Daerah

Kebocoran Air Tinggi, Perumda Tirta Mahakam Fokus Benahi Pipa dan Aliran Air ke Pelanggan

M Jaini Rasyid — Kaltim Today 20 Januari 2026 13:31
Kebocoran Air Tinggi, Perumda Tirta Mahakam Fokus Benahi Pipa dan Aliran Air ke Pelanggan
Ilustrasi. (Istimewa)

Kaltimtoday.co, Tenggarong - Kebocoran air bersih yang masih berada di kisaran 40–42 persen membuat Perumda Tirta Mahakam memprioritaskan penurunan non-revenue water (NRW) pada 2026. Selain menggerus potensi pendapatan perusahaan, kondisi ini turut mengganggu kontinuitas aliran ke pelanggan. Angkanya juga jauh di atas standar nasional yang dipatok sekitar 25 persen.

Direktur Utama Perumda Tirta Mahakam, Suparno, menjelaskan bahwa NRW merupakan selisih antara volume air yang diproduksi dengan volume yang tercatat di pelanggan. Selisih ini sebagian besar disebabkan oleh kebocoran di jaringan perpipaan, sambungan rumah, hingga gangguan teknis lainnya. 

“Kebocoran air berarti potensi pendapatan yang seharusnya bisa diperoleh perusahaan tidak masuk,” ujarnya.

Secara teknis, kebocoran membuat tekanan air di jaringan distribusi menurun. Ketika tekanan turun, aliran ke pelanggan tidak bisa mengalir optimal dan kontinuitas layanan terganggu. 

Pada beberapa titik jaringan, air bisa tidak mengalir selama jam tertentu meski pasokan produksi masih tersedia. Kondisi inilah yang menghambat peningkatan cakupan layanan 24 jam.

Suparno menyebutkan, tingginya NRW juga dapat memperbesar beban operasional. Semakin banyak air yang hilang sebelum tercatat, semakin besar energi dan biaya produksi yang keluar tanpa imbal balik. 

“Ini yang membuat penanganan NRW menjadi target utama pada semester awal tahun ini,” katanya.

Untuk mengejar standar nasional, Perumda Tirta Mahakam menggandeng pihak ketiga yang memiliki pengalaman dalam penurunan NRW. 

Langkah ini ditempuh melalui survei jaringan, pemasangan alat ukur, hingga penggunaan teknologi berbasis artificial intelligence (AI) untuk mendeteksi titik kebocoran. Teknologi tersebut membantu mempercepat identifikasi lokasi kerusakan tanpa harus melakukan penggalian berulang.

Dukungan serupa juga datang dari Bupati Kukar Aulia Rahman Basri yang menilai, penanganan NRW adalah bagian penting dari upaya meningkatkan pelayanan dasar.

“Setiap kebocoran air itu setara dengan potensi pendapatan yang seharusnya bisa diterima Perumda Tirta Mahakam,” katanya. 

Aulia berharap penurunan NRW bisa mencapai dua hingga tiga persen dalam waktu dekat.

“Targetnya, semakin banyak pelanggan yang mendapatkan aliran tanpa gangguan, sejalan dengan upaya penurunan kebocoran dan peningkatan tekanan air di jaringan.” pungkasnya.

[RWT]



Berita Lainnya