Opini

Alam Bukan untuk Dirusak

Oleh: Syahrul Ramadhan, (Mahasiswa Jurusan Ilmu Pemerintahan Universitas Muhammadiyah Malang)

Alam yang hijau menandakan hutan masih melimpah ruah. Berbagai macam makhluk hidup yang ada di sekitarnya membuat kenyamanan terhadap aktivitas kehidupan yang dijalankan. Seiring perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi yang semakin maju menandakan kemajuan akal pikiran manusia. Namun dengan kemajuan berpikir dari manusia tersebut membuatnya lalai dalam melestarikan alam yang hijau. Karena adanya pemanfaatan alam yang disalahgunakan sehingga tidak adanya sinergisitas antara manusia dengan alam. Kenapa demikian?

Karena alam saat ini dijadikan komoditas oleh manusia. Dengan banyaknya pemodal yang ingin memperkaya dirinya, baik tingkat nasional maupun regional. Alam menjadi sasaran utama untuk dieksploitasi oleh pemodal, sehingga kerusakan alam semakin marak terjadi baik di daratan maupun lautan. Kekayaan alam yang terus-menerus diambil tanpa melihat dampak yang ditimbulkan akan membuat keanekaragaman hayati semakin sulit untuk mencari tempat tinggalnya. 

Baca juga:  Catatan Reflektif Hari Anak Nasional 2020: Pentingnya Partisipasi Orangtua Tetap Menyekolahkan Anak Usia Dini

Hutan-hutan yang hijau dengan berbagai macam flora dan fauna yang berada di dalam hutan sudah mulai punah diakibatkan adanya pembukaan lahan dengan cara dibakar. Hal ini menjadikan flora dan fauna yang hidup di hutan banyak yang mati, sehingga fauna yang masih hidup tidak memiliki ruang hidup yang luas di karenakan lahan tersebut digunakan untuk mendirikan industri. 

Dampak yang dihasilkan dari industri yaitu rusaknya lingkungan yang ada di sekitarnya. Berbagai macam limbah dan asap yang dikeluarkan akan mencemari lingkungan. Sehingga kerusakan akan banyak di karenakan industri tersebut tidak mampu melakukan pencegahan yang lebih baik terhadap lingkungan sekitarnya. Maka ruang hidup yang dijalankan oleh makhluk hidup akan sempit untuk menemukan lingkungan yang bersih.

Pemodal besar akan terus melakukan ekspansi secara besar-besaran untuk bisa mendapatkan tempat yang akan dieksploitasi. Selain daratan yang menjadi sasaran untuk diambil kekayaan alamnya, kini lautan menjadi tempat eksploitasi oleh pemodal agar mendapatkan kekayaan alam yang berada di dalamnya. Maka pengeboran minyak di lautan sangat begitu massif terjadi. Dampak yang dihasilkan sangat buruk bagi habitat yang berada di sekitarnya. Karena akan merusak kekayaan alam yang ada di lautan seperti terumbu karang, dan hewan yang berada di dalam lautan. Hal tersebut diakibatkan adanya tumpahan minyak yang terjadi saat pengeboran minyak berlangsung. Bisa juga dikarenakan adanya kebocoran pipa minyak ketika proses pengambilan minyak berlangsung.

Kerusakan lingkungan di berbagai daerah yang ada di Indonesia membuat keprihatinan bagi kehidupan manusia, flora dan fauna kedepannya. Sehingga tempat tinggal yang nanti menjadi tempat kehidupan tidak lagi baik. Dengan berbagai macam kerusakan lingkungan akan menjadi sebuah persoalan bagi manusia yang hidup berdampingan dengan alam. Secara tidak langsung akan berdampak bencana alam, dengan kondisi lingkungan yang rusak. Ketika melihat data dari Jaringan Advokasi Tambang (Jatam) ada beberapa jumlah lubang tambang yang terdapat di Kalimantan Timur, yaitu 1.735 lumbang tambang. Kemudian korban yang meninggal dunia ada 37 orang diakibatkan galian tambang batu bara tanpa adanya reklamasi dan rehabilitas. Selain itu kehidupan yang dulunya lebat dengan hutan sudah mulai habis di babat oleh perusahaan tambang batu bara.

Teluk Balikpapan-Penajam yang berada di Kaltim sudah banyak ekosistem laut yang rusak diakibatkan banyaknya tumpahan minyak, karena teluk Balikpapan-Penajam berhadapan dengan Pertamina sehingga berbagai macam kapal yang berlalu-lalang di sekitarnya. Kapal yang identik akan mencemari yaitu kapal minyak dan kapal batu bara, hampir setiap harinya selalu ada di sekitaran teluk Balikpapan-Penajam. Bahkan pernah terjadi tumpahan minyak sebanyak 40.000 ribu barrel pada 2018 di teluk Balikpapan-Penajam. Hal ini menimbulkan berbagai macam hewan laut yang mati dan pindah tempat. Hewan tersebut antara lain ikan pesut, lumba-lumba, dan berbagai macam hewan lainnya. Di karenakan adanya tumpahan minyak yang kerap terjadi walaupun sedikit tetapi mematikan ekosistem laut.

Baca juga:  Keluarga Berencana sebagai Asa Pembangunan Manusia Kaltim

Berbagai problem yang didapatkan dalam kehidupan sehari-hari yang dikarenakan banyaknya aktivitas manusia. Dengan segala produktivitas dikendalikan oleh sistem kapitalisme tersebut menjadikan manusia terasing dengan jiwa kesosialannya. Sehingga sebagian manusia menjadi tidak peduli dengan lingkungan hidupnya. Kesadaran yang kurang dengan realitas yang terjadi menjadikan kehidupan dengan lingkungan sekitarnya tidak terawat dengan baik. Salah satu bentuk kesadaran yang harus benar-benar terpenuhi yaitu dengan adanya rasa kepedulian untuk menyadarkan masyarakat sekitarnya. Sehingga bisa sama-sama melawan segala bentuk penghisapan yang dilakukan oleh pemodal. Maka dari itu, harus adanya gerakan perlawanan yang dilakukan oleh masyarakat secara terorganisir. Pengalihan fungsi lahan akan terus terjadi apabila tidak adanya pencegahan secara besar-besaran yang salah satunya dengan melawan segala bentuk penghisapan yang dilakukan oleh pemodal. Karena bentuk kepedulian dengan alam akan bisa terwujud apabila kita sebagai manusia menyadarinya.

Setiap kehidupan yang dijalankan manusia di muka bumi tidak bisa dipisahkan dengan alam. Sebagai manusia memiliki tanggung jawab terhadap alam untuk melestarikannya. Sehingga peran manusia sangat dibutuhkan, dengan akal pikiran yang cemerlang akan mampu memberikan perubahan yang baik terhadap alam di sekitarnya. Pada dasarnya alam bukan untuk dirusak tetapi dirawat. Karena alam bisa saja marah sehingga menimbulkan berbagai macam bencana alam yang diakibatkan ulah manusia.(*)

*) Opini penulis ini adalah tanggung jawab penulis seperti tertera, tidak menjadi bagian tanggung jawab redaksi kaltimtoday.co

Facebook Comments
Tags

Related Articles

Back to top button
Close