Daerah

Masih Ketergantungan, Aulia Rahman Ungkap 70 Persen APBD Kukar Berasal dari DBH Batu Bara

Supri Yadha — Kaltim Today 11 Juni 2026 18:35
Masih Ketergantungan, Aulia Rahman Ungkap 70 Persen APBD Kukar Berasal dari DBH Batu Bara
Ilustrasi. (Kementerian ESDM)

Kaltimtoday.co, Tenggarong - Ketergantungan Kabupaten Kutai Kartanegara (Kukar) terhadap industri batu bara masih tergolong tinggi. Tidak hanya menjadi penggerak utama aktivitas ekonomi, sektor ini juga menjadi penyumbang terbesar pendapatan daerah yang digunakan untuk membiayai berbagai program pembangunan.

Bupati Kukar, Aulia Rahman Basri mengungkapkan, sektor penggalian dan pertambangan masih mendominasi struktur perekonomian Kukar. Kontribusinya bahkan mencapai lebih dari separuh total aktivitas ekonomi daerah.

Menurutnya, kondisi tersebut membuat dinamika industri batu bara memiliki pengaruh besar terhadap kondisi keuangan maupun pertumbuhan ekonomi Kukar.

“Kalau kita pahami, Kukar ini sekitar 62 persen perekonomiannya tergantung dari sektor penggalian dan pertambangan,” kata Aulia.

Ia menjelaskan, dominasi sektor tambang juga tercermin dari komposisi pendapatan daerah. Sebagian besar pendapatan yang masuk ke kas daerah masih berasal dari dana bagi hasil (DBH) batu bara yang disalurkan pemerintah pusat. 

“Kalau kita bicara APBD Kukar, sekitar 70 persen itu tergantung dari dana bagi hasil batu bara,” sambungnya.

Aulia menambahkan, mekanisme pembagian pendapatan dari sektor batu bara berbeda dengan minyak dan gas bumi.

Pada sektor migas, terdapat sejumlah komponen penghitungan seperti cost recovery sebelum pendapatan dibagikan kepada daerah.

Sementara pada sektor batu bara, pendapatan daerah diperoleh dari royalti yang dibayarkan berdasarkan jumlah produksi yang keluar dari wilayah Kutai Kartanegara.

Oleh karena itu, ketika produksi batu bara mengalami penurunan, dampaknya akan langsung terasa terhadap penerimaan daerah. Situasi tersebut dapat terjadi akibat berbagai faktor, termasuk pembatasan produksi melalui RKAB maupun kondisi pasar.

“Kalau batu bara itu murni royalti dari setiap metrik ton yang keluar dari Kabupaten Kukar. Tentu kalau seandainya produksi ini menurun, maka DBH kita semakin turun dan berakibat APBD kita menurun juga,” pungkasnya.

[RWT]



Berita Lainnya