Opini

IKN Baru Menuju Peradaban Gemilang, Mampukah?

Oleh: Dewi Murni (Praktisi pendidikan, Balikpapan)

Dalam sebuah tayangan channel youtube LIPUTAN KOTA tertanggal 19 Desember 2019 lalu yang berjudul PPU Menuju IKN Baru, Wali Kota PPU (Penajam Paser Utara) Abdul Gafur Mas’ud menyatakan harapannya bahwa, melalui pindahnya ibu kota negara mampu membawa peradaban baru, bukan hanya bagi bangsa Indonesia tetapi juga untuk dunia.

Sebelumnya, Presiden Joko Widodo telah resmi mengeluarkan keputusan pada bulan Agustus lalu bahwa ibu kota negara akan pindah ke Kalimantan Timur. Tepatnya akan berada di Penajam Paser Utara dan di Kutai Kartanegara. Keputusan itu dianggap sebagai jalan keluar menghadapi beratnya beban Jakarta dan Pulau Jawa sebagai pusat pemerintahan, pusat bisnis, pusat keuangan, pusat perdagangan, dan pusat jasa. Beragam masalah yang tak kunjung usai pun terjadi di sana. Kapadatan penduduk di mana 54% penduduk Indonesia tinggal di Pulau Jawa. Kemiskinan, kriminalitas, kemacetan lalu lintas yang begitu parah, polusi udara dan air hingga masalah fenomenal tiap tahun; banjir.

Akankah peradaban gemilang mampu terwujud dari ibu kota negara baru? sementara masalah-masalah yang terjadi di Pulau Jawa terjadi pula secara meluas di berbagai wilayah negeri ini. Tak terkecuali Kalimantan Timur. Misalnya, banjir terparah yang terjadi di Samarinda selama beberapa bulan yang lalu dan krisis air bersih di Balikpapan telah menjadi bukti.

Itulah dampak kehidupan dengan sistem kapitalisme sekuler yang saat ini masih diterapkan. Menyisakan penderitaan rakyat yang kian dalam. Bidang-bidang kehidupan yang sejatinya adalah kebutuhan rakyat, tidak becus diurus karena dalam sistem tersebut penguasa hanya berperan sebagai fasilitator. Yang memfasilitasi asing dan aseng menguasai hajat hidup rakyat seperti pertambangan, air, hutan dan jalanan. Kesehatan dikomersialkan. Pendidikan jadi disekulesirasi. Dampaknya persis pepatah, mati di lumbung padi. Kekayaan alam melimpah, tapi banyak yang mati kelaparan. Fasilitas kesehatan dimana-mana tapi banyak yang mati karena biaya. Pendidikan kerap kali ganti kurikulum, tapi generasi justru kian rusak.

Alhasil, meraih peradaban gemilang dalam sistem kapitalisme sekuler bagaikan mimpi di siang bolong. Mustahil diraih hanya dengan memindahkan ibu kota negara tanpa mencabut sistem tersebut hingga akarnya. Sistem itulah akar masalah dari semua masalah yang terjadi di Jakarta dan Pulau Jawa, serta seluruh negeri-negeri muslim sedunia. Sistem yang hanya merajakan orang-orang bermodal saja. Sementara rakyat hanya menjadi alat memperkaya harta dan kekuasaan para pemilik modal. Sistem itu juga yang memisahkan aturan agama dan dunia. Padahal Allah telah mewajibkan untuk hanya berhukum pada syariatNya.

“Tidaklah pantas bagi seorang lelaki yang beriman, demikian pula perempuan yang beriman, apabila Allah dan Rasul-Nya telah menetapkan suatu perkara lantas masih ada bagi mereka pilihan yang lain dalam urusan mereka. Barangsiapa yang durhaka kepada Allah dan Rasul-Nya sungguh dia telah tersesat dengan kesesatan yang amat nyata.” (QS. Al-Ahzab: 36)

“Apakah hukum jahiliyah yang mereka cari? Dan siapakah yang lebih baik hukumnya daripada [hukum] Allah bagi orang-orang yang yakin.” (QS. Al-Ma’idah: 50)

Sejarah membuktikan, peradaban gemilang hanya terjadi pada masa diterapkannya syariat islam secara kaafah, yaitu masa kekhilafahan. Khilafah adalah kepemimpinan umum bagi seluruh kaum Muslimin di dunia untuk menegakkan syariat Islam dan mengemban dakwah ke segenap penjuru dunia. Suksesnya khilafah membangun peradaban tinggi dan mulia, banyak diakui oleh tokoh-tokoh dunia termasuk orang kafir. Jacques C. Reister mengatakan, “Selama lima ratus tahun Islam menguasai dunia dengan kekuatannya, ilmu pengetahuan dan peradaban yang tinggi.”

Will Durant, dalam The Story of Civilization, vol. XIII, menulis: Para Khalifah telah memberikan keamanan kepada manusia hingga batas yang luar biasa besarnya bagi kehidupan dan kerja keras mereka. Para khalifah itu juga telah menyediakan berbagai peluang untuk siapa pun yang memerlukannya dan memberikan kesejahteraan selama berabad-abad dalam wilayah yang sangat luas. Fenomena seperti itu belum pernah tercatat (dalam sejarah) setelah zaman mereka. Kegigihan dan kerja keras mereka menjadikan pendidikan tersebar luas, hingga berbagai ilmu, sastra, filsafat dan seni mengalami kemajuan luar biasa, yang menjadikan Asia Barat sebagai bagian dunia yang paling maju peradabannya selama lima abad.

Sekilas bukti-bukti tingginya peradaban sistem khilafah:

Infrastuktur. Pada masa khilafah Bani Umayyah, ibu kotanya dikelilingi taman-taman hijau dan jika malam tiba lampu-lampu bersinar hingga pejalan kaki mampu memperoleh cahaya sepanjang sepuluh mil tanpa terputus. Sampah-sampah disingkirkan dari jalan-jalan. Terdapat tempat pemandian 900 buah. Gedung-gedung sebanyak 80.000 buah, masjid ada 600 buah dan luas kota Cordoba adalah 30.000 hasta. Tinggi menaranya 40 hasta dengan kubah menjulang berdiri di atas batang-batang kayu terukir yang ditopang oleh 1093 tiang yang terbuat dari berbagai marmer.

Pendidikan dan Kesehatan. Khalifah Al-Hakam II pada 965 M mendirikan 80 sekolah umum Cordoba dan 27 sekolah khusus anak-anak miskin. Negara yang membayar gurunya. Di Kairo, Al-Mansur Qalawun mendirikan sekolah anak yatim. Dia juga menganggarkan setiap hari ransum makanan yang cukup serta satu stel baju untuk musim dingin dan satu stel baju untuk musim panas. Adapun kesehatan, pada tahun 1248 M Khalifah Al-Mansyur mendirikan rumah sakit, dengan kapasitas 8000 tempat tidur, dilengkapi dengan masjid untuk pasien dan chapel untuk pasien Kristen. Rumah sakit dilengkapi dengan musik terapi untuk pasien yang menderita gangguan jiwa. Setiap hari melayani 4000 pasien. Layanan diberikan tanpa membedakan ras, warna kulit dan agama pasien; tanpa batas waktu sampai pasien benar-benar sembuh. Selain memperoleh perawatan, obat dan makanan gratis tetapi berkualitas, para pasien juga diberi pakaian dan uang saku yang cukup selama perawatan. Hal ini berlangsung selama 7 abad.

Pertanian dan industri. Di bidang industri, Khilafah ternyata memiliki spektrum yang sangat luas.  Donald R. Hill dalam bukunya, Islamic Technology: an Illustrated History (Unesco & The Press Syndicate of the University of Cambridge, 1986), membuat sebuah daftar yang lumayan panjang dari industri yang pernah ada dalam sejarah Islam; mulai  dari industri mesin, bahan bangunan, persenjataan, perkapalan, kimia, tekstil, kertas, kulit, pangan hingga pertambangan dan metalurgi. Dalam sebuah  kota, yaitu Sevilla, terdapat 6.000 alat tenun untuk sutra. Setiap penjuru kota dikelilingi oleh pohon-pohon zaitun sehingga di situ terdapat 100.000 tempat pemerasan minyak zaitun.

Tidak diragukan lagi, penerapan sistem Islam telah terbukti sukses membangun peradaban agung dan gemilang, bahkan eksis selama 13 abad. Kesuksesan itu bukan semata-mata karena peran unggul manusia. Namun, rahmat dari Allah kepada negeri-negeri yang bertakwa padaNya serta menerapkan seluruh syariatNya sebagai aturan kehidupan dari berkeluarga, bermasyarakat hingga bernegara. Oleh karena itu, siapa saja yang ingin meraih peradaban gemilang tidak ada jalan lain kecuali melepaskan kekuasaan sistem kapitalisme sekuler dan menggantinya dengan sistem Islam. Allahu Akbar.

*) Opini penulis ini adalah tanggung jawab penulis seperti tertera, tidak menjadi bagian tanggung jawab redaksi kaltimtoday.co

Facebook Comments

Tags

Related Articles

Back to top button
Close