Samarinda

10 Jam Diguyur Hujan, Sejumlah Aktivitas Warga Terdampak, Ratusan Penumpang Pesawat Dievakuasi Menggunakan Truk

Kaltimtoday.co, Samarinda – Berjam-jam lamanya Kota Tepian-sebutan Samarinda-di guyur hujan, membuat sejumlah aktivitas warga terhambat. Salah satunya, puluhan hingga ratusan penumpang penerbangan dari Bandara APT Pranoto, Sungai Siring, Samarinda Utara yang harus mengalami keterlambatan jadwal keberangkatan. Diketahui curah hujan mulai melanda Samarinda sejak Sabtu (11/1/2020) pukul 02.00 Wita dini hari hingga siang hari. Alhasil diperkirakan sebanyak 19 titik di wilayah Samarinda jadi terdampak. Ketinggian air pun bervariatif. Mulai dari 20 cm hingga mencapai 1 meter.

Bahkan, terpantau arus lalu lintas di kawasan simpang Perumahan Alaya yang terhubung dengan Jalan D.I Pandjaitan, Sungai Pinang harus mengular hingga kiloanmeter. Seorang warga Kecamatan Sambutan bernama Iqbal saat dijumpai awak media dipersimpangan Alaya menuturkan, jadwal penerbangannya terpaksa harus diundi lantara kondisi banjir yang tak memungkinkan.

Baca juga:  Jangan Hanya Sibuk IKN, Desa-desa di Pelosok Kaltim Butuh Listrik

“Dari jam 7 pagi tadi sudah jalan dari rumah. Rencana mau berangkat ke Bali,” ucapnya siang tadi saat dijumpai.

Terpisah seorang warga lainnya yang berasal dari Bontang bernama Fitri mengaku, harus bersabar hingga berjam-jam lamanya melintasi kemacetan karena banjir saat ini. Dijelaskannya, kemacetan mulai terjadi di gerbang selamat datang Samarinda jalan poros Samarinda-Bontang. Antrian kendaraan mengular hingga 3 kilometer. Kendaraan roda empat dan angkutan lainnya merayap di lajur jalan masuk Samarinda.

“Tadi baru lepas dari macet sore, mobil jalan pelan karena antre,” ujarnya.

Fitri mengaku, dia memasuki gerbang selamat datang Samarinda sekitar pukul 14.15 Wita. Namun dia dan rombongan baru memasuki Samarinda sekitar pukul 16.30 Wita. Terpisah, seorang warga lainnya di RT 20 Jalan DI Panjaitan, Sungai Pinang, Kosim (56) bersama istri terlihat sedang menyapu dan memindahkan kursi dan sejumlah meja warung Nasi Goreng Gresik Jaya yang dirintisnya sejak 1998. Dia bahkan mengatakan, kalau kejadian seperti ini mengingatkannya pada kejadian saat Lebaran Idul Fitri 2019 silam.

“Ya kayak gini tempat tidur juga kebanjiran. Sekitar jam 5 pagi air sudah tinggi,” kata Kosim.

Polresta Samarinda beserta TNI, Brimob, BPBD dan sejumlah relawan turut membantu mengatur lalu lintas di wilayah yang terdampak banjir.

Selain kemacetan di persimpangan Alaya, banjir dan kemacetan lain pun terpantau di kawasan Jalan M Yamin yang menghubungkan Jalan AW Sjahranie, KH Wahid Hasyim dan PM Noor sekitar pukul 14.00 Wita. Ketinggian air pun terpantau mencapai lutut orang dewasa. Sementara itu di Jalan Gatot Subroto juga terlihat antrean kendaraan yang turut mengular, lagi-lagi imbas dari genangan banjir. Air setinggi mata kaki orang dewasa membuat pengendara berjalan pelan. Sementara itu diruas jalur lainnya seperti Jalan Ahmad Yani, kemacetan terjadi sekitar 700 meter. Air yang menggenangi jalanan membuat pengusaha menutup ruko mereka.

Seorang warga lainnya bernama Roni Fauzan, warga Jalan Ahmad Dahlan, yang hendak berangkat ke Semarang Jawa Tengah harus menunggu sekitar 30 menit naik mobil pickup milik warga yang rela mengantarkan sampai depan Terminal Lempake menuju Bandara APT Pranoto.

“Penerbangan saya sekitar pukul 13.00 Wita, ya semoga saja banjir di kawasan Samarinda dapat selesai persoalannya dan harus diminimalisir,” harap Roni Fauzan.

Untuk melakukan penanggulangan kepada para penumpang bandara yang terdampak, Kapolresta Samarinda Kombes Pol Arif Budiman menuturkan, saat ini jajarannya beserta seluruh unsur gabungan, dari TNI, Brimob, BPBD dan sejumlah relawan turut melakukan bantuan dengan mengerahkan sedikit 6 unit truk untuk mengangkut para penumpang tersebut.

“Kami lakukan tindak lanjut dari peristiwa ini, sebisa mungkin kami akan mengakomodir mereka,” kata polisi berpangkat melati tiga ini.

“Kami angkut menggunakan truk sampai di persimpangan Lempake, dari sana kami akan sambung dengan truk lainnya dengan sistem estafet,” sambung Arif.

Untuk melakukan penanganan, Arif mengaku, sedikitnya ada 300 jumlah personel gabungan yang turut serta melakukan bantuan kepada para warga terdampak. Turut menambahkan, Irfan Kabid Kedaruratan Logistik BPBD Samarinda mengatakan, persoalan banjir di Samarinda sebenarnya hanya ada dua titik utama. Sementara kondisi yang ada begitu banyak titik terdampak dikarenakan tempat tersebut merupakan laluan dari air.

Hujan sejak pukul 02.00 dini hari menyebabkan sejumlah wilayah di Samarinda tergenang banjir, bahkan di Jalan Kenanga Dalam terpantau ketinggian air mencapai dada orang dewasa.

“Ya tentu terpengaruh, seperti di Mugirejo sini, kan saluran drainasenya lagi tahap perbaikan,” tuturnya.

Untuk menanggulangi setiap persoalan, Irfan menegaskan, BPBD akan berfokus melakukan evakuasi apabila ada rumah yang terdampak parah dan lainnya adalah memperlancar kegiatan warga maupun tujuan menuju Bandara APT Pranoto.

“Kalau ke bandara itu kami sekali angkut bisa ratusan orang. Semoga semua bisa akomodir,” imbuhnya.

Bukan hanya tempat di atas yang mengalami dampak banjir signifikan. Pasalnya di Jalan Kenanga Dalam, Kelurahan Sungai Pinang Dalam, Sungai Pinang pun sangat parah kondisinya. Ketinggian debit air bahkan sempat menembus ketinggian dada orang dewasa, yakni berkisar 1 meter.

“Hujan dari subuh, ya biasa memang begini mas. Kalau hujan deras atau lama pasti langsung banjir,” ucap Sri seorang ibu rumah tangga, saat dijumpai sore tadi di kediamannya.

Meski terus menerus terdampak, namun Sri dan keluarga terlihat begitu pasrah. Dia hanya berharap agar pemerintah bisa menemukan solusi kedepannya.

Baca juga:  Gelapkan 196 Unit HP, Pegawai Leasing Ini Ditangkap Polisi

“Ya sebisa mungkinlah ditanggulangi,” harapnya.

Meski ketinggian air cukup mengkhawatirkan, namun warga terlihat tetap bertahan. Bahkan seorang warga lainnya bernama Supendi warfa RT 74 menuturkan jika, kondisi ini begitu dia maklumi lantaran drainase yang berada di hulu jalan tak sesuai dengan jumlah debit air ketika memasuki musim penghujan.

“Ya karena hujan terlalu lama jadinya begini. Drainase di sini kecil soalnya. Kalau bisa diperbaiki dan jalan juga ditinggikan lah biar tidak begini terus,” pungkasnya.

[JRO | RWT]

Facebook Comments

Tags

Related Articles

Back to top button
Close