Opini

Rasisme dalam Kemajuan Globalisasi: Bercermin dari Kematian George Floyd dan Anti-Asia di Tengah Pandemi

Oleh: Muhammad Fadhil Hidayat Samsir, (Mahasiswa Hubungan Internasional, Universitas Islam Indonesia)

Dunia Internasional digetarkan oleh gerakan #BlackLivesMatter, gerakan demonstrasi yang aktif menolak rasisme dan diskriminasi terhadap orang-orang berkulit hitam di Amerika sebagai respon terjadinya insiden seorang warga Afrika-Amerika yang tewas di tangan polisi setempat di Kota Minneapolis, Amerika Serikat. Tak hanya itu, keberadaan Virus Corona yang berasal dari Kota Wuhan, Tiongkok juga menyebabkan timbulnya sentimen Anti-Asia di berbagai negara. Sentimen tersebut adalah stigma orang Asia, terutama yang berasal dari Tiongkok sebagai pembawa dan penyebar virus yang telah menginfeksi lebih dari 10 juta orang dan menyebabkan kematian lebih dari 500 ribu nyawa. 

Dua kejadian di atas telah menyadarkan masyarakat dunia akan dampak besar dari adanya rasisme dan diskriminasi di lingkungan masyarakat. Rendahnya kesadaran akan keberagaman serta rasa untuk menghargai satu sama lain menjadi satu dari banyaknya penyebab bertahannya eksistensi rasisme dan diskriminasi hingga sekarang.  

Baca juga:  Mengenal Komisi Yudisial, Sang Penjaga Marwah Peradilan

Di era modernisasi dan globalisasi saat ini, individu atau kelompok dengan keberagaman dan perbedaan identitas seperti suku, ras, etnis, budaya dan hal semacamnya, menyatu kedalam satu lingkungan sosial yang sama. Globalisasi dan modernisasi telah menghapus berbagai pembatas dan jarak yang dulunya menjadi pemisah atau pengklasifikasi. Ilmu dan pengetahuan juga telah berperan dalam membuka pandangan setiap individu untuk mengetahui dan mengenali perbedaan yang ada di sekitar kita.

Namun, realitanya adalah rasisme masih tetap eksis di lingkungan masyarakat. Rasisme yang bersifat menuntut penolakan dan dihilangkannya keberagaman adalah salah satu penyakit masyarakat yang hingga kini masih sering kita temui, seperti kasus kematian George Floyd dan adanya Anti-Asia di masa pandemi ini. Kedua kejadian ini adalah dampak nyata yang disebabkan oleh rasisme yang masih bertahan di masyarakat.

Rasisme Sebagai Suatu Pelanggaran

Dalam Hak Asasi Manusia, setiap manusia memiliki hak untuk hidup sejahtera, adil dan aman dari segala ancaman. HAM menjamin hak seseorang untuk menjalani hidup seseorang bebas dari ancaman ataupun campur tangan orang luar di dalam hidupnya. Tak hanya berlaku secara individual, tapi HAM juga berlaku secara universal, dan setiap orang memiliki kewajiban untuk menghargai dan mematuhinya. Namun, “keindahan” dari adanya HAM dalam kehidupan masyarakat sepertinya masih sering tercoreng dari adanya kekerasan yang terjadi. Rasisme merupakan satu dari banyaknya bentuk pelanggaran HAM yang terjadi di sekitar kita.

Perbedaan latar belakang dan identitas menjadi salah satu penyebab adanya rasisme, namun hal tersebut dijadikan alasan fundamental bagi seseorang atau suatu kelompok untuk melakukan tindakan rasis. Alasan utama adalah karena adanya rasa otoritas dan kekuasan yang lebih dibanding kelompok atau pihak lain disertai dengan rasa kebencian dan kecemburuan. Tindakan Rasisme dapat terjadi dalam dua bentuk, yaitu dalam bentuk kekerasan fisik ataupun kekerasan verbal.

Baca juga:  Ada Apa dengan Balikpapan?

Kekerasan fisik yaitu tindakan kekerasan yang dilakukan secara langsung kepada korban sehingga meninggalkan luka, bahkan dapat menghilangkan nyawa korbannya, contohnya kasus kematian George Floyd. Dilansir dari CNN, kejadian itu berawal ketika George Floyd akan ditangkap atas tuduhan penggunaan uang palsu di salah satu toko oleh beberapa polisi setempat. George Floyd, sebagai golongan warga Afrika-Amerika mendapat tindakan rasis dari polisi tadi dengan mengganggap lelaki tersebut sebagai ancaman dan langsung menjatuhkannya di tanah. Seorang polisi bernama Derek Chauvin, melakukan tindakan “pengamanan berlebihan” dengan menginjakkan lutut di leher lelaki tersebut. Beberapa saat setelahnya, lelaki tersebut diam dan tak bergerak, bahkan saat akan dimasukkan ke dalam mobil polisi. George Floyd meninggal di rumah sakit pada hari itu juga. Stigma orang berkulit hitam sebagai sebuah ancaman merupakan sesuatu yang telah lama melekat di Amerika Serikat. Ini bisa menjadi penyebab tindakan rasis polisi tadi terhadap lelaki malang tersebut.

 Sedangkan, kekerasan verbal yaitu kekerasan yang dilakukan secara tidak langsung kepada korban sehingga meninggalkan rasa takut, bahkan trauma bagi korbannya. Contohnya, ujaran kebencian, penghinaan, pengintimidasian, hingga perundungan. Kekerasan ini dapat dilihat dari yang terjadi pada warga Asia di belahan dunia ditengah pandemi saat ini. Virus Corona yang diketahui berasal dari China tersebut, menjadi penyulut rasisme terhadap warga Asia di berbagai negara. Dilansir dari South China Morning Post, dua remaja Australia melakukan tindakan penghinaan hingga pemukulan terhadap dua remaja perempuan berdarah Asia. Penghinaan tersebut berisi panggilan yang merendahkan dan menjelekkan kedua remaja perempuan Asia tersebut. Tak hanya sampai disitu, satu orang di antara remaja Australia tadi bahkan meludahi hingga melakukan pemukulan. Beruntung, ada seseorang yang berusaha melerai keduanya dan konflik pun berhenti. Beberapa hari kemudian, remaja Australia yang melakukan tindakan rasis dan kekerasan tersebut ditangkap oleh kepolisian setempat. 

Globalisasi Sebagai Perlawanan Rasisme 

Globalisasi telah mendorong dunia, termasuk manusia nya untuk terus tumbuh dan berkembang. Kemajuan teknologi adalah salah satu hasil dari peran penting adanya globalisasi. Informasi yang kini mudah untuk didapatkan, ilmu pengetahuan yang dapat diperoleh dimana saja, diskusi dan pertukaran opini  yang bisa dilakukan dimana saja dan kapan saja adalah kemudahan yang dapat kita manfaatkan sebaik mungkin. Dengan kemudahan tersebut, seharusnya kita dapat terus mengembangkan pemikiran dan membuka pandangan dalam melihat keberagaman dan perbedaan yang ada di sekitar kita. 

Baca juga:  Garuda hingga Lion Air Terbukti Lakukan Kartel Harga Tiket Pesawat

Berbagai macam kemudahan seharusnya dapat kita manfaatkan sebaik mungkin agar kita tidak terjebak dalam pemikiran ‘primitif’ dari rasisme. Apapun masa nya, dimana pun tempatnya, perbedaan akan selalu kita kunjungi. Tugas kita adalah untuk menghargai, menerima dan mengakui perbedaan tersebut agar kita dapat hidup dalam persatuan serta menjalani hidup yang damai dan tentram. Tidak ada ruang bagi rasisme dan diskriminasi di dunia yang penuh keberagaman ini. Pemikiran rasisme hanyalah pemikiran pendek dari sebuah kesombongan dan kebencian terhadap sesuatu. 

Kita sebagai manusia modern, dilengkapi dengan kemudahan-kemudahan yang ada, seharusnya dapat dijadikan solusi dan upaya untuk menghapuskan rasisme dari lingkungan sosial kita. Rasisme masih bertahan karena kebanyakan orang diam dan seakan tak acuh dengan masalah tersebut. Jika, kita melihat ada tindakan rasisme yang terjadi di dekat kita, melawan dan bersuara adalah cara terbaik sebagai upaya penolakan adanya rasisme di masyarakat. Setiap orang memiliki perannya dalam menuntaskan rasisme. Sekecil apapun tetes air yang jatuh, batu akan terkikis juga. Sekecil apapun upayanya, akan memberi pengaruh juga.(*)

*) Opini penulis ini adalah tanggung jawab penulis seperti tertera, tidak menjadi bagian tanggung jawab redaksi kaltimtoday.co

Facebook Comments
Tags

Related Articles

Back to top button
Close