Daerah

Mandau Tak Lekang Zaman, Pengrajin Tenggarong Ini Sukses Pasarkan Karyanya hingga Luar Negeri

Supri Yadha — Kaltim Today 06 Juli 2026 07:01
Mandau Tak Lekang Zaman, Pengrajin Tenggarong Ini Sukses Pasarkan Karyanya hingga Luar Negeri
Perajin Mandau, Andryanus Fius saat berada di Dayak Gallery. (Supri/Kaltimtoday.co)

Kaltimtoday.co, Tenggarong - Di tengah gempuran produk modern, mandau tetap berdiri sebagai salah satu ikon budaya paling kuat yang dimiliki Kalimantan Timur (Kaltim). Senjata tradisional khas Dayak itu terus hidup melalui tangan-tangan pengrajin yang menjaga pakem sekaligus berinovasi mengikuti perkembangan pasar.

Setiap mandau lahir melalui proses panjang yang memadukan keterampilan mengukir, nilai budaya, hingga kepercayaan yang diwariskan secara turun-temurun. Tak heran jika sebuah mandau dapat memiliki nilai jual hingga puluhan juta rupiah.

Tak sedikit kolektor dari luar Kalimantan bahkan mancanegara rela menunggu lama demi mendapatkan mandau dengan ukiran terbaik. Tingginya permintaan itu menjadi bukti bahwa nilai mandau telah diakui jauh melampaui daerah asalnya.

Salah satu pengrajin yang terus menjaga eksistensi mandau ialah Andryanus Fius asal Kecamatan Tenggarong, Kabupaten Kutai Kartanegara (Kukar). Bakat mengukir diwarisinya dari keluarga. Kakek dan ayahnya sama-sama dikenal sebagai pembuat mandau.

Sejak kecil, Fius telah akrab dengan proses pembuatan mandau. Pengalaman itu menjadi bekal ketika ia mulai belajar mengukir saat duduk di bangku SMA. Kala itu, meski hasil ukirannya belum sedetail sekarang namun karya-karya tersebut kemudian dipasarkan melalui toko suvenir milik orang tuanya.

Beberapa tahun berselang, salah satu mandau yang dibuatnya saat SMA ternyata telah sampai ke Eropa. Ia mengetahui hal tersebut setelah seorang temannya mengunggah foto mandau tersebut dan menanyakan siapa pembuatnya.

Hasil karya Andryanus Fius. 

"Mandau yang saya buat waktu SMA itu sekarang ada yang sampai ke Eropa. Pernah ada teman mengunggah foto dan bertanya, 'Ini mandau buatan siapa?'. Pas saya lihat, ternyata itu mandau yang saya buat waktu SMA dulu," kata Fius kepada Kaltimtoday.co, Jumat (3/7/2026) malam.

Perjalanan menjadi pengrajin mandau tak selalu mulus. Fius sempat berhenti mengukir sejak kelas 3 SMA hingga menyelesaikan kuliah. Ia kemudian bekerja di salah satu instansi pemerintah di Kabupaten Kutai Barat sebelum akhirnya menikah dan pindah ke Tenggarong.

Kesulitan mencari pekerjaan membuatnya kembali melirik dunia ukir yang telah menjadi hobinya sejak kecil. Ia pun melihat media sosial sebagai peluang untuk memasarkan karya-karyanya.

"Waktu itu mencari pekerjaan cukup susah. Lalu saya berpikir, mengukir ini masih punya prospek yang bagus. Selain itu memang hobi saya juga. Saya juga berpikir, dengan adanya media sosial saya bisa mempromosikan karya di sana," ungkapnya.

Berbekal toko suvenir milik istrinya di Museum Mulawarman Tenggarong, Fius mulai menjual mandau melalui Facebook pribadinya. Saat itu, media sosial tersebut belum banyak dimanfaatkan sebagai sarana pemasaran kerajinan.

"Dulu Facebook masih ramai. Ternyata bisa berkembang karena yang jual masih sedikit. Setelah itu saya jual lewat YouTube, kemudian Instagram, dan sekarang lewat TikTok," sambungnya.

Selain mengandalkan penjualan secara daring, Fius kini tengah merintis “Dayak Gallery” sebuah galeri yang dikhususkan untuk memajang dan menjual berbagai jenis mandau, baik pakem maupun kreasi. Galeri yang masih dalam tahap penyelesaian itu berada di Jalan Triyu, Kelurahan Loa Ipuh, Kecamatan Tenggarong.

Pembangunan galeri tersebut berawal dari kebiasaan tamu atau kolektor yang kerap datang hingga larut malam ke toko suvenir di Museum Mulawarman untuk melihat koleksi mandau. Kondisi itu membuat dirinya dan keluarga harus bolak-balik menempuh perjalanan sekitar enam kilometer dari rumah.

"Akhirnya kami berpikir, lebih enak kalau bikin galeri di rumah. Kalau ada tamu datang jam 11 malam, jam 12 malam, atau jam 1 malam, kami tinggal buka galeri saja. Jadi mereka datang ke sini," tuturnya.

Di Dayak Galeri, pengunjung nantinya dapat melihat berbagai jenis mandau, mulai dari mandau pakem Suku Dayak Benuaq hingga mandau kreasi yang dibuat mengikuti selera pasar.

Menurut Fius, tidak semua kolektor menginginkan mandau yang benar-benar pakem sehingga ia tetap menghadirkan karya-karya kreasi tanpa meninggalkan nilai tradisinya.

Beberapa jenis mandau pakem yang tersedia di antaranya Mandau Hulu Kemau, Mandau Lamed Bauk dengan sarung tempos, serta Mandau Tunggur yang menggunakan sarung Besoli.

Harga mandau yang dijual pun bervariasi. Mandau bergagang kayu dibanderol mulai di atas Rp2 juta, sedangkan mandau bergagang tanduk dijual di atas Rp3 juta.

Selama menekuni usaha tersebut, Fius mengaku pernah menjual mandau seharga Rp65 juta. Bahkan, beberapa karya lain juga telah terjual di kisaran Rp40 juta.

"Ada mandau tua saya, dulu juga ada yang menawar Rp65 juta, tetapi tidak saya jual. Saya kemudian membuat lagi yang mirip seperti ini, dan itulah yang terjual Rp65 juta sekitar hampir 10 tahun lalu," ungkapnya.

Menurutnya, harga sebuah mandau tidak hanya ditentukan oleh tingkat kerumitan ukiran, tetapi juga cerita yang menyertai karya tersebut serta kepercayaan yang dibangun bersama para kolektor.

Selama belasan tahun memasarkan produknya secara daring, sebagian besar pembeli justru berasal dari luar Kalimantan. Sekitar 80 persen konsumennya berasal dari berbagai daerah di Indonesia, bahkan sejumlah kolektor dari luar negeri juga menjadi pelanggan.

"Kalau ke luar negeri juga sudah beberapa kali. Ini ada dua mandau yang belum dikirim ke Sarawak. Ada satu untuk pembeli Singapura. Barangnya sebenarnya sudah dibayar, nilainya hampir Rp30 juta. Dari Singapura ini sering beli mungkin lima sampai enam kali," katanya.

Meski dikenal sebagai pembuat mandau, Andryanus mengaku tidak mengerjakan seluruh proses produksi sendiri. Ia pernah belajar menempa, tetapi hanya untuk bilah berukuran kecil.

Kini, ia lebih fokus mengukir dan membuat sarung mandau, sementara bilahnya dipesan dari sesama perajin di Tenggarong, Kalimantan Selatan, maupun Kalimantan Tengah.

"Yang benar-benar saya tekuni adalah mengukir dan membuat sarung mandau. Jadi untuk bilahnya saya pesan kepada orang lain sesama perajin mandau," ucapnya.

Di balik kiprahnya melestarikan budaya tradisional, Andryanus berharap pemerintah dapat memberikan perhatian lebih kepada para pengrajin mandau. Menurutnya, hingga kini para pengrajin masih mengandalkan peralatan yang dibeli secara mandiri tanpa bantuan pemerintah.

Ia juga menyebut para pengrajin telah membentuk Persatuan Mandau Indonesia yang anggotanya terdiri dari pengukir, penempa, dan pembuat mandau, meski saat ini masih didominasi perajin dari Tenggarong.

"Harapan besar kami kepada pemerintah bisa membantu kami agar lebih berkembang dalam melestarikan budaya, khususnya mandau, sehingga tidak punah dan tetap lestari," pungkasnya.

[RWT] 



Berita Lainnya