Daerah
Akademisi Tanggapi Sikap Ananda Emira Moeis yang Soroti Keselamatan Warga Usai Insiden Beruntun Tongkang Tabrak Jembatan Mahakam
Kaltimtoday.co, Samarinda - Insiden penabrakan tongkang terhadap Jembatan Mahakam yang terjadi secara beruntun memicu keprihatinan luas. Kejadian ini tidak hanya mengancam infrastruktur vital, tetapi juga dinilai membawa dampak kerugian ekonomi jangka panjang bagi masyarakat Kalimantan Timur.
Akademisi Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Mulawarman (Unmul), Hairul Anwar Sappo, menyatakan bahwa Sungai Mahakam adalah urat nadi ekonomi warga. Setiap insiden di area jembatan tersebut dipastikan menimbulkan kegelisahan di tengah masyarakat.
“Sebagai orang Kalimantan Timur, perasaan kita tentu campur aduk. Sedih, marah, dan kesal melihat kejadian yang terus berulang,” ujarnya.
Menurut Hairul, persoalan penabrakan jembatan tidak bisa hanya dilihat dari kerusakan fisik yang terjadi. Selama ini, penanganan yang dilakukan umumnya hanya sebatas memeriksa kerusakan dan menghitung nilai ganti rugi. Padahal, dampak jangka panjang terhadap umur konstruksi jembatan jarang diperhitungkan.
Ia menjelaskan, Jembatan Mahakam dibangun puluhan tahun lalu. Jika insiden penabrakan terus terjadi, maka umur teknis jembatan berpotensi semakin pendek dan kebutuhan pemeliharaan berat akan datang lebih cepat.
“Biaya-biaya seperti ini memang sulit dihitung secara langsung, tetapi kerugiannya nyata,” katanya pada Rabu (11/03/2026).
Hairul juga menyoroti dampak ekonomi ketika jembatan harus ditutup sementara demi alasan keamanan. Penutupan tersebut dapat menghambat distribusi logistik karena ribuan kendaraan, termasuk truk pengangkut barang, setiap hari melintasi jembatan tersebut.
“Jika jembatan ditutup satu atau dua hari saja, distribusi barang akan terganggu dan mobilitas pekerja juga terdampak. Kerugian ekonomi seperti ini jarang masuk dalam perhitungan ganti rugi,” jelasnya
Terkait desakan publik, Hairul mendukung sikap Wakil Ketua DPRD Kaltim, Ananda Emira Moeis, yang gencar menyuarakan isu keselamatan warga. Ia menilai langkah legislatif tersebut murni untuk kepentingan umum masyarakat Kaltim.
"Contoh soal pernyataan Ananda Emira Moeis kemarin, dia sebagai seorang anggota legislatif menyuarakan tidak kepentingan pribadi. Yang disuarakan adalah kepentingan umum dan kepentingan masyarakat Kalimantan Timur," tegasnya.
Sementara itu, Wakil Kepala Bidang Organisasi DPD GMNI Kalimantan Timur, Wahyu Agung Saputra, turut menyayangkan insiden penabrakan Jembatan Mahakam yang terus berulang. Ia menyebut dalam satu tahun terakhir tercatat puluhan insiden serupa terjadi di kawasan tersebut.
“Jembatan Mahakam merupakan akses vital bagi distribusi logistik dan aktivitas masyarakat. Jika terus-menerus ditabrak, tentu daya tahan jembatan akan menurun dan ini berpotensi membahayakan ke depan,” katanya.
Senada dengan Hairul, Wahyu juga mendukung suara yang disampaikan Ananda Emira Moeis karena dinilai berpihak pada kepentingan masyarakat.
“Kami membaca pernyataan Mbak Ananda dan melihat bahwa beliau berada di pihak masyarakat. Apa yang disampaikan tentu untuk kemakmuran dan keselamatan masyarakat Kalimantan Timur,” ujarnya.
DPD GMNI Kalimantan Timur, lanjut Wahyu, juga menyatakan komitmen untuk ikut mengawal persoalan tersebut agar insiden penabrakan di Jembatan Mahakam tidak terus terulang.
“Kami siap mendukung setiap upaya yang bertujuan melindungi kepentingan dan keselamatan masyarakat Kalimantan Timur,” pungkasnya.
[RWT]
Related Posts
- Sentil Proyek Teras Samarinda hingga Pasar Pagi, PDIP Dorong Pemkot Gunakan Konsep Trisakti
- Kasus Korupsi Hibah DBON, Mantan Kadispora Kaltim Agus Hari Kesuma Divonis 2,5 Tahun Penjara
- Zairin Zain Divonis 4 Tahun Penjara Kasus DBON Kaltim, Kuasa Hukum Isyaratkan Banding
- Misran Toni Buka Suara Usai Bebas, Mengaku Dipaksa Mengaku sebagai Pembunuh Russel di Muara Kate
- Deforestasi Berau Tertinggi di Indonesia, Gamalis Sentil Perusahaan yang Hanya Ambil Hasil Hutan









