Daerah
Menjaga Tradisi, Perajin Mandau Asal Tenggarong Sukses Tembus Pasar Eropa dan Asia
KUKAR, Kaltimtoday.co - Di tengah gempuran produk modern, senjata tradisional khas Dayak, mandau, tetap berdiri sebagai salah satu ikon budaya paling kuat yang dimiliki Kalimantan Timur (Kaltim). Eksistensi mandau terus hidup melalui tangan-tangan pengrajin yang konsisten menjaga pakem sekaligus berinovasi mengikuti perkembangan pasar.
Setiap mandau lahir melalui proses panjang yang memadukan keterampilan mengukir, nilai budaya, hingga kepercayaan yang diwariskan secara turun-temurun. Kondisi tersebut membuat sebilah mandau bernilai seni tinggi dan dapat memiliki nilai jual hingga puluhan juta rupiah.
Kolektor dari luar Kalimantan bahkan mancanegara dilaporkan rela menunggu lama demi mendapatkan mandau dengan ukiran terbaik. Tingginya permintaan ini menjadi bukti bahwa nilai mandau telah diakui jauh melampaui daerah asalnya.
Salah satu pengrajin yang terus menjaga eksistensi mandau ialah Andryanus Fius asal Kecamatan Tenggarong, Kabupaten Kutai Kartanegara (Kukar). Bakat mengukir tersebut diwarisinya dari keluarga karena kakek dan ayahnya sama-sama dikenal sebagai pembuat mandau.
Sejak kecil, Fius telah akrab dengan proses pembuatan mandau yang menjadi bekal penting saat ia mulai belajar mengukir di bangku SMA. Kala itu, meski hasil ukirannya belum sedetail sekarang, karya-karya tersebut mulai dipasarkan melalui toko suvenir milik orang tuanya.
Beberapa tahun berselang, salah satu mandau yang dibuatnya saat duduk di bangku SMA ternyata diketahui telah sampai ke Eropa. Fius mengetahui hal tersebut setelah seorang rekannya mengunggah foto mandau itu di media sosial dan menanyakan siapa pembuatnya.
"Mandau yang saya buat waktu SMA itu sekarang ada yang sampai ke Eropa. Pernah ada teman mengunggah foto dan bertanya, 'Ini mandau buatan siapa?'. Pas saya lihat, ternyata itu mandau yang saya buat waktu SMA dulu," ujar Fius kepada media, Jumat (3/7/2026) malam.
Perjalanan Fius menjadi pengrajin mandau tidak selalu berjalan mulus. Ia sempat berhenti mengukir sejak kelas 3 SMA hingga menyelesaikan masa kuliahnya.
Fius kemudian sempat bekerja di salah satu instansi pemerintah di Kabupaten Kutai Barat, sebelum akhirnya memutuskan menikah dan pindah ke Tenggarong. Kesulitan dalam mencari pekerjaan membuatnya kembali melirik dunia ukir yang telah menjadi hobinya sejak kecil.
"Waktu itu mencari pekerjaan cukup susah. Lalu saya berpikir, mengukir ini masih punya prospek yang bagus. Selain itu memang hobi saya juga. Saya juga berpikir, dengan adanya media sosial saya bisa mempromosikan karya di sana," ungkap Fius.
Berbekal toko suvenir milik istrinya di kawasan Museum Mulawarman Tenggarong, Fius mulai menjual mandau melalui akun Facebook pribadinya. Saat itu, media sosial belum banyak dimanfaatkan oleh perajin lain sebagai sarana pemasaran produk kerajinan.
"Dulu Facebook masih ramai. Ternyata bisa berkembang karena yang jual masih sedikit. Setelah itu saya jual lewat YouTube, kemudian Instagram, dan sekarang lewat TikTok," sambungnya.
Selain mengandalkan penjualan secara daring (online), Fius kini tengah merintis “Dayak Gallery”. Tempat ini merupakan sebuah galeri khusus untuk memajang dan menjual berbagai jenis mandau, baik jenis pakem maupun kreasi, yang berlokasi di Jalan Triyu, Kelurahan Loa Ipuh, Kecamatan Tenggarong.
Pembangunan galeri tersebut berawal dari kebiasaan tamu atau kolektor yang kerap datang hingga larut malam ke toko suvenir di Museum Mulawarman untuk melihat koleksi mandau. Kondisi itu membuat dirinya dan keluarga harus menempuh perjalanan bolak-balik sekitar enam kilometer dari rumah.
"Akhirnya kami berpikir, lebih enak kalau bikin galeri di rumah. Kalau ada tamu datang jam 11 malam, jam 12 malam, atau jam 1 malam, kami tinggal buka galeri saja. Jadi mereka datang ke sini," tutur Fius.
Di Dayak Gallery, pengunjung nantinya dapat melihat berbagai jenis mandau, mulai dari mandau pakem Suku Dayak Benuaq hingga mandau kreasi yang dibuat mengikuti selera pasar. Menurut Fius, tidak semua kolektor menginginkan mandau yang benar-benar pakem sehingga ia tetap menghadirkan karya kreasi tanpa meninggalkan nilai tradisi.
Beberapa jenis mandau pakem yang tersedia di galeri miliknya di antaranya adalah Mandau Hulu Kemau, Mandau Lamed Bauk dengan sarung tempos, serta Mandau Tunggur yang menggunakan sarung Besoli.
Harga mandau yang dijual bervariasi tergantung bahan dan tingkat kerumitan. Mandau bergagang kayu dibanderol mulai di atas Rp 2 juta, sedangkan mandau bergagang tanduk dijual dengan harga di atas Rp 3 juta.
Selama menekuni usaha tersebut, Fius mengaku pernah menjual sebilah mandau dengan harga mencapai Rp 65 juta. Bahkan, beberapa karya lainnya juga telah terjual di kisaran nominal Rp 40 juta.
"Ada mandau tua saya, dulu juga ada yang menawar Rp 65 juta, tetapi tidak saya jual. Saya kemudian membuat lagi yang mirip seperti ini, dan itulah yang terjual Rp 65 juta sekitar hampir 10 tahun lalu," ungkap Fius.
Menurut Fius, harga sebuah mandau tidak hanya ditentukan oleh tingkat kerumitan ukiran semata. Nilai ekonomi tersebut juga dipengaruhi oleh cerita yang menyertai karya serta kepercayaan yang dibangun bersama para kolektor.
Selama belasan tahun memasarkan produknya secara daring, sebagian besar pembeli justru berasal dari luar Pulau Kalimantan. Sekitar 80 persen konsumennya berasal dari berbagai daerah di Indonesia, serta beberapa kolektor dari luar negeri.
"Kalau ke luar negeri juga sudah beberapa kali. Ini ada dua mandau yang belum dikirim ke Sarawak. Ada satu untuk pembeli Singapura. Barangnya sebenarnya sudah dibayar, nilainya hampir Rp 30 juta. Dari Singapura ini sering beli, mungkin lima sampai enam kali," jelasnya.
Meski dikenal sebagai pembuat mandau, Fius mengaku tidak mengerjakan seluruh proses produksi seorang diri. Ia menyatakan pernah belajar menempa, namun keahlian itu hanya diterapkan untuk bilah berukuran kecil.
Fius kini memilih untuk lebih fokus pada proses mengukir dan membuat sarung mandau. Sementara untuk bagian bilah besi, ia memesannya dari sesama perajin di Tenggarong, Kalimantan Selatan, maupun Kalimantan Tengah.
"Yang benar-benar saya tekuni adalah mengukir dan membuat sarung mandau. Jadi untuk bilahnya saya pesan kepada orang lain sesama perajin mandau," ucap Fius.
Di balik kiprahnya melestarikan budaya tradisional, Fius berharap pemerintah dapat memberikan perhatian lebih kepada para pengrajin mandau. Menurutnya, hingga kini para pengrajin masih mengandalkan peralatan yang dibeli secara mandiri tanpa bantuan dari pihak pemerintah.
Ia juga menambahkan bahwa para pengrajin kini telah membentuk Persatuan Mandau Indonesia. Anggota organisasi ini terdiri dari pengukir, penempa, dan pembuat mandau, meski saat ini kepengurusannya masih didominasi oleh perajin dari Tenggarong.
"Harapan besar kami kepada pemerintah bisa membantu kami agar lebih berkembang dalam melestarikan budaya, khususnya mandau, sehingga tidak punah dan tetap lestari," pungkas Fius.
[TOS]
Related Posts
- Diduga Jadi Korban Rekayasa Kasus, Pejuang Lingkungan Muara Kate Mengadu ke Kompolnas dan Lembaga HAM di Jakarta
- Realisasi EBT Capai 17,89 Persen, Xurya Dorong Transisi Energi Sektor Industri
- Kemenhut dan FSC Jalin Kerja Sama Strategis Perkuat Pengelolaan Hutan Berkelanjutan
- Cara menyimpan video TikTok tanpa watermark yang benar benar bersih
- Penerapan Manajemen Talenta Jadi Alasan Lambatnya Pengisian Jabatan Definitif di Lingkup Pemprov Kaltim









