Gaya Hidup

Kebiasaan Tidur Seperti Ini Ternyata Bisa Picu Kerusakan Otak

Kaltim Today
20 Mei 2026 17:42
Kebiasaan Tidur Seperti Ini Ternyata Bisa Picu Kerusakan Otak
Ilustrasi tidur. (Freepik)

Kaltimtoday.co - Tidur memegang peran yang sangat krusial dalam menjaga kesehatan tubuh secara menyeluruh. Kualitas tidur yang baik secara linear akan memberikan dampak positif pada kebugaran fisik dan fungsi kognitif seseorang.

Sebaliknya, kebiasaan abai terhadap durasi dan kualitas tidur dapat memberikan efek buruk yang fatal, bahkan mampu memicu kerusakan struktural pada otak.

Mengenal 4 Tahapan Tidur Manusia

Melansir data dari laman Health Harvard, siklus tidur manusia terbagi menjadi beberapa tahapan penting yang memengaruhi proses pemulihan biologis:

  • Tahap 1 (Fase Transisi): Fase di mana seseorang berada di antara keadaan terjaga dan tertidur. Tidur pada tahap ini sangat ringan dan sangat mudah terganggu oleh stimulus luar.
  • Tahap 2 (Fase Ringan): Detak jantung dan frekuensi pernapasan mulai melambat. Seseorang pada fase ini mulai kehilangan kesadaran terhadap lingkungan sekitar.
  • Tahap 3 (SWS - Slow Wave Sleep): Merupakan fase tidur nyenyak (deep sleep). Tekanan darah menurun drastis dan otot-otot tubuh menjadi rileks. Pada fase inilah jaringan tubuh beregenerasi dan hormon pertumbuhan dilepaskan.
  • Tahap 4 (REM - Rapid Eye Movement): Fase terdalam di mana aktivitas otak meningkat dan mimpi terjadi. Pernapasan menjadi lebih cepat dan dangkal, disertai gerakan bola mata yang cepat ke segala arah. Fase ini krusial untuk penataan memori.

Kebiasaan Tidur Keliru yang Memicu Neurodegenerasi

Sebuah studi ilmiah terbaru berhasil menemukan korelasi kuat antara kebiasaan tidur yang salah dengan risiko kerusakan otak. Kurangnya durasi tidur pada dua fase esensial, yaitu tidur nyenyak (SWS) dan tidur REM, diduga kuat mempercepat penyusutan (atrofi) volume otak yang berkaitan langsung dengan penyakit Alzheimer.

"Kami menemukan bahwa volume bagian otak yang disebut daerah parietal inferior menyusut pada individu yang kekurangan fase tidur lambat dan tidur REM," ungkap peneliti utama, Cho, dikutip dari CNN.

Bagian otak parietal inferior berfungsi mensintesis informasi sensorik, termasuk kemampuan visuospasial, sehingga sangat rentan mengalami neurodegenerasi sejak dini jika kualitas tidur memburuk.

Ahli saraf preventif asal Amerika Serikat, Richard Isaacson, menambahkan bahwa metrik tidur yang buruk pada fase deep sleep sangat akurat dalam memprediksi penurunan fungsi kognitif (daya ingat) seseorang di masa depan.

Selama fase tidur nyenyak, otak secara aktif membersihkan racun sisa metabolisme dan sel-sel mati (glynphatic system). Sementara pada fase REM, otak sibuk memproses emosi, mengonsolidasikan ingatan, serta menyerap informasi baru.

Fase tidur nyenyak umumnya dominan di awal malam setelah seseorang terlelap, sedangkan tidur REM lebih banyak muncul menjelang pagi hari. Akibatnya, kebiasaan tidur larut malam (begadang) dan bangun terlalu pagi secara otomatis memangkas peluang tubuh untuk mencapai kedua tahapan krusial tersebut.

Cara Praktis Mengukur Kualitas Tidur

Spesialis Penyakit Dalam, dr. Ray Rattu, Sp.PD, memaparkan cara sederhana untuk memantau kualitas tidur harian, salah satunya dengan memanfaatkan fitur sleep tracker pada jam tangan pintar (smartwatch).

"Lewat perangkat tersebut, kita bisa memantau stabilitas aktivitas metabolisme dan penurunan denyut jantung (heart rate) saat terlelap," jelas dr. Ray.

Ia menambahkan, jika denyut jantung berhasil turun secara konsisten di bawah 60 kali per menit saat tidur, hal itu menjadi indikator valid bahwa tubuh telah berhasil memasuki fase deep sleep dan beristirahat secara total. Sebaliknya, jika denyut jantung tetap bertahan di atas 80 kali per menit saat tidur, kondisi tersebut menandakan tubuh sedang mengalami stres psikologis tinggi atau gejala demam.

Informasi lain terkait lingkungan bisa kunjungi dlh-baritoutara.aisyiyahduri.sch.id untuk meningkatkan pemahaman Anda.



Berita Lainnya