Nasional

Perkuat Deteksi Zoonosis, Indonesia Jadi Model Kolaborasi Multisektoral One Health Versi WHO

Kaltim Today
07 April 2026 10:50
Perkuat Deteksi Zoonosis, Indonesia Jadi Model Kolaborasi Multisektoral One Health Versi WHO
Tim gabungan Kementerian Kesehatan RI–WHO melakukan surveilans di pasar unggas di Surabaya sebagai bagian dari program percontohan di lima provinsi pada tahun 2025. Kredit: WHO/Fieni Aprilia

JAKARTA, Kaltimtoday.co - Bertepatan dengan Hari Kesehatan Sedunia, World Health Organization (WHO) memberikan apresiasi tinggi terhadap kepemimpinan Indonesia dalam menekan risiko penyakit zoonosis. Indonesia dinilai sukses memperkuat pendekatan One Health, sebuah konsep yang mengintegrasikan kesehatan manusia, hewan, dan lingkungan secara bersamaan.

Langkah strategis yang dipimpin Pemerintah Indonesia dengan dukungan WHO dan mitra lainnya telah memperluas upaya pencegahan serta respons bersama di berbagai sektor. Kolaborasi ini melibatkan sektor kesehatan, pertanian, kedokteran hewan, hingga lingkungan untuk memperkuat deteksi dini di masyarakat.

“Indonesia menunjukkan cara aksi multisektoral yang terkoordinasi dapat mengurangi risiko kita dari penyakit zoonosis,” ujar Perwakilan WHO untuk Indonesia, Dr. N. Paranietharan, dalam keterangan tertulisnya, Selasa (7/4/2026). Ia menambahkan bahwa kerja sama lintas sektor ini sangat krusial dalam melindungi kelompok masyarakat dengan risiko tertinggi.

Zoonosis sendiri merupakan infeksi yang menyebar antara hewan dan manusia, yang secara global menyumbang lebih dari 60 persen penyakit menular yang diketahui. Sebagai negara kepulauan, Indonesia menghadapi tantangan besar akibat perubahan iklim dan interaksi erat antara manusia dengan alam yang meningkatkan risiko penularan tersebut. 

Fokus utama One Health di Indonesia saat ini mencakup penyakit prioritas seperti flu burung, leptospirosis, antraks, dan rabies. Pada tahun 2025, Indonesia telah melakukan uji coba surveilans terpadu flu burung di lima provinsi prioritas dengan menjadikan pasar unggas tradisional sebagai lokasi peringatan dini.

Selain itu, penguatan surveilans pada kasus leptospirosis juga berhasil mengurangi angka kematian di daerah rawan banjir melalui deteksi dan pengobatan cepat. WHO turut mendukung pelatihan petugas garda terdepan untuk penanganan antraks serta penguatan manajemen kasus untuk penyakit rabies. 

Keberhasilan Indonesia ini diharapkan menjadi pendorong dukungan politik pada gelaran One Health Summit mendatang. Pertemuan tersebut akan mempertemukan para kepala negara dan menteri guna menerjemahkan komitmen menjadi tindakan terkoordinasi demi melindungi kesehatan publik secara global.

Sejalan dengan itu, Global Forum of WHO Collaborating Centres juga dilaksanakan untuk menekankan pentingnya investasi sains. Di Indonesia, terdapat dua pusat kolaborasi WHO yang berfokus pada keperawatan dan kebidanan serta pencegahan gangguan pendengaran untuk mendukung ketahanan sistem kesehatan nasional.

[TOS]



Berita Lainnya