Daerah
198 Suspek Campak Ditemukan di Kukar, Tertinggi di Samboja
Kaltimtoday.co, Tenggarong – Lonjakan kasus campak kembali menjadi perhatian di sejumlah wilayah Indonesia pada awal 2026. Tingginya mobilitas masyarakat, terutama saat libur sekolah dan momentum hari besar, disebut menjadi salah satu pemicu meningkatnya penyebaran penyakit tersebut di berbagai daerah.
Di Kabupaten Kutai Kartanegara (Kukar), perkembangan kasus campak menunjukkan tren penurunan meski jumlah suspek mencapai ratusan orang. Hingga pertengahan April atau minggu ke-13, tercatat sebanyak 198 kasus masih berstatus suspek karena belum seluruhnya dikonfirmasi melalui hasil laboratorium.
Ketua Tim Kerja Surveilans, Imunisasi dan Penanggulangan Keadaan Luar Biasa (SIPKLB) Dinas Kesehatan Kukar, Hamdana Yunisar menjelaskan, puncak peningkatan kasus terjadi pada pertengahan Februari atau sekitar minggu ke-8.
Lonjakan tersebut bertepatan dengan masa libur sekolah, yang diikuti kembali peningkatan kasus pada pertengahan April saat aktivitas belajar mulai berjalan normal.
“Kalau tren kasus, memang paling tinggi di minggu ke-8 saat libur sekolah, kemudian kembali meningkat di minggu ke-13 karena mobilitas anak-anak mulai tinggi lagi,” kata Hamdana, Kamis (16/4/2026).
Kecamatan Samboja, lanjutnya, tercatat sebagai daerah dengan jumlah kasus terbanyak. Kondisi ini dipengaruhi letaknya yang berbatasan langsung dengan Kota Balikpapan, yang sebelumnya mengalami kejadian luar biasa (KLB) campak pada awal tahun.
Fenomena serupa juga pernah terjadi sebelumnya di wilayah perbatasan lain. Saat Bontang mengalami KLB campak, lonjakan kasus di Kukar tercatat paling tinggi di Kecamatan Marangkayu yang berbatasan langsung.
“Jadi daerah-daerah perbatasan yang tinggi itu kasusnya,” sambungnya.
Berdasarkan laporan fasilitas kesehatan, kasus terbanyak dilaporkan oleh Rumah Sakit Abadi Samboja. Disusul Rumah Sakit Parikesit Tenggarong, dan wilayah Sungai Meriam di Kecamatan Anggana
Ia menambahkan, penyebaran kasus di Kukar tidak didominasi kelompok usia tertentu. Kasus ditemukan merata mulai dari bayi, balita hingga usia dewasa, tanpa ada kelompok yang mencolok secara signifikan.
“Jadi hampir sama, tidak ada yang menonjol di satu kelompok usia,” ucapnya.
Meski demikian, Dinkes Kukar belum menetapkan status kejadian luar biasa (KLB) karena seluruh kasus masih berstatus suspek dan belum terkonfirmasi laboratorium. Saat ini, status yang diterapkan masih dalam tahap kewaspadaan dini.
Sejumlah langkah penanganan pun telah dilakukan, mulai dari pelacakan kontak erat, penerbitan surat edaran kewaspadaan.
Selain itu, juga gencar melakukan edukasi kepada masyarakat melalui berbagai saluran, termasuk siaran radio daerah dan kolaborasi dengan mahasiswa yang tengah menjalani masa magang.
“Kita sudah melakukan tindakan-tindakan preventif. Tindakan pencegahan atau penanganan lebih lanjut,” ujarnya.
Ke depan, pemerintah juga merencanakan vaksinasi campak bagi tenaga kesehatan sebagai tindak lanjut arahan dari Kementerian Kesehatan, meski pelaksanaannya masih menunggu surat edaran resmi dari pemerintah provinsi serta ketersediaan logistik.
“Yang terbaru ini, rencana akan dilakukan vaksinasi campak untuk dokter dan tenaga kesehatan,” tandasnya.
[RWT]
Related Posts
- Bayi Perempuan Ditemukan dalam Kantong Plastik di Samboja, Diduga Dibuang Ibu Kandung
- Kecamatan Samboja Terus Kembangkan Potensi Komoditi Perikanan
- Muslimat NU Samboja Resmi Dilantik, Camat Harap Organisasi Berkembang Maju dan Kompak
- Mengenal Lumbung Padi Samboja dan Sawah Sudut Pandang, 2 Objek Wisata Alam yang Viral di Kaltim
- Hadiri Panen Raya, Seno Aji Beri Bantuan John Deere dan Hand Traktor untuk Menunjang Potensi Pertanian di Samboja









