Daerah

Diskusi Publik Hari Kartini 2026: Menjadikan Literasi sebagai Warisan Perlawanan Perempuan di Kaltim

Nindiani Kharimah — Kaltim Today 25 April 2026 20:04
Diskusi Publik Hari Kartini 2026: Menjadikan Literasi sebagai Warisan Perlawanan Perempuan di Kaltim
Diskusi publik memperingati Hari Kartini di Aula Perpustakan Samarinda, Sabtu (25/4/2026). (Nindi/Kaltimtoday.co)

Kaltimtoday.co, Samarinda - Peringatan Hari Kartini pada 2026 di Samarinda tidak hanya seremonial belaka. Kali ini, diskusi bertajuk “Perempuan Kalimantan Timur Dulu dan Kini. Setara Belum? Aman Belum?” sengaja dihadirkan terbuka untuk publik.

Forum ini membedah urgensi kesetaraan gender dan jaminan keamanan bagi perempuan di Benua Etam dengan melibatkan beragam narasumber mulai dari sejarawan hingga aktivis literasi. Diskusi yang digelar menitikberatkan pada kolaborasi lintas gender untuk menekan angka kekerasan serta penguatan literasi sebagai alat perlawanan sejak masa Kartini hingga sekarang.

Alisya Anastasya, pengurus The Femme Lit Society Bookclub sekaligus mahasiswa Sastra Indonesia Universitas Mulawarman, menyoroti pentingnya keterlibatan laki-laki dalam isu gender. Ia menilai selama ini laki-laki justru sering kali disingkirkan dari pembicaraan pemberdayaan, padahal peran mereka sangat signifikan untuk mengubah struktur yang tidak adil di mana laki-laki masih mendominasi sebagai pelaku kekerasan.

“Laki-laki sering kali disingkirkan pada isu pemberdayaan gender, sebagian pihak hanya fokus pada perempuan. Padahal poin pentingnya adalah bagaimana laki-laki dan perempuan itu mampu berkolaborasi,” ujar Alisya. Ia menegaskan bahwa kunci utama dari perubahan sosial ini adalah sinergi antar gender agar ruang aman bagi perempuan dapat tercipta secara sistemik. 

“Untuk kegiatan hari ini, goals utamanya semoga anggapan ke perempuan itu tidak cuma berhenti di pakai kebaya atau juga memasak. Tapi juga lebih dalam ke literasi, pendidikan, dan juga hak-hak perempuan lain yang selama ini masih asing,” kata Alisya Sabtu (25/4/2026).

Perspektif sejarah kemudian diperdalam oleh sejarawan publik Muhammad Sarip yang mengkritik narasi subordinasi perempuan dalam catatan masa lalu. Ia mencontohkan sosok Djumantan Hasyim yang memiliki integritas intelektual mandiri jauh sebelum suaminya menjadi pejabat publik pada tahun 1980-an. 

Menurut Sarip, selama ini perempuan hanya dimunculkan sebagai pelengkap atau bayang-bayang dari kesuksesan suaminya saja. “Perempuan itu sifatnya subordinat, pelengkap cerita saja, atau kalau dalam kiprah birokrasinya itu mengikut suami,” jelas Sarip. 

Ia mendorong agar sejarah lokal mulai memberikan tempat yang layak bagi tokoh perempuan tanpa harus bergantung pada nama besar laki-laki di sekitarnya. “Perempuan bisa berdiri di sini sebagai sebuah sejarah tanpa menonjolkan peran laki-lakinya,” tambahnya.

Dukungan terhadap dokumentasi sejarah perempuan juga disuarakan oleh Inni Indarpuri, novelis yang aktif menulis biografi tokoh-tokoh penting di Kalimantan Timur. Melalui sesi In Memoriam Perempuan Kaltim, ia mengangkat dedikasi Meiliana, mantan Pj Sekda Provinsi Kaltim, sebagai teladan kepemimpinan perempuan di ranah birokrasi. 

Inni memandang bahwa penulisan biografi adalah upaya strategis untuk memastikan kontribusi perempuan tidak hilang ditelan zaman. “Menulis biografi tokoh seperti Meiliana adalah upaya kita untuk mengabadikan jejak kepemimpinan perempuan di Kaltim agar tidak hilang ditelan zaman,” ungkap Inni. 

Ia meyakini bahwa identitas perempuan daerah yang kuat harus terus disuarakan melalui karya-karya literasi yang berbasis kearifan lokal. “Perempuan Kaltim memiliki identitas kuat melalui kearifan lokal yang tertuang dalam karya literasi mereka sendiri,” jelasnya.

Tak mau ketinggalan, Ketua Ikatan Pustakawan Indonesia (IPI) Samarinda, Inui Nurhikmah, menekankan bahwa literasi adalah fondasi perlawanan yang diwariskan oleh Kartini melalui tulisan-tulisannya. Di tengah tantangan pemangkasan anggaran pemerintah, kolaborasi dengan komunitas dan inisiatif masyarakat menjadi kunci utama agar program literasi di Perpustakaan Kota Samarinda tetap berjalan efektif. 

“Inisiatif dari masyarakat seperti ini sangat membantu program perpustakaan Kota Samarinda tetap menggalakkan literasi dan mengumpulkan massa,” tutur Inui. 

Ia melihat rekam jejak Kartini dalam bentuk surat sebagai bukti bahwa tulisan memiliki kekuatan untuk melintasi zaman dan menjadi inspirasi bagi generasi mendatang. “Ini menggambarkan bahwa literasi itu menjadi sangat penting warisan sejarah dari dulu sampai sekarang,” pungkas Inui.

[RWT]



Berita Lainnya