Opini

Pascapandemi dan Sekolah Kita

Oleh: Mohammad Makmun Qomar, M.Pd (Guru SMP Negeri 12 Samarinda)

GANASNYA ancaman penularan Covid-19 mulai mereda. Pintu pagar dunia pendidikan mulai dibuka. Pembelajaran tatap muka mulai normal, walau masih dengan protokol Covid-19. Senyum ceria anak-anak mulai menghiasi sekolah. Kelas yang beberapa tahun kemarin bak sebuah gudang sepi yang tak dirawat. Sekarang mulai terdengar pembelajaran di sana. Tanaman-tanaman di halaman sekolah mulai tertata rapi dan bersih Kembali. Aktivitas  bermain, berolahraga, upacara atau beraktifitas lainnya mulai bergerak. Sekolah menemukan jati dirinya kembali sebagai tempat berbagi pengalaman, berbagi ilmu, merangkai persaudaraan, pertemanan dan prestasi.

Perjalanan selama pandemi Covid-19 adalah refleksi panjang yang dihadapi oleh semua negara termasuk Indonesia. Di tengah adanya pandemi yang menakutkan proses pembelajaran harus tetap berjalan dengan proses-proses inovatif yang selama ini hampir belum pernah dilakukan. Proses pembelajaran tidak boleh berhenti kalau sampai hal ini terjadi maka akibatnya sangat menakutkan terjadinya learning loss dan the lost generation.

Saat Covid-19 mencengkeram dunia, istilah-istilah baru bermunculan home learning, work from home, stay at home, social distancing, physical distancing, protokol kesehatan, pembelajaran hybrid, pembelajaran daring, pembelajaran online, learning loss. Istilah-istilah ini hampir dua tahun merajai media sosial. Istilah-istilah bagi sebagian masyarakat masih sangat asing sehingga kadang tidak difahami urgensinya.

Baca juga:  Pentingnya Mengetahui Resusitasi Jantung Paru (RJP) dari Perspektif Filsafat Epistemologi

Dunia pendidikan sebagai fundamen yang menyiapkan generasi penerus harus berjuang sekuat tenaga agar proses pembelajaran tetap belajar walau dengan menggunakan kurikulum kedaruratan. Pandemi Covid-19 memaksa dunia pendidikan harus berubah, cara-cara konvensional harus dimodifikasi dengan proses pembelajaran yang  dapat menjawab tantangan pandemi Covid-19. Dunia pendidikan yang belum menyiapkan sumber daya tangguh menghadapi kedaruratan di berbagai pelosok negeri pingsan. Guru dipaksa mengadaptasi teknologi dengan cepat walau banyak keterbatas dalam kompetensi pengetahuan dan keterampilan.

Dalam dunia pendidikan, tiba-tiba dipaksa harus menggunakan aplikasi. Dunia pendidikan dipaksa harus menggunakan aplikasi pembelajaran google classroom, google meet, zoom, whatsapp, youtube. Aplikasi tersebut sangat membantu menciptakan dunia pendidikan baru, dimana guru dan peserta didik bertemu di dunia maya untuk mencapai tujuan pembelajaran darurat. Bisa dibayangkan kalau aplikasi-aplikasi tersebut belum ada, pasti dunia pendidikan sudah mati. Hal ini karena guru dan peserta didik tidak bertemu, tidak ada komunikasi, tidak jelas keberadaan masing-masing. Status guru dan peserta didik lenyap karena aktivitas pembelajaran memang tidak ada. 

Hampir dua tahun, peserta didik tidak ke sekolah. Beberapa aktivitas pembelajaran saat itu. Ada sekolah yang begitu disiplin menerapkan pertemuan tatap muka dengan zoom atau google meet setiap jam belajar. Peserta didik tetap berseragam rapi walau mereka di rumah. Aktivitas pembelajaran, diskusi, presentasi, pembuatan laporan, unjuk kerja, evaluasi tetap berjalan walau dengan menurunkan tujuan pencapaian pembelajaran.

Disisi lain ada sekolah yang hanya memakai aplikasi whatsapp, hanya kirim soal tanpa pernah ada komunikasi suara antara guru dengan peserta didiknya. Guru tidak tahu kondisi peserta didiknya. Komunikasi pembelajaran tanpa penjelasan materi pembelajaran dari guru. Peserta didik tiap hari hanya menerima tugas dan tugas. Guru tidak ambil pusing dengan siapa yang mengerjakan tugas tersebut.

Di belahan lain karena tidak ada sinyal guru harus naik turun gunung membimbing peserta didiknya belajar. Guru mendatangi setiap peserta didiknya dengan ancaman Covid-19 yang masih mengganas saat itu. Pengabdian yang tak terhingga. Bertolak belakang dari diatas, mungkin ada guru yang yang tidak menjalankan proses belajar mengajar selama pandemi, karena tidak tahu apa yang harus dikerjakan. Menggunakan aplikasi tidak bisa. Rumah peserta didik jauh dengan medan yang tidak bersahabat. Kasus Covid-19 di daerahnya tinggi. 

Baca juga:  Karakter Guru Status Quo Vs Guru Penggerak

Kondisi peserta didik hasil didik Covid-19 sangat beragam. Peserta didik yang sekolah di pesantren hampir tidak ada beda dengan keadaan normal. Mereka tetap belajar seperti biasa. Hal ini karena mereka 24 jam tinggal di pondok. Para guru kebanyakan juga tinggal bersama mereka. Kesadaran melakukan protokol Covid-19 sangat baik. Sangat membantu mereka meneruskan belajar di tempat tersebut. Apabila diikuti berita tentang peserta didik yang tinggal di pesantren sangat kecil yang terkena Covid-19, kalau beritanya menjadi besar patut dicurigai ada oknum-oknum memang ingin menjatuhkan pendidikan pesantren agar menghentikan pembelajaran. Terbukti proses pembelajaran di pesantren tetap berjalan normal. 

Sekolah yang menerapkan pembelajaran jarak jauh, proses pembelajaran beraneka ragam cara akhirnya hasil sesuai dengan proses yang dijalankan. Sekolah yang disiplin melakukan pembelajaran jarak jauh dengan menggunakan bantuan aplikasi, peserta didiknya tetap terkontrol. Sekolah yang tidak disiplin dalam pembelajaran jarak jauh, hanya mengirim tugas ke peserta didiknya hasilnya tentu sangat mengagetkan. Apalagi sekolah yang tidak bisa sama sekali melakukan pembelajaran jarak jauh karena suatu hal, peserta didiknya hampir dua tahun libur dan hasilnya mereka sangat ketinggalan jauh dari tujuan pembelajaran yang telah ditentukan.

Negeri ini sangat luas. Kondisi setiap daerah berbeda-beda. Pegunungan, pedalaman, pantai, perkampungan, pedesaan, perkotaan. Kondisi daerah yang berbeda-beda ini ternyata berhubungan dengan tersedianya jaringan internet. Daerah pegunungan, pedalaman atau mungkin sebagian pedesaan jaringan internet masih menjadi barang mewah. Bisa beli handphone. Bisa beli pulsa tetapi kalau jaringan tidak ada, maka benda tersebut tentu tidak ada gunanya.  Kondisi daerah yang bermuara kepada jaringan internet menjadi aspek yang harus dilihat terhadap efektif dan efisiensi proses pembelajaran jarak jauh.

Di setiap daerah baik perkotaan, pedesaan, pedalaman, pegunungan, pantai  tetap ada strata ekonomi. Ekonomi orang tua akan membantu kelancaran proses pembelajaran jarak jauh. Mereka dapat membeli gawai dan pulsanya. Kesadaran akan pentingnya pendidikan tinggi, permasalah biaya tidak menjadi persoalan. Hal ini akan membantu keberhasilan pembelajaran. Persoalannya adalah apabila semangat  wali murid untuk pendidik kurang mendukung,  ekonominya pas-pasan, gawai tidak punya apalagi membeli pulsa. Kebutuhan pokok saja masih menjadi problem. Hal ini akan menghambat tujuan pendidikan.

Pascapandemi

Peserta didik sudah kembali ke sekolah. Keadaan mereka sesuai dengan hasil proses pembelajaran saat pandemi Covid-19. Sekolah yang disiplin, peserta didik datang ke sekolah sesuai dengan waktu yang ditentukan. Mereka tetap rapi, rambut tersisir, pakaian seragam sesuai dengan jadwalnya. Proses pembelajaran dalam kelas berjalan normal, saat diskusi mereka tetap semangat memberikan pendapatnya, saat mengumpulkan tugas mereka tetap mengumpulkan tugas. Tanggungjawab mereka tidak banyak yang berubah.

Berbeda jauh, dengan peserta didik yang tidak menjalankan pembelajaran jarak jauh dengan benar. Peserta didik rambutnya panjang, bicaranya kurang sopan, seragamnya semaunya. Proses pembelajaran dalam kelas jauh dari harapan. Diskusi, mereka lebih banyak diam apalagi mengumpulkan tugas, guru harus sabar menghimbau mereka. Tugas guru dalam kondisi seperti ini menjadi banyak harus mendidik dan mengajar mereka kembali tentang pendidikan dari dasar. Pendidikan karakter yang hampir tidak terjamah saat pembelajaran jarak jauh harus menjadi penekanan pokok dalam proses pembelajaran. 

Pascapandemi Covid-19, guru harus terus mengasah kompetensi dalam pemanfaat teknologi informatika. Proses pembelajaran tidak bisa lagi mengandalkan ceramah, pembelajaran harus menjadi lebih menarik dengan bantuan teknologi. Guru harus mampu merangkai pembelajaran luring dan daring. Pembelajaran hibrid, saat peserta didik kurang jelas guru dapat menjelaskan materi pelajaran kembali walau mereka berbeda tempat. Saat waktu belajar di sekolah menggunakan menggunakan metode tatap muka. Saat mereka berada di luar jam belajar dapat digunakan bantuan teknologi dalam belajar. Guru harus senantiasa melakukan peningkatan kompetensi dalam pemanfaatan media belajar yang menggunakan teknologi. Proses pembelajaran akan lebih efektif dan efisien dalam mencapai tujuan pembelajaran.

Baca juga:  Seni Modern Vs Spiritualitas Religius

Peran wali murid tidak kalah pentingnya. Kesadaran dan tanggung jawab akan pemenuhan kebutuhan peserta didik harus menjadi prioritas. Pemenuhan kebutuhan teknologi dan perangkatnya menjadi sangat penting diperhatikan. Pengawasan wali murid juga hal yang sangat urgen. Peserta didik yang dimanja dengan teknologi kadang-kadang waktunya habis hanya bermain. Pengawasan wali murid dan kesadaran peserta didik menjadi barometer kebermanfaat teknologi dalam mencapai tujuan pembelajaran.

Pelajaran penting yang dapat ditadabburi dari pandemi Covid-19 dalam dunia pendidikan antara lain penggunaan teknologi dalam pembelajaran sangat penting. Kompetensi guru dalam penggunaan teknologi perlu diasah agar terus mendorong tumbuhnya energi kreatif dan positif yang berimbas kepada peserta didik. Guru harus terus melakukan inovasi dalam proses pembelajaran, membuat media pembelajaran yang menarik, tidak menjemukan sehingga tumbuh minat belajar yang kuat pada peserta didik. Dengan teknologi guru kapan dan dimana saja dapat melakukan proses pembelajaran. Hal ini menjadi pijakan peserta didik bahwa penguasaan teknologi akan menjadi syarat utama dalam kompetisi global. Apalagi akan memasuki dunia baru virtual metaverse. (*)

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kaltimtoday.co. Mari bergabung di Grup Telegram “Kaltimtoday.co News Update”, caranya klik link https://t.me/kaltimtodaydotco, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.

Editor: Ibrahim Yusuf

Facebook Comments
Tags

Related Articles

Back to top button
Close

Adblock Detected

Please consider supporting us by disabling your ad blocker