Samarinda

Donor Plasma Darah Jadi Alternatif untuk Bebas dari Covid-19

Kaltimtoday.co, Samarinda – Peningkatan kasus positif Covid-19 di kian masif. Termasuk di Kaltim. Belakangan ini, mulai ramai pula diperbincangkan perihal terapi plasma konvalesen atau donor plasma darah dari penyintas Covid-19. Pendonoran ini dipercaya bisa membantu proses pemulihan pasien yang tengah dirawat karena terpapar virus dari Wuhan, Tiongkok itu.

Kaltimtoday.co berkesempatan untuk mewawancarai Dr.dr Lily Pertiwi Kalalo, SpPK pada Kamis (14/1/2021). Dokter spesialis patologi klinik itu menjelaskan bahwa di dalam darah seseorang yang sembuh dari Covid-19, terdapat banyak antibodi. Antibodi itu terletak di plasma. Ada beberapa syarat yang harus dipenuhi calon pendonor.

Baca juga:  Barang Bekas yang Layak Pakai, Thrift Simpan Nilai Berharga hingga Sejarah

Pertama harus berusia 17-60 tahun. Jika calon pendonor berusia di atas 60 tahun, biasanya sudah disertai dengan komorbiditas atau penyakit penyerta. Seandainya mengambil plasma dari orang dengan komorbiditas, bisa memengaruhi kondisi yang bersangkutan. Jika calon pendonor berjenis kelamin perempuan, maka harus dipastikan belum pernah hamil.

Ketika seseorang hamil dan mengandung anak, sudah terbentuk antibodi terhadap materi genetik asing. Antibodi yg terbentuk pada ibu hamil ini bisa memicu reaksi antigen-antibodi pada penerima donor konvalesen.

“Di ibu ini mungkin tak masalah, tetapi kalau plasmanya didonorkan ke orang lain bisa ada pengaruh,” jelas Lily.

Sehingga, calon pendonor lebih baik dari laki-laki atau perempuan yang belum pernah hamil. Terkait waktu donor pun diminta minimal 1 bulan dari tanggal terkonfirmasi positif. Itu lebih untuk memastikan bahwa antibodi seseorang yang sudah sembuh dari Covid-19 masih tinggi. Sebab jika terlalu lama, antibodi bisa saja menurun.

“Jadi misalnya pun kurang dari 1 bulan tapi antibodinya masih tinggi, masih boleh mendonorkan. Tidak harus kaku 1 bulan. Itu untuk perkiraan saja,” bebernya.

Berdasarkan petunjuk dari Kementerian Kesehatan (Kemenkes), calon pendonor harus memiliki titer antibodi serum spesifik IgG anti SARS-COV-2 lebih dari 1:320. Calon pendonor yang sudah sembuh dari Covid-19 pun harus dibuktikan dengan hasil tes swab PCR negatif.

Dokter pun akan melakukan screening terhadap calon pendonor demi mengetahui penyakit penyerta apa yang dimiliki. Sebab pendonor tak boleh memiliki penyakit seperti diabetes, hipertensi, kanker, penyakit saluran pernapasan. Selain itu, pendonor pun mesti dinyatakan negatif dari penyakit infeksi menular lewat transfusi darah seperti hepatitis, HIV, dan sifilis.

“Awalnya calon pendonor akan diperiksa secara fisik, wawancara mengenai komorbiditas yang dimiliki. Lalu laboratorium akan periksa antibodinya. Golongan darah juga harus diperiksa,” tambahnya.

Calon pendonor juga mesti memiliki golongan darah A, B, O, dan rhesus yang harus kompatibel dengan kandidat penerima plasma. Hal ini sama seperti donor darah biasa. Misalnya, golongan darah pasien Covid-19 adalah A. Maka pendonornya juga harus A.

“Kalau perihal kompatibel itu, meski golongan darahnya sama juga belum tentu cocok. Itu harus dicek lagi dan diuji silang. Jadi direaksikan darah pendonor ke pasien. Kalau ada reaksi berarti tidak boleh dan tidak kompatibel. Makanya harus kompatibel,” beber Kepala Instalasi Laboratorium dan Bank Darah RSUD AW Sjahranie itu.

Selain harus dalam kondisi yang sehat, calon pendonor juga diharapkan tidak sedang mengonsumsi obat-obatan tertentu. Seandainya ada, maka masih bisa dikonsultasikan. Bicara soal efektivitas terapi plasma konvalesen ini dan mengutip dari Tempo, Palang Merah Indonesia (PMI) Pusat menyatakan bahwa terapi tersebut memiliki tingkat kesembuhan hingga 99 persen. Namun berdasarkan informasi yang diikuti oleh Lily, efektivitas ini akan terus berkembang dan terus diteliti.

“Tapi kalau dari pengalaman-pengalaman yang sudah jalan, terapi ini lebih efektif untuk yang keadaannya belum berat sekali. Namun kalau info terbaru yang didapat, malah kalau didonorkan ke kondisi pasien dengan keadaan ringan ke sedang justru lebih bagus,” lanjutnya.

Baca juga:  6 Gempa Bumi Paling Dahsyat yang Pernah Terjadi di Indonesia

Saat ini, RSUD AW Sjahranie bekerja sama dengan UTD PMI Kota Samarinda tengah bersiap untuk pelaksanaan donor plasma darah. Rencananya akan berjalan minggu depan. Pendaftaran calon pendonor pun sudah dibuka sejak beberapa hari yang lalu dan sampai kemarin, sudah ada 26 calon pendonor terdaftar dengan rata-rata usia 25-54 tahun. Tim dokter akan segera menyeleksi mereka dan diharapkan bisa mendapat banyak pendonor. Sebab setelah diseleksi, biasanya akan sedikit jumlah yang memenuhi syarat.

Jika sudah diketahui berapa calon pendonor yang lolos seleksi, semua akan disiapkan dan plasmanya disimpan di suhu -30. Dijelaskan Lily, plasma itu bisa tahan berbulan-bulan dalam kondisi beku. 1 kantong plasma biasanya berisi 200-400 ml.

“Umumnya untuk diberikan ke pasien itu butuh 200 ml. Tapi ada juga yang butuh 400 ml. Itu bergantung dengan pertimbangan dari dokter yang merawat sembari melihat reaksi pasien. Pasien yang ditransfusi harus diawasi terus,” pungkasnya.

[YMD | RWT]

Facebook Comments
Tags

Related Articles

Back to top button
Close

Adblock Detected

Please consider supporting us by disabling your ad blocker