Nasional
Belajar dari Kasus Dokter Icha, Ini 5 Pertolongan Pertama Saat Digigit Ular Menurut WHO
Kaltimtoday.co - Kasus tragis yang menimpa Eliza Princila Utami Pakaenoni atau dokter Icha (27) di Kabupaten Timor Tengah Utara (TTU), Nusa Tenggara Timur (NTT), terus menyita perhatian publik. Insiden memilukan ini bermula saat dokter Icha yang sedang bertugas di Instalasi Gawat Darurat (IGD) Rumah Sakit Leona Kefamenanu menangani seorang pasien anak yang menjadi korban gigitan ular.
Berdasarkan keterangan resmi dari pihak rumah sakit dan rekan sejawat, tindakan medis terhadap pasien anak tersebut sebenarnya telah dilakukan sesuai Standar Operasional Prosedur (SOP) serta arahan dokter spesialis anak. Namun, situasi di lapangan kemudian memanas ketika keluarga pasien memaksa agar anak tersebut diberikan jenis vaksin tertentu.
Permintaan keluarga tersebut tidak dapat dipenuhi pihak rumah sakit karena jenis vaksin yang dimaksud tidak tersedia, dan secara medis memang belum direkomendasikan untuk indikasi klinis pasien saat itu. Tidak lama berselang, sejumlah pihak termasuk oknum anggota DPRD Kabupaten TTU, yakni Robertus Tubani dan Therensius Lazakar, datang ke rumah sakit.
Berdasarkan kesaksian yang beredar di masyarakat, oknum anggota legislatif tersebut diduga berbicara dengan nada tinggi, menunjuk-nunjuk dokter Icha, serta diduga berada di bawah pengaruh minuman beralkohol. Insiden intimidasi ini membuat dokter Icha mengalami tekanan psikologis berat hingga menangis saat masih menjalankan tugasnya, sebelum akhirnya ditemukan meninggal dunia.
Rentetan kasus ini menjadi pengingat penting bahwa penanganan korban gigitan ular sepenuhnya harus mengacu pada pertimbangan medis objektif oleh tenaga kesehatan. Pemahaman mengenai langkah pertolongan pertama yang benar sangat krusial agar masyarakat tidak salah kaprah sebelum korban dirujuk ke rumah sakit.
Berikut langkah-langkah penanganan pertama jika digigit ular, yang dikutip dari World Health Organization (WHO):
Penanganan Pertama Saat Digigit Ular
1. Tetap tenang dan batasi gerakan tubuh
Hal pertama yang harus dilakukan adalah tetap tenang dan mengurangi gerakan tubuh. Kepanikan dapat meningkatkan detak jantung sehingga racun ular menyebar lebih cepat melalui aliran darah maupun sistem limfatik. Korban sebaiknya dibuat senyaman mungkin dan diupayakan tidak banyak bergerak, terutama pada bagian tubuh yang terkena gigitan.
2. Pindahkan korban ke tempat yang aman
Segera pindahkan korban ke lokasi yang aman dan jauh dari jangkauan ular. Hindari upaya menangkap atau membunuh ular karena tindakan tersebut dapat memicu gigitan berikutnya. Jika aman dilakukan, cukup dokumentasikan rupa ular dari jarak aman guna membantu tim medis mengidentifikasi jenis bisa dan menentukan penanganan yang sesuai.
3. Lepaskan perhiasan dan pakaian yang ketat
Perhiasan maupun pakaian yang ketat di sekitar area gigitan harus segera dilepas. Cincin, gelang, jam tangan, atau aksesori lainnya dapat menghambat aliran darah ketika pembengkakan mulai terjadi pada tubuh korban, sehingga berisiko menyebabkan kerusakan jaringan permanen.
4. Posisikan area gigitan dengan benar
Apabila gigitan terjadi pada tangan atau kaki, usahakan posisi bagian tubuh tersebut berada sejajar atau sedikit lebih rendah dari posisi jantung. Langkah ini bertujuan untuk membantu memperlambat laju penyebaran racun menuju organ-organ vital di dalam tubuh.
5. Bersihkan dan tutup luka
Luka gigitan dapat dibersihkan secara perlahan menggunakan air mengalir dan sabun. Setelah dibersihkan secara rapi, tutupi luka dengan kain bersih atau perban kering yang dipasang secara longgar, serta hindari memberikan tekanan berlebihan pada area tersebut.
Kesalahan yang Harus Dihindari Saat Digigit Ular
Masih banyak mitos mengenai pertolongan pertama akibat gigitan ular yang ternyata justru membahayakan nyawa korban. Berdasarkan rekomendasi Mayo Clinic, beberapa tindakan berikut sebaiknya jangan dilakukan:
1. Jangan mengikat area yang tergigit terlalu kencang
Mengikat bagian tubuh yang tergigit menggunakan tourniquet atau ikatan yang sangat kencang merupakan tindakan yang berbahaya. Cara keliru ini dapat menghentikan sirkulasi darah sepenuhnya dan meningkatkan risiko kerusakan jaringan berat hingga berujung amputasi.
2. Jangan menyedot racun ular dengan mulut
Menyedot racun ular menggunakan mulut sangat tidak dianjurkan oleh tim medis. Cara ini sama sekali tidak terbukti efektif mengeluarkan racun dari tubuh, justru dapat meningkatkan risiko infeksi pada luka korban serta membahayakan keselamatan orang yang mencoba menyedotnya.
3. Jangan menyayat atau membelah luka gigitan
Luka gigitan tidak boleh disayat atau dibelah dengan alasan apa pun untuk mengeluarkan bisa. Tindakan ekstrem tersebut hanya akan memperparah kerusakan jaringan kulit korban dan meningkatkan risiko perdarahan masif serta infeksi bakteri luar.
4. Jangan mengompres luka dengan es atau alkohol
Mengompres luka menggunakan es, cairan alkohol, atau bahan kimia lainnya juga sangat tidak disarankan. Paparan suhu dingin yang ekstrem justru dapat memperburuk kerusakan jaringan sel di sekitar bekas gigitan ular.
Seluruh korban gigitan ular, baik yang diduga berbisa maupun tidak, wajib segera dilarikan ke fasilitas pelayanan kesehatan atau rumah sakit terdekat. Pemeriksaan medis tetap diperlukan karena gejala klinis akibat racun ular terkadang tidak langsung muncul sesaat setelah gigitan terjadi.
Di rumah sakit, tenaga medis akan melakukan observasi, memantau kondisi vital korban, serta memberikan penanganan darurat yang diperlukan. Jika terdapat indikasi medis yang kuat, korban nantinya akan memperoleh Serum Antibisa Ular (SABU) yang hanya boleh diberikan oleh tenaga kesehatan sesuai prosedur.
[RWT]






