah dalam berperan sebagai bystander RJP mencakup tiga hal, yaitu mengenali tanda henti jantung, memanggil layanan gawat darurat medis (Emergency Medical Service/EMS), dan melakukan RJP sesuai instruksi hingga petugas kesehatan tiba di lokasi kejadian (Zenani dkk., 2022).

Temuan tersebut turut didukung oleh penelitian Putri dkk., yang menunjukkan bahwa pelatihan RJP dengan konsep Bantuan Hidup Dasar mampu meningkatkan pengetahuan peserta secara signifikan, sekalipun diberikan kepada orang awam. Senada dengan itu, penelitian Fabriana dkk. (2018) turut mencatat adanya pengaruh signifikan terhadap pengetahuan siswa sekolah menengah atas di Karanganom, Klaten, setelah mengikuti pelatihan RJP.

Pengalaman Pertama Melatih Remaja

Berbekal temuan-temuan penelitian tersebut, dua dosen dari Program Studi Sarjana Terapan Keperawatan Anestesiologi, Politeknik Borneo Medistra, menyelenggarakan kegiatan Pengabdian kepada Masyarakat (PKM) berupa pelatihan bantuan hidup dasar bagi remaja yang diadakan di Panti Asuhan Aisyiyah 2 Balikpapan.  Pelatihan ini menjadi pengalaman pertama bagi tim pengajar untuk melatih peserta remaja yang sebagian besar masih awam mengenai RJP. Sebanyak 18 anak anak di Panti Asuhan menyimak dengan antusias dari awal sampai akhir. 

Sesi pelatihan dibuka dengan  kasus-kasus kecelakaan yang kerap menyebabkan korban tidak sadarkan diri, dilanjutkan dengan pertanyaan mengenai apa yang akan dilakukan peserta apabila menemukan korban tergeletak. Dari jawaban-jawaban yang muncul, seluruh peserta menyatakan ingin menolong, tetapi tidak mengetahui caranya.

Jawaban tersebut menjadi pengingat bahwa pada dasarnya setiap orang memiliki kepedulian terhadap sesama. Yang kerap kali kurang hanyalah bekal pengetahuan dan keberanian. Oleh karena itu, edukasi Bantuan Hidup Dasar dinilai penting untuk mengisi kesenjangan tersebut, dan tidak perlu diawali dengan teori medis yang rumit. Materi yang diberikan pun sengaja tidak melebar ke pembahasan anatomi jantung, melainkan difokuskan pada langkah pertolongan pertama saat menemukan korban tidak sadar, yaitu apa yang harus dilakukan dan bagaimana cara melakukannya.

Dari Mengamankan Diri hingga Kompresi Dada

Pelatihan difokuskan pada kemampuan penolong dalam mengamankan diri, pasien, dan lingkungan sekitar terlebih dahulu, sebelum memeriksa kesadaran pasien dan segera meminta bantuan orang di sekitar untuk memanggil ambulans. Peserta kemudian diajarkan teknik look-listen-feeluntuk memeriksa pernapasan, dilanjutkan dengan kompresi dada yang menjadi inti dari kegiatan BHD.

Figure 1: Pelatihan BHD di Panti Asuhan Aisyiyah 2 Balikpapan (sumber: dokumentasi pribadi)

Dalam sesi praktik, peserta diajarkan posisi berlutut saat melakukan kompresi dada, posisi tangan, area yang harus ditekan, teknik kompresi, hingga hitungan yang tepat. Latihan tersebut dilakukan dengan bimbingan langsung narasumber dan menggunakan manekin khusus RJP.

Peserta diminta mencoba kompresi dada hingga mampu menyalakan indikator lampu berwarna kuning pada manekin sebagai tanda bahwa teknik yang dilakukan sudah tepat. Sebagian besar peserta merupakan remaja berusia di atas 12 tahun dan mampu menyerap seluruh materi yang disampaikan narasumber. Menariknya, sejumlah anak kelas 2 dan kelas 5 sekolah dasar turut menyimak dan bersedia mencoba kompresi dada, yang membuktikan bahwa materi bantuan hidup dasar dapat disosialisasikan mulai dari anak-anak hingga orang dewasa.

Meskipun tenaga mereka belum sekuat orang dewasa, mereka telah memahami bahwa ketika menemukan korban, mereka dapat meminta bantuan orang dewasa atau segera menghubungi layanan kegawatdaruratan. Kesadaran seperti inilah yang perlu ditanamkan sejak dini.

Pentingnya Budaya Saling Menolong

Pengalaman tersebut membuktikan bahwa Bantuan Hidup Dasar bukan keterampilan yang sulit dipelajari. Semakin dini seseorang dikenalkan dengan BHD, semakin besar pula peluang terbentuknya budaya saling menolong di tengah masyarakat.

Pelatihan Bantuan Hidup Dasar dinilai perlu tidak hanya diberikan kepada tenaga kesehatan, tetapi juga menjadi bagian dari pendidikan di sekolah, organisasi kepemudaan, komunitas, hingga lingkungan tempat tinggal. Semakin banyak warga yang mampu memberikan pertolongan pertama, semakin besar pula peluang korban untuk bertahan hidup sebelum mendapatkan penanganan medis.

Di era ketika hampir setiap orang membawa telepon pintar dalam genggamannya, diharapkan yang semakin banyak direkam bukan hanya peristiwa kecelakaan, melainkan juga semakin banyak tangan yang terampil memberikan pertolongan. Sebab pada akhirnya, Bantuan Hidup Dasar bukan sekadar materi pelatihan, melainkan keterampilan hidup yang wajib dikuasai setiap orang.

Seseorang mungkin tidak pernah mengetahui kapan akan menjadi saksi pertama sebuah keadaan darurat. Namun, ketika saat itu tiba, pengetahuan dan keterampilan BHD dapat menjadi pembeda antara kehilangan satu nyawa dan memberikan seseorang kesempatan untuk tetap hidup.(*)

*) Opini penulis ini merupakan tanggung jawab penulis seperti tertera, tidak menjadi bagian tanggung jawab redaksi kaltimtoday.co


Related Posts


Berita Lainnya