Internasional

Fakta Ledakan di Beirut Lebanon, Pejabat Pelabuhan jadi Tahanan Rumah

Kaltimtoday.co – Sebuah ledakan dahsyat terjadi di ibu kota Lenanon, Beirut pada Selasa, (4/8/2020). Ledakan besar yang terjadi pada sekitar pukul 18.00 waktu setempat ini pun menyita perhatian dunia.

Ledakan diketahui berasal dari kawasan pelabuhan yang berdekatan dengan pusat kota Beirut.

Sebagian Kota Beirut mengalami rusak parah dan korban jiwa pun berjatuhan dalam peristiwa ledakan tersebut. Pemerintah Lebanon pun mengumumkan hari berkabung hingga tiga hari ke depan terhiutung mulai Kamis (6/8/2020).

Baca juga:  Ledakan Dahsyat Terjadi di Beirut Lebanon, Ratusan Orang Terluka

Berikut sejumlah fakta terkait ledakan di Beirut yang kaltimtoday rangkum dari berbagai sumber:

1. Penyebab Ledakan

Perdana Menteri Lebanon, Hassan Diab mengatakan, 2.750 ton pupuk amonium nitrat yang disimpan di gudang penyimpanan telah meledak dan memicu bencana tersebut.

Ribuan amonium nitrat tersebut dilaporkan telah tersimpan secara tidak aman di gudang selama bertahun-tahun.

Diab menegaskan, segera menggelar penyelidikan untuk mengetahui siapa yang bertanggung jawab atas ledakan di Beirut.

“Apa yang terjadi hari ini (4/8/2020) tidak akan dibiarkan begitu saja. Mereka yang bertanggung jawab akan menerima akibatnya,” tegasnya.

Sebagai infromasi, amonium nitrat biasa digunakan secara luas dalam pupuk dan bahan peledak. Amonium nitrat adalah garam kristal tak berbau yang telah menjadi penyebab berbagai ledakan industri selama beberapa dekade.

Situs web kesehatan menjelaskan bahwa zat tersebut memang sangat eksplosif. Ketika dikombinasikan dengan bahan bakar minyak, amonium nitrat menciptakan bahan peledak kuat yang banyak digunakan dalam industri konstruksi, tetapi juga dalam bom buatan seperti yang digunakan dalam serangan Kota Oklahoma 1995.

Para ahli di Universitas Sheffield di Inggris memperkirakan bahwa ledakan tersebut memiliki sekitar sepersepuluh dari kekuatan ledakan bom atom yang dijatuhkan di kota Hiroshima Jepang selama Perang Dunia Kedua dan “tidak diragukan lagi merupakan salah satu ledakan non-nuklir terbesar dalam sejarah”.

Baca juga:  WHO Ingatkan Dampak Virus Corona Bakal Berlangsung Puluhan Tahun

2. Mengapa Bahan Tersebut Disimpan di Gudang?

Seorang pejabat keamanan mengatakan dengan syarat anonim, amonium nitrat telah tiba di Lebanon pada 2013 di atas kapal berbendera Moldova dari Georgia dan menuju Mozambik. Menurut firma hukum Lebanon, Baroudi & Associates, yang mewakili awak “Rhosus”, mereka menghadapi “masalah teknis”.

Beberapa pejabat keamanan mengatakan kepada AFP bahwa kapal itu berlabuh sementara di pelabuhan tetapi kemudian disita oleh pihak berwenang setelah sebuah perusahaan Lebanon mengajukan gugatan terhadap pemiliknya.

Otoritas pelabuhan menurunkan amonium nitrat dan menyimpannya di gudang pelabuhan kumuh dengan retakan di dindingnya, kata para pejabat.

Pasukan keamanan meluncurkan penyelidikan pada tahun 2019 setelah gudang mulai mengeluarkan bau aneh, menyimpulkan bahwa bahan kimia “berbahaya” perlu dikeluarkan dari tempat tersebut, tetapi tindakan tersebut tidak diambil.

Minggu ini para pekerja mulai memperbaiki gudang yang bobrok itu, menyebabkan spekulasi yang mungkin memicu ledakan tersebut.

3. Menewaskan 135 orang

Ketika artikel ini ditulis, Menteri kesehatan Lebanon mengatakan, jumlah korban meninggal meningkat menjadi 135 dengan korban luka sekitar 5.000 orang.

Dikutip dari Al Manar TV, Menkes Lebanon mengatakan sejumlah orang masih hilang.

Baca juga:  Hagia Sophia Gelar Salat Jumat Perdana Setelah 86 Tahun

4. 1 WNI Terluka

Juru bicara Kementerian Luar Negeri RI, Teuku Faizasyah mengatakan, ada satu orang warga negara Indonesia yang terluka namun kondisi sudah stabil.

“Ada satu WNI yang mengalami luka-luka (inisial NNE). Staf KBRI sudah berkomunikasi melalui video call dengan yang bersangkutan. Kondisinya stabil, bisa bicara dan berjalan. Yang bersangkutan sudah diobati oleh dokter rumah sakit dan sudah kembali ke apartmennya di Beirut,” kata Faizasyah.

Dia menambahkan, korban luka dari Indonesia adalah pekerja migran.

5. Pejabat Pelabuhan Jadi Tahanan Rumah

Pemerintah Lebanon mengumumkan keadaan darurat selama dua pekan di Beirut dan memerintahkan sejumlah pejabat pelabuhan menjalani tahanan rumah, setelah ledakan hebat pada hari Selasa (04/08/2020).

Pertemuan darurat kabinet memutuskan langkah itu pada Rabu (05/08) dan tahanan rumah akan diawasi oleh tentara Lebanon.

“Tahanan rumah akan berlaku untuk semua pejabat pelabuhan yang telah menangani urusan penyimpanan amonium nitrat, menjaganya dan menangani dokumennya sejak Juni 2014,” kata Menteri Informasi Lebanon, Manal Abdel Samad.

6. Situasinya Seperti Kiamat

Menteri Perekonomian Raoul Nehme menggambarkan situasinya seperti “kiamat”.

“Sebelum kejadian ini, kami dalam situasi yang sangat buruk. Anda tahu, kami meminta bantuan Dana Moneter Internasional, dan jika sekarang Anda melihat foto-foto yang beredar, pelabuhan telah hancur,” ujar Raoul.

Baca juga:  Duterte Ancam Penjarakan Warga Filipina yang Tak Pakai Masker

“Dan tak satu pun rumah, saya katakan lagi, tak satu pun rumah, tak satu pun toko, tak satu pun apartemen, yang tidak rusak. Ini seperti kiamat dan di sekitar pelabuhan, tak ada yang tersisa,” tambah Nehme.

Dia mengatakan di lokasi ledakan, semuanya hancur dan terlempar ke laut.

“Kami punya sebidang tanah dan sekarang tanah itu lenyap. Kerugiannya mungkin miliaran dolar, tapi kami belum menghitungnya secara pasti,” ujarnya.

Gubernur Beirut Marwan Aboud, kepada kantor berita AFP mengatakan, ledakan dasyat tersebut menyebabkan sekitar 300.000 orang kehilangan tempat tinggal.

Aboud menambahkan kerugian akibat ledakan diperkirakan antara US$3 miliar dan US$5 miliar atau sekitar Rp 43 triliun sampai Rp 73 triliun dengan kerusakan setengah dari kota Beirut.

7. Picu gempa Bumi

Ledakan itu dilaporkan membuat gelombang seismik yang setara dengan gempa berkekuatan 3,3 magnitudo. Namun, setara dengan magnitudo 3,3 tidak “langsung sebanding dengan gempa dengan ukuran yang sama”.

Ahli Geofisika di Pusat Informasi Gempa Bumi Nasional AS, Don Blakeman mengatakan bahwa, itu karena ledakan jenis permukaan, seperti ledakan di Beirut, tidak menghasilkan magnitudo sebesar gempa bumi.

Blakeman mengatakan, sebagian besar energinya masuk ke udara dan bangunan. Artinya, jika ledakan itu terjadi di bawah permukaan bumi, besarnya akan lebih tinggi.

“Tidak cukup energi yang ditransmisikan ke dalam batuan di tanah,” kata Blakeman.

Baca juga:  Iran Bertekad Kembangkan Industri Minyak di Tengah Sanksi AS

8. Sejumlah Negara Siap Bantu Lebanon

Beberapa negara termasuk AS, Prancis, Yordania, Iran telah menawarkan untuk mengirim bantuan. Termasuk rumah sakit keliling dari Qatar, penyelamat dari Yunani, dan persediaan medis dari Kuwait, sudah mulai berdatangan.

Israel, musuh bebuyutan Lebanon pun diketahui telah menawarkan bantuan kemanusiaan.

Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu mengatakan, dia telah menginstruksikan Dewan Keamanan Nasional Israel untuk mengontak utusan PBB Timur Tengah Nickolay Mladenov. Isi pesan tersebut adalah untuk menjelaskan bagaimana Israel dapat membantu Lebanon lebih lanjut atas insiden ledakan di Beirut.

[RWT]

Facebook Comments
Tags

Related Articles

Back to top button
Close