Daerah

Langit Kalimantan Berubah Merah Akibat Karhutla, Pakar IPB Jelaskan Proses Sainsnya

Network — Kaltim Today 21 September 2026 12:59
Langit Kalimantan Berubah Merah Akibat Karhutla, Pakar IPB Jelaskan Proses Sainsnya
Kebakaran hutan dan lahan (karhutla). (Beritasatu.com)

Kaltimtoday.co - Bencana kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang melanda sejumlah wilayah di Indonesia, khususnya Kalimantan, tidak hanya memicu penurunan kualitas udara dan jarak pandang, tetapi juga memicu fenomena visual berupa langit dan Matahari yang tampak berwarna merah pekat hingga jingga.

Dosen Departemen Geofisika dan Meteorologi IPB University, dr Givo Alsepan, menjelaskan bahwa perubahan warna langit tersebut merupakan hasil interaksi optik antara partikel asap dengan spektrum cahaya Matahari di atmosfer. Keberadaan partikel hasil pembakaran berfungsi layaknya penyaring cahaya alami.

"Sederhananya, asap bertindak seperti filter optik alami. Sebagian cahaya matahari dihamburkan dan diserap oleh partikel asap, sehingga cahaya yang sampai ke mata kita relatif lebih kaya warna merah dan jingga," terang Givo, Senin (21/9/2026).

Secara fisika atmosfer, molekul udara normal cenderung menghamburkan gelombang pendek seperti cahaya biru melalui proses hamburan rayleigh, yang membuat langit siang hari lazimnya terlihat biru. Namun, lonjakan konsentrasi aerosol pekat—seperti jelaga, abu, dan material organik hasil karhutla—membuat hamburan cahaya biru terjadi jauh lebih masif, sementara gelombang panjang berupa warna merah dan jingga diteruskan menembus lapisan partikel hingga tertangkap mata pengamat.

Efek visual kemerahan ini kian tajam saat pagi dan sore hari karena sudut datang cahaya Matahari harus melewati lintasan lapisan atmosfer yang jauh lebih tebal sebelum menyentuh permukaan bumi. Kendati demikian, Givo mengingatkan bahwa warna kemerahan di angkasa tidak serta-merta menjadi indikator tunggal tingginya konsentrasi polutan PM2.5 di permukaan tanah.

"Semakin panjang lintasan cahaya di atmosfer, semakin besar peluang cahaya berinteraksi dengan molekul udara dan aerosol. Karena itu, warna merah atau jingga biasanya lebih kuat pada pagi dan sore hari. Jadi, warna matahari tidak bisa dijadikan satu-satunya alat ukur kualitas udara," tambahnya.

Berdasarkan data SiPongi Kementerian Kehutanan (Kemenhut) per Minggu (20/9/2026) malam, titik panas (hotspot) dengan tingkat kepercayaan tinggi di Indonesia tercatat mencapai 1.532 titik. Kalimantan Tengah mendominasi sebaran tertinggi dengan 968 titik, disusul Sumatera Selatan 285 titik, Kalimantan Barat 98 titik, Kalimantan Selatan 39 titik, Jambi 26 titik, dan Riau 1 titik.

Guna mengendalikan eskalasi api di lapangan, pemerintah telah mengerahkan 54.394 personel gabungan serta 64 armada pesawat dan helikopter untuk operasi pengeboman air (water bombing), patroli udara, dan operasi modifikasi cuaca (OMC).

Sementara itu, BMKG mencatat kondisi kemarau kering diperparah oleh anomali El Niño kuat yang diprediksi bertahan hingga awal 2027. Selain itu, terdapat 1.637 titik yang mengalami hari tanpa hujan ekstrem lebih dari 60 hari berturut-turut, khususnya di wilayah selatan Indonesia termasuk Kalimantan bagian selatan, sehingga masyarakat diimbau tetap mengenakan masker pelindung dan tidak menatap langsung piringan Matahari yang tertutup kabut asap guna mencegah kerusakan retina. 

[RWT] 



Berita Lainnya