Nasional

Kurs Rupiah Cetak Rekor Terlemah, Pemerintah Hitung Ulang Skema Subsidi Energi

Kaltim Today
15 Mei 2026 07:25
Kurs Rupiah Cetak Rekor Terlemah, Pemerintah Hitung Ulang Skema Subsidi Energi
Kementerian ESDM tengah memantau ketat pergerakan nilai tukar rupiah terhadap dolar AS yang menembus angka Rp 17.500 serta dampaknya terhadap beban subsidi energi. (Foto: Kementerian ESDM)

JAKARTA, Kaltimtoday.co - Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) tengah mengkaji dampak pelemahan nilai tukar rupiah yang menembus level Rp 17.500 per dollar AS. Kajian ini difokuskan pada pengaruh stabilitas kurs terhadap skema subsidi energi nasional.

Berdasarkan data pasar spot pada awal perdagangan Rabu (13/5/2026), rupiah tercatat berada di level Rp 17.515 per dollar AS. Sehari sebelumnya, Selasa (12/5/2026), mata uang Garuda ditutup pada posisi Rp 17.529 per dollar AS, yang menjadi level pelemahan terdalam sepanjang sejarah.

Direktur Jenderal Minyak dan Gas Bumi (Migas) Kementerian ESDM, Laode Sulaeman, menyatakan bahwa pelemahan rupiah kini menjadi perhatian khusus jajaran menteri ekonomi Kabinet Merah Putih. Menteri ESDM Bahlil Lahadalia disebut tengah menggelar rapat intensif untuk membahas dampak kurs terhadap sektor energi.

“Itu kebetulan Pak Menteri (ESDM) sama jajaran menteri-menteri sedang merapatkan hal tersebut ya. Jadi kita tunggu saja,” ujar Laode saat ditemui di kantor Kementerian ESDM, Jakarta, Rabu (13/5/2026).

Meskipun rupiah terus mengalami tekanan, Laode menegaskan hingga saat ini belum ada keputusan terkait kemungkinan penyesuaian harga bahan bakar minyak (BBM) subsidi untuk bulan depan. Ia memastikan kebijakan harga masih mengacu pada aturan yang berlaku saat ini.

Menurut Laode, pemerintah masih memantau dinamika pasar sebelum mengambil langkah lebih lanjut. “Kan belum ada info-info lain lagi selain yang ada sekarang. Jadi kita lihat perkembangan berikutnya saja nanti,” tuturnya.

Tekanan terhadap kurs rupiah dan kenaikan biaya energi global memang berpotensi memberikan beban tambahan pada anggaran subsidi pemerintah. Namun, pemerintah sebelumnya telah berkomitmen untuk menjaga stabilitas harga BBM subsidi setidaknya hingga akhir tahun 2026.

Komitmen tersebut diputuskan setelah Menteri ESDM Bahlil Lahadalia bertemu Presiden Prabowo Subianto di Istana Negara pada April lalu. Saat itu, pemerintah sepakat tidak menaikkan harga BBM subsidi dengan pertimbangan kondisi pasokan energi nasional yang masih terkendali.

Dalam keterangan resminya, Bahlil menegaskan bahwa stok energi nasional mulai dari solar, bensin, hingga LPG berada di atas standar minimum. Hal ini menjadi dasar pemerintah untuk tetap mempertahankan harga di tengah gejolak pasar global dan konflik geopolitik.

“Insya Allah stok kita di atas standar minimum, baik itu solar, baik itu bensin, maupun LPG. Insya Allah aman, dan sekali lagi saya katakan bahwa kami sudah bersepakat atas arahan Bapak Presiden, bahwa harga BBM untuk subsidi tidak akan dinaikkan sampai dengan akhir tahun,” ucap Bahlil.

[TOS]



Berita Lainnya