Daerah

Petala Borneo Luncurkan Album Kedua “Pura Tana Bhumi", Angkat Sejarah dan Budaya Kutai Lewat Musik

Supri Yadha — Kaltim Today 13 Juli 2026 04:26
Petala Borneo Luncurkan Album Kedua “Pura Tana Bhumi", Angkat Sejarah dan Budaya Kutai Lewat Musik
Personel Petala Borneo. (Supri/Kaltimtoday.co)

Kaltimtoday.co, Tenggarong - Komitmen menjaga warisan budaya Kutai kembali diwujudkan grup musik tradisi Petala Borneo melalui peluncuran album kedua bertajuk "Pura Tana Bhumi".

Album yang diperkenalkan di Taman Musik Tenggarong, Jumat (10/7/2026) malam itu menjadi medium bagi para personelnya untuk mengangkat kembali sejarah, identitas, dan kekayaan budaya daerah melalui karya musik. 

Album yang memiliki makna "Suara dari Tanah Tua" tersebut berisi sembilan lagu yang digarap selama hampir satu tahun. Seluruh lagu lahir dari keinginan para personel untuk menjaga nilai-nilai budaya lokal agar tetap dikenal dan diwariskan kepada generasi berikutnya di tengah derasnya arus modernisasi.

Pendiri sekaligus komposer Petala Borneo, Ahmad Fauzi atau Ozi, mengatakan pemilihan nama album tidak lepas dari sejarah panjang Kutai sebagai salah satu kawasan dengan peradaban tertua di Nusantara.

"Pura Tana Bhumi berarti suara dari tanah tua. Kami mengambil istilah ini dari bahasa Sanskerta. Kutai dikenal sebagai salah satu tanah tua di Indonesia yang menyimpan begitu banyak sejarah, literasi, dan harta karun berupa kebudayaan. Itulah yang kami angkat dalam lagu-lagu di album ini," katanya.

Ozi menjelaskan, proses penggarapan album dimulai sejak Agustus 2025. Beberapa lagu lebih dahulu dirilis dalam format single sebelum akhirnya disatukan menjadi album penuh yang resmi diperkenalkan kepada publik pada Mei 2026.

Peluncuran album ini juga menjadi penanda perjalanan baru grup tersebut setelah genap berusia 10 tahun. Bertepatan dengan momen itu, nama Olah Gubang resmi berganti menjadi Petala Borneo.

Ia menjelaskan, sebelumnya kelompok musik tersebut merupakan divisi musik di bawah Yayasan Gubang yang berfokus pada seni tari. Kini, Petala Borneo telah berdiri sebagai grup musik independen dengan manajemen sendiri.

"Petala berasal dari bahasa Melayu kuno yang berarti lapisan atau tingkatan. Filosofinya adalah terus bertumbuh dan meningkat, seperti menaiki tangga untuk mencapai tujuan yang lebih besar," jelasnya.

Semangat berkarya pun tidak berhenti pada album kedua. Ozi mengungkapkan, Petala Borneo telah mulai menyiapkan materi untuk album berikutnya sebagai bagian dari upaya memperluas eksistensi musik tradisi hingga ke panggung internasional.

Menurutnya, musik yang berakar pada budaya daerah justru memiliki daya tarik tersendiri di mata penikmat musik luar negeri.

"Bagi kami, justru musik berbasis tradisi yang sangat kedaerahan memiliki daya tarik di luar negeri. Cara kami menuju panggung dunia adalah terus menghasilkan karya sebanyak mungkin, hingga nantinya ada karya yang diterima masyarakat internasional," tuturnya.

Untuk saat ini, Petala Borneo belum memiliki agenda tur promosi. Mereka memilih memaksimalkan promosi melalui platform digital dengan dukungan berbagai pihak agar karya-karyanya dapat menjangkau lebih banyak pendengar.

Sementara itu, vokalis Petala Borneo, Nova, mengatakan seluruh proses produksi album dilakukan secara mandiri oleh para personel, mulai dari proses rekaman, mixing, hingga mastering.

"Semua kami kerjakan sendiri. Kendala teknis tentu ada, tetapi karena dikerjakan bersama-sama justru terasa menyenangkan. Kendala terbesar justru kalau kami berhenti bergerak. Selama terus berkarya, semua tantangan pasti bisa dilewati," tandasnya.

[RWT] 



Berita Lainnya