Opini
Takbir dan Tatanan Dunia
Oleh: Eko Ernada (Pengurus BPJI-PBNU dan Anggota Komisi HLNK MUI)
IDUL Fitri selalu kita rayakan sebagai hari kemenangan. Setelah sebulan menjalani Ramadan, manusia kembali pada fitrahnya—lebih jernih, lebih tenang, dan lebih terkendali. Namun di tengah dunia yang terus diliputi konflik, ketimpangan, dan krisis kemanusiaan, gema takbir hari ini terasa tidak sekadar sebagai ungkapan syukur. Ia juga seperti panggilan untuk merenung.
Dunia kita sedang tidak baik-baik saja. Di berbagai belahan dunia, konflik terus berlangsung. Di Timur Tengah, perang dan ketegangan geopolitik belum juga mereda. Di tempat lain, ketidakadilan dan krisis kemanusiaan menjadi realitas yang berulang. Dalam situasi seperti ini, kita dihadapkan pada pertanyaan yang mendasar: apa arti kemenangan dalam dunia yang penuh luka?
Transformasi Batin vs Dominasi Kekuatan
Dalam tradisi Islam, kemenangan Idul Fitri tidak pernah dimaknai sebagai dominasi atas yang lain. Ia berakar pada transformasi batin. Sebagaimana dijelaskan oleh Al-Ghazali, inti dari perjalanan spiritual manusia adalah tazkiyatun nafs—penyucian jiwa dari ego, keserakahan, dan dorongan destruktif. Ramadan melatih itu, dan Idul Fitri menjadi penandanya.
Artinya, kemenangan sejati adalah kemampuan mengendalikan diri, bukan menguasai orang lain. Namun, tatanan dunia modern justru banyak bergerak dalam arah yang berbeda. Kemenangan sering diukur dari kekuatan: siapa yang unggul secara militer, ekonomi, atau politik. Dalam logika ini, yang kuat menentukan arah, sementara yang lemah sering kali hanya menjadi dampak.
Dalam perspektif klasik, Ibnu Khaldun telah lama mengingatkan bahwa sejarah kerap digerakkan oleh solidaritas kelompok, atau ‘ashabiyah. Ia bisa menjadi sumber kekuatan, tetapi tanpa kendali nilai, ia juga mudah berubah menjadi justifikasi konflik yang berkepanjangan—ketika loyalitas kelompok mengalahkan pertimbangan kemanusiaan. Di titik inilah kita melihat paradoks dunia hari ini: tatanan global tampak terstruktur, tetapi sebenarnya rapuh secara moral.
Takbir sebagai Kritik Etis
Takbir Idul Fitri hadir sebagai pengingat yang melampaui semua itu. “Allahu Akbar”—Allah Maha Besar—bukan sekadar lafaz ritual. Ia adalah penegasan bahwa tidak ada kekuatan manusia yang absolut. Bahwa di atas segala ambisi dan kepentingan, ada nilai yang lebih tinggi yang seharusnya menjadi rujukan.
Dalam makna ini, takbir adalah kritik etis terhadap tatanan dunia yang terlalu mengandalkan kekuasaan, tetapi sering mengabaikan keadilan. Hikmah Idul Fitri karena itu tidak berhenti pada dimensi personal. Ia membawa implikasi global. Kemenangan spiritual yang kita rayakan seharusnya mendorong kesadaran bahwa dunia membutuhkan lebih dari sekadar kekuatan.
Dunia membutuhkan keseimbangan antara kekuasaan dan nilai, antara kepentingan dan kemanusiaan. Bagi umat Islam, ini adalah tantangan sekaligus panggilan. Selama ini, solidaritas sering kali berhenti pada ekspresi emosional. Padahal, dunia yang kompleks menuntut kontribusi yang lebih nyata—dalam bentuk pemikiran, diplomasi, penguatan institusi, dan keberanian untuk konsisten berpihak pada keadilan.
Komitmen Menjaga Kemanusiaan
Idul Fitri bisa menjadi titik tolak perubahan itu. Bahwa nilai-nilai Ramadan—kesabaran, pengendalian diri, dan empati—tidak cukup berhenti pada ruang privat. Ia harus hadir dalam cara kita melihat dunia, dalam cara kita merespons konflik, dan dalam keberanian untuk tidak menormalisasi ketidakadilan.
Di tengah berbagai krisis global, ada satu hal yang tetap menjadi penentu: kemampuan manusia untuk menjaga kemanusiaannya. Mereka yang tidak kehilangan empati, yang tetap memegang nilai di tengah tekanan, dan yang terus memperjuangkan keadilan—merekalah yang sesungguhnya menjaga harapan dunia.
Takbir yang kita kumandangkan hari ini, dengan demikian, bukan hanya penutup Ramadan. Ia adalah komitmen. Komitmen untuk menempatkan nilai di atas kekuatan. Komitmen untuk menjaga kemanusiaan di tengah tatanan dunia yang retak. Dan komitmen untuk tidak sekadar merayakan kemenangan, tetapi juga memperjuangkan maknanya.
Karena pada akhirnya, tatanan dunia tidak hanya ditentukan oleh siapa yang paling kuat, tetapi oleh siapa yang paling teguh menjaga nilai kemanusiaan. (*)
*) Opini penulis ini merupakan tanggung jawab penulis seperti tertera, tidak menjadi bagian tanggung jawab redaksi kaltimtoday.co
Related Posts
- Sambut Tahun Ajaran Baru di Ibu Kota Nusantara, Puluhan Pamong SMA Taruna Nusantara Mulai Tiba
- Integrasikan Sistem Laporan Warga, Pemkab Kukar Luncurkan Aplikasi Aduan Masyarakat
- Usung Konsep Bursa Kerja Tiap Hari, Pemkab Kukar Luncurkan Aplikasi Kukar Siap Kerja
- Pagu Naik Jadi Rp150 Juta per RT, Bupati Kukar Luncurkan Program RT-Ku Terbaik
- Overkapasitas Pasien, Pemprov Kaltim Evaluasi RSUD AWS dan Siapkan Gedung Baru








