Nasional

Blackout Sumatera Jadi Alarm Keras bagi PLN, Pengamat Soroti Tata Kelola dan Kepemimpinan

Network — Kaltim Today 23 Mei 2026 18:09
Blackout Sumatera Jadi Alarm Keras bagi PLN, Pengamat Soroti Tata Kelola dan Kepemimpinan
Ilustrasi. (Pixabay)

Kaltimtoday.co - Peristiwa pemadaman listrik massal atau blackout yang melanda wilayah Sumatera dinilai menjadi alarm serius bagi PT PLN (Persero). Insiden ini terjadi di tengah klaim ketahanan energi nasional yang selama ini terus digaungkan oleh pihak bank sentral maupun pemerintah.

Pengamat kebijakan publik dari Universitas Trisakti, Trubus Rahardiansah, menilai blackout di Sumatera menjadi “lampu kuning” atau alarm bahaya bagi kualitas pelayanan publik PLN. Hal ini dikarenakan dampak pemadaman yang sangat besar terhadap aktivitas masyarakat dan pelaku usaha.

“Kejadian ini bisa jadi lampu kuning bagi PLN dalam rangka memberikan pelayanan publik yang optimal, karena banyak masyarakat dan pelaku usaha yang dirugikan dari pemadaman ini,” ujar Trubus saat memberikan keterangan pada Sabtu (23/5/2026).

Trubus menjelaskan, PLN perlu segera melakukan pembenahan tata kelola kedepannya. Selain itu, badan usaha milik negara tersebut diminta untuk memperluas sumber energi listrik guna mengurangi ketergantungan pada pembangkit listrik tenaga uap (PLTU) dan pembangkit listrik tenaga air (PLTA).

“Jadi, menurut saya langkah-langkah yang harus dilakukan PLN sekarang, di samping memperbaiki tata kelolaannya, bagaimana PLN melakukan langkah-langkah perluasan atau mencarikan sumber-sumber listrik lain," kata Trubus menyarankan.

Lebih lanjut, Trubus mendorong percepatan pengembangan energi alternatif, termasuk wacana pembangunan pembangkit listrik tenaga nuklir (PLTN). Langkah ini dinilai krusial untuk memperkuat ketahanan energi nasional di masa depan.

“Jadi yang sumbernya dari PLTN, ini perlu dipercepat,” ucapnya menambahkan.

Trubus menegaskan bahwa sektor energi memiliki pengaruh yang sangat besar terhadap pertumbuhan ekonomi nasional. Oleh karena itu, gangguan besar pada sistem kelistrikan tidak boleh dianggap sepele, sehingga wajar jika kemudian muncul mosi ketidakpercayaan publik.

“Wajar kalau publik marah dan mempertanyakan kepemimpinan PLN. Karena kalau energi itu bermasalah, ya otomatis akan mempengaruhi pertumbuhan ekonomi,” tutur Trubus menjelaskan dampaknya.

Sementara itu, pandangan berbeda disampaikan oleh pengamat energi dari Universitas Gadjah Mada (UGM), Fahmy Radhi. Ia menilai peristiwa blackout merupakan hal yang secara teknis bisa terjadi di berbagai negara dan tidak hanya dialami oleh Indonesia.

Fahmy berpendapat bahwa gangguan listrik massal merupakan risiko teknis yang pada kondisi tertentu sulit dihindari, terutama apabila berkaitan dengan jaringan transmisi interkoneksi. Menurutnya, pemadaman global ini tidak bisa langsung dikaitkan dengan lemahnya ketahanan energi nasional.

Ia menjelaskan, PLN sebenarnya telah memiliki sistem pemantauan digital atau digital monitoring system untuk mendeteksi gangguan dan mempercepat proses perbaikan. Namun, dalam kasus blackout besar seperti di Sumatera, proses pemulihan membutuhkan waktu lebih lama karena menyangkut jaringan kelistrikan yang luas.

Meskipun menilai langkah PLN dalam mengembangkan energi terbarukan sudah berjalan dengan baik, Fahmy mengingatkan manajemen PLN untuk tetap meningkatkan pemeriksaan jaringan listrik secara rutin. Ia juga meminta segera dilakukan penggantian komponen yang sudah tidak layak guna meminimalkan risiko di masa mendatang.

"Saya kira memang pemeriksaan jaringan harus menjadi perhatian utama. Kemudian kalau misalnya perlu ada penggantian komponen tertentu, itu harus segera, sehingga ke depannya hal-hal seperti ini bisa dikurangi atau diminimalisir," pesan Fahmy.

Fahmy juga menilai frekuensi pemadaman listrik yang terjadi saat ini sebenarnya sudah jauh berkurang dibanding beberapa tahun lalu. Selama pemadaman tidak terus berulang di wilayah yang sama, gangguan tersebut dianalisis lebih banyak dipengaruhi faktor teknis dan kondisi alam yang tidak sepenuhnya bisa dikendalikan.

Sebelumnya, Direktur Utama PLN, Darmawan Prasodjo, mengonfirmasi bahwa gangguan pertama kali terdeteksi pada Jumat (22/5/2026) sekitar pukul 18.44 WIB. Sejak awal gangguan, personel PLN diklaim langsung bergerak melakukan penanganan dan pemulihan sistem kelistrikan secara bertahap.

Berdasarkan indikasi awal tim teknis di lapangan, gangguan kelistrikan massal tersebut dipicu oleh kondisi cuaca buruk yang memengaruhi sebagian sistem kelistrikan di Sumatera.

“Gangguan pada ruas transmisi berdampak meluas pada sebagian sistem transmisi Sumatera, mengakibatkan penurunan frekuensi akibat beban berat pembangkit dan memicu efek domino gangguan di sejumlah wilayah,” jelas Darmawan dalam konferensi pers pada Sabtu (23/5/2026).

Darmawan menambahkan, jaringan transmisi yang sempat terganggu tersebut akhirnya berhasil dipulihkan petugas dalam waktu sekitar dua jam. Setelah jalur transmisi kembali normal, PLN memprioritaskan pengoperasian kembali pembangkit-pembangkit listrik yang terdampak agar terhubung ke sistem.

[RWT] 



Berita Lainnya