Daerah

Kenalkan Tradisi Erau Lewat Musik, Petala Borneo Pukau Penonton IDEF 2026 Yogyakarta

Kaltim Today
25 Juli 2026 15:12
Kenalkan Tradisi Erau Lewat Musik, Petala Borneo Pukau Penonton IDEF 2026 Yogyakarta
Grup musik asal Kutai Kartanegara, Petala Borneo, membawakan lagu "Menjaga Adat" dalam ajang International Djogja Earthsounds Fest (IDEF) 2026 di Institut Seni Indonesia (ISI) Yogyakarta, Bantul, Kamis (23/7/2026) malam.

Kaltimtoday.co - Grup musik asal Kabupaten Kutai Kartanegara, Kalimantan Timur, Petala Borneo, sukses mencuri perhatian dalam ajang panggung internasional International Djogja Earthsounds Fest (IDEF) 2026 di Institut Seni Indonesia (ISI) Yogyakarta, Bantul, Kamis (23/7/2026) malam.

Lewat penampilan tersebut, mereka membawakan lagu berunsur tradisi berjudul "Menjaga Adat" sekaligus mengundang penonton dari berbagai daerah dan negara untuk berkunjung ke pesta adat Erau pada September mendatang.

Sebelum naik ke atas panggung, semangat para personel sempat menurun akibat kondisi cuaca yang kurang bersahabat. Rasa khawatir sempat menyelimuti grup musik ini karena hujan deras yang mengguyur lokasi acara menjelang jadwal tampil mereka.

Personel Petala Borneo, Achmad Fauzi, mengakui bahwa kondisi cuaca malam itu cukup memengaruhi mental para anggota sebelum pertunjukan dimulai. "Kami sempat cukup down karena cuaca," kata Fauzi mengungkapkan situasi di balik panggung.

Keraguan tersebut sirna seketika saat instrumen musik mulai dikumandangkan dari atas panggung. Para penonton yang semula menepi untuk berteduh dari guyuran hujan secara spontan berdiri, memadati area depan panggung, dan ikut bergoyang mengikuti alunan musik khas Kalimantan Timur sejak lagu pertama dimainkan.

Apresiasi hangat dari para penonton membuat energi para personel kembali meningkat sepanjang pertunjukan berlangsung.

"Namun, ketika Petala membawa bunyi-bunyian Kalimantan Timur, mereka bisa menari bersama. Itu bentuk apresiasi yang paling tinggi, ketika mereka mau menerima karya dan bunyi-bunyian dari kami," ujar Fauzi.

Penampilan Petala Borneo malam itu ditutup secara emosional lewat lagu "Menjaga Adat", karya yang secara khusus didedikasikan untuk melestarikan tradisi Erau di Kutai Kartanegara. Ketika sang vokalis, Nova Abelia, mengangkat tangan dari atas panggung dengan latar tata lampu berwarna merah, hijau, dan kuning, barisan penonton merespons riuk dengan mengangkat tangan mereka ke udara.

Di sela-sela lagu penutup tersebut, Nova secara langsung memperkenalkan tradisi Erau kepada jajaran penonton internasional dan nasional yang hadir. Ia mengabarkan bahwa agenda pesta adat tahunan Erau 2026 dijadwalkan berlangsung di Kabupaten Kutai Kartanegara pada September mendatang.

Fauzi menambahkan bahwa partisipasi dalam festival ini menjadi sarana diplomasi budaya untuk memperkenalkan kekayaan daerah. "Panggung malam ini menjadi salah satu panggung kami menuju Erau. Kami ingin mengabarkan bahwa kami mempunyai sebuah pesta adat dan mengajak teman-teman yang hadir untuk datang ke Erau di Kutai Kartanegara," tutur Fauzi.

Bagi vokalis Petala Borneo, Nova Abelia, kesempatan tampil di panggung berkelas internasional seperti IDEF merupakan sebuah pencapaian emosional. Ia mengaku terharu karena impian grupnya untuk mengumandangkan musik tradisi di kancah yang lebih luas akhirnya dapat terwujud.

"Senang dan benar-benar haru. Ini menjadi mimpi kami. Semoga ini bisa menjadi jembatan dan pintu utama bagi kami menuju panggung dunia," ucap Nova penuh haru.

Ajang IDEF 2026 sendiri merupakan festival musik internasional lintas tradisi yang mempertemukan para musisi, kelompok seni, komunitas, serta institusi pendidikan seni dari berbagai negara. Rangkaian acara yang berlangsung pada 23–25 Juli di ISI Yogyakarta ini mengusung tema besar *Sacred Sounds, Shared Earth*.

Panggung pertunjukan di Yogyakarta ini menjadi bukti nyata bahwa generasi muda dari daerah mampu menunjukkan taji di belantara industri seni nasional maupun internasional. Fauzi menegaskan bahwa keterbatasan jarak dari pusat industri musik tidak menghalangi anak muda Kutai Kartanegara untuk terus menghasilkan karya yang berkualitas.

"Malam ini kami berhasil menyampaikan bahwa kami ada. Putra-putri Kutai Kartanegara ada, bunyi-bunyian kami ada, dan anak-anak mudanya masih bisa bersaing di kancah nasional, bahkan internasional," kata Fauzi menegaskan.

[RWT]



Berita Lainnya