Kaltim
Industri Maritim di Laut Kukar, dari Efisiensi Usaha hingga Akses Kerja Warga
TENGGARONG, Kaltimtoday.co - Setiap tongkang yang membawa batu bara menuju laut turut menggerakkan rantai ekonomi. Aktivitas ini melibatkan perusahaan pelayaran, bongkar muat, tenaga kerja, transportasi, hingga logistik penunjang.
Namun, ketika kegiatan itu berlangsung di perairan Kutai Kartanegara (Kukar), pertanyaan publik yang paling mengemuka adalah seberapa besar manfaat yang benar-benar diterima oleh masyarakat lokal.
Pertanyaan ini relevan karena Kukar tidak hanya berstatus sebagai daerah penghasil batu bara. Perairannya juga menjadi bagian vital dari jalur pengangkutan dan bongkar muat komoditas tersebut.
Salah satu titik krusial berada di ship-to-ship transfer (STS) Muara Jawa, yakni lokasi perairan tempat pemindahan muatan dari tongkang ke kapal kargo berukuran lebih besar.
Pada 26 Oktober 2019, kegiatan bongkar muat di STS Muara Jawa kembali aktif setelah sekitar 12 tahun tidak digunakan. Momentum itu ditandai oleh beroperasinya kapal curah MV Antoine.
Kaltim Post saat itu mencatat Loies Subowo Saminanto sebagai investor pertama yang memilih kembali melakukan aktivitas bongkar muat di lokasi tersebut. Pilihan itu didasarkan pada pertimbangan jarak, efisiensi biaya dan waktu, serta keselamatan pelayaran.
Lokasi STS Muara Jawa dinilai lebih dekat ketimbang STS Muara Berau bagi aktivitas pelayaran yang berasal dari kawasan selatan dan tengah Kukar.
“Keberadaan STS Muara Jawa memang lebih efisien,” kata Loies saat menjelaskan pertimbangannya.
Perbandingan dari para pelaku usaha menunjukkan perjalanan menuju STS Muara Jawa dapat ditempuh dalam hitungan setengah hari. Sementara itu, perjalanan menuju STS Muara Berau dari Samarinda membutuhkan waktu hingga dua hari dua malam.
Perbedaan jarak tersebut berpengaruh signifikan terhadap tingkat konsumsi bahan bakar, jam kerja kapal, hingga biaya operasional. Efisiensi inilah yang membuat STS Muara Jawa kembali diperhitungkan oleh pelaku industri.
Kantor Unit Penyelenggara Pelabuhan (KUPP) Kuala Samboja kala itu juga mengonfirmasi bahwa kondisi perairan STS Muara Jawa sangat mendukung. Berada di sekitar Delta Mahakam, lokasi ini relatif terlindung dari perubahan arah angin ekstrem.
Wilayah kerja tersebut didukung berita acara serah terima operasional antara KSOP Kelas II Samarinda dan KUPP Kelas III Kuala Samboja pada 2016, serta surat Ditjen Perhubungan Laut mengenai pemindahan lokasi STS dari Muara Berau ke Muara Jawa.
Meski demikian, beroperasinya titik bongkar muat tidak otomatis menjamin seluruh manfaat ekonomi terserap oleh warga sekitar. Dampak riilnya sangat bergantung pada tingkat keterlibatan tenaga kerja, badan usaha, koperasi, dan jasa penunjang lokal.
Aktivitas pelabuhan memicu kebutuhan akan pekerja bongkar muat, pengawas lapangan, operator, awak kapal pendukung, hingga penyedia konsumsi dan logistik. Karena itu, tolok ukur kesuksesan industri maritim wajib memperhitungkan jumlah lapangan kerja yang tercipta bagi daerah.
Perkembangan lain muncul di pesisir utara Kukar. Pada 6 Agustus 2025, Koperasi Tenaga Kerja Bongkar Muat (TKBM) Muara Berau Asli resmi diluncurkan di Desa Semangko, Kecamatan Marangkayu.
Koperasi ini dibentuk untuk memperbesar akses masyarakat pesisir terhadap pekerjaan bongkar muat dalam wilayah pelayanan KUPP Tanjung Santan, setelah melalui proses inisiasi sejak 2020.
Pengurus menargetkan keterlibatan awal 250 tenaga kerja dari Marangkayu, Muara Badak, dan sekitarnya, dengan 70 orang di antaranya diprioritaskan berasal dari Desa Semangko. Realisasi target ini bergantung pada volume bongkar muat dan kesiapan tenaga kerja.
Kepala KUPP Tanjung Santan menegaskan bahwa koperasi tersebut telah lolos verifikasi dan akan dievaluasi secara berkala agar pengoperasiannya tetap sesuai aturan serta memprioritaskan warga lokal.
Berbeda dengan STS Muara Jawa, Tanjung Santan merupakan simpul pelayanan pelabuhan di kawasan utara Kukar. Namun, keduanya memperlihatkan besarnya potensi kegiatan maritim di sepanjang pesisir daerah tersebut.
Perkembangan di Muara Jawa di bagian selatan serta Marangkayu dan Tanjung Santan di utara dapat menjadi cikal bakal penguatan industri maritim yang merata di Kutai Kartanegara.
Potensi ini sejalan dengan kondisi geografis Kukar. Data Pemkab Kukar mencatat daerah ini memiliki garis pantai terpanjang di Kalimantan Timur, yakni mencapai 1.571 kilometer dari total 3.776 kilometer garis pantai provinsi.
Selain itu, Kukar dilintasi Sungai Mahakam sepanjang 920 kilometer yang menjadi urat nadi transportasi komoditas. Dengan bentang alam tersebut, industri maritim semestinya mampu membuka lapangan kerja, meningkatkan keterampilan, dan menghidupkan usaha lokal.
Langkah investor memanfaatkan kembali STS Muara Jawa dan pembentukan koperasi TKBM di utara menunjukkan besarnya peluang ekonomi yang bisa digarap.
Pada akhirnya, indikator keberhasilan industri maritim tidak sekadar diukur dari volume komoditas yang berpindah di laut, tetapi dari jumlah warga yang bekerja serta roda ekonomi lokal yang berputar di Kutai Kartanegara.
[TOS]
Related Posts
- Kaltim Raih Penghargaan Akses Pendidikan Terbaik, Mahasiswa Asal Paser Ukir Prestasi
- Listrik Sering Padam Bergilir, Komisi III DPRD Samarinda Bakal Panggil Manager PLN
- UMKT Luluskan 720 Wisudawan, Rektor Ingatkan Tantangan Dunia Kerja Makin Dinamis
- Karhutla di Samarinda Meluas Dekati Runway Bandara APT Pranoto
- Usut 47 Kasus Karhutla di Kaltim, Polisi Tetapkan 16 Orang Jadi Tersangka









