Daerah

Krisis Air Mengintai Pertanian, 9 Kecamatan di Kukar Masuk Pemetaan Risiko Gagal Panen

Supri Yadha — Kaltim Today 12 Agustus 2026 19:59
Krisis Air Mengintai Pertanian, 9 Kecamatan di Kukar Masuk Pemetaan Risiko Gagal Panen
Ilustrasi. (Istimewa)

Kaltimtoday.co, Tenggarong - Puncak musim kemarau mulai mengancam sektor pertanian di Kabupaten Kutai Kartanegara (Kukar). Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kukar bersama tim terpadu kini memetakan dampak kekeringan di sembilan kecamatan yang berpotensi menyebabkan gagal panen.

Sekretaris BPBD Kukar, Aspianur Sandy mengatakan, pemetaan dilakukan untuk mengetahui kondisi riil lahan pertanian sekaligus menentukan bentuk penanganan yang paling dibutuhkan. Tim gabungan telah turun ke lapangan.

“Salah satu dampak turunan dari kemarau ini yang berdampak pada gagal panen. Dan mulai kemarin bersama tim kawan-kawan di satgas, kami mapping, kami survei, keperluan yang gagal panen itu di sembilan kecamatan,” kata Sandi, Rabu (12/8/2026).

Menurutnya, survei melibatkan lintas sektor terkait. Tim terpadu akan mengecek langsung wilayah yang terdampak kekeringan untuk memastikan kondisi tanaman, ketersediaan air, hingga kebutuhan intervensi di lapangan.

Sembilan kecamatan yang masuk dalam pemetaan tersebut yakni Marangkayu, Loa Janan, Anggana, Tenggarong, Tenggarong Seberang, Muara Kaman, Loa Kulu, Sebulu, dan Samboja.

Marangkayu menjadi salah satu wilayah yang sudah mendapat penanganan lebih awal. Dalam beberapa hari terakhir, tim membantu pengairan lahan pertanian yang terdampak kekeringan.

Sandi mengatakan, survei yang dilakukan sebelumnya telah menemukan titik sumber air yang dapat dimanfaatkan untuk membantu memenuhi kebutuhan pengairan tanaman. Sementara untuk delapan kecamatan lainnya, tim terpadu masih melakukan penilaian di lapangan. 

“Pemeriksaan tersebut mencakup kondisi lahan, tingkat kekeringan hingga kebutuhan masing-masing wilayah. Nanti itu sektor leading-nya, nanti itu Dinas Pertanian,” tuturnya.

BPBD dalam penanganan ini berperan sebagai unsur pendukung. Sementara strategi teknis penyelamatan tanaman dan pertanian akan ditentukan oleh Dinas Pertanian setelah memperoleh hasil pemetaan secara menyeluruh.

Sandi menyebut, hasil survei nantinya akan menjadi dasar untuk menentukan langkah jangka pendek, termasuk kebutuhan air maupun bentuk bantuan lainnya.

“Supporting tadi. Apa sih yang mereka perlukan, apa yang bisa kami lakukan untuk jangka pendek ini. Kami akan ada rencana hasil yang kami akan susun,” tambahnya.

Selain penanganan di tingkat kabupaten, BPBD juga menyebut terdapat usulan bantuan yang akan disampaikan ke Pemerintah Provinsi Kalimantan Timur (Kaltim). Salah satunya terkait penyediaan benih padi yang lebih sesuai untuk ditanam ketika kondisi musim kering.

Menurutnya, langkah tersebut penting untuk menjaga produktivitas pertanian Kukar yang selama ini menjadi salah satu daerah penyumbang produksi padi terbesar di Kaltim.

“Misalnya setelah ini menyelamatkan ini padi, misalnya sudah bisa panen, mungkin nanti ada bantuan yang dari provinsi. Itu tentang bibit yang memang padi, misalnya cocok untuk ditanam di saat musim kering ini,” jelasnya.

“Jadi kan secara harapnya memang kalau untuk bicara padi pun, kita ini Kukar salah satu penyumbang terbesar, ya,” kata Sandi mengakhiri.

[RWT] 



Berita Lainnya