Daerah
Industri Hulu Migas Butuh Beragam Keahlian, PHE Ajak Mahasiswa Polnes Kenali Peluang Karier
Kaltimtoday.co, Samarinda - Industri hulu minyak dan gas bumi (migas) membutuhkan beragam keahlian untuk menjaga produksi energi nasional. Tidak hanya kompetensi teknis, sektor ini juga memerlukan kemampuan di bidang teknologi, data, bisnis, komunikasi, hingga pengembangan masyarakat.
Kebutuhan tersebut menjadi salah satu materi yang diperkenalkan PT Pertamina Hulu Energi (PHE) kepada mahasiswa Politeknik Negeri Samarinda (Polnes) melalui program Upstream Youth Champs (UYC) 2026, Selasa (27/10/2026).
Mengusung tema “Menggali Potensi, Menggerakkan Energi”, kegiatan ini mengajak mahasiswa memahami peran industri hulu migas dalam menjaga ketersediaan energi nasional sekaligus mengenali peluang pengembangan karier di sektor tersebut.
Dalam sesi pengenalan industri, mahasiswa mendapat penjelasan mengenai peran PHE sebagai Subholding Upstream Pertamina yang menjalankan kegiatan eksplorasi, pengembangan, dan produksi migas.
PHE mengelola sekitar 27 persen wilayah kerja operator migas di Indonesia. Perusahaan tersebut juga berkontribusi sekitar 65 persen terhadap produksi minyak domestik dan 35 persen terhadap produksi gas domestik.
Pada semester I 2026, produksi migas PHE tercatat sekitar 935 ribu barel setara minyak per hari (MBOEPD). Angka tersebut mencerminkan skala kegiatan sektor hulu migas dalam mendukung pasokan energi dari dalam negeri.
Namun, upaya menjaga produksi menghadapi sejumlah tantangan, mulai dari pengembangan lapangan, optimalisasi produksi, hingga eksplorasi sumber daya baru. Pemanfaatan teknologi dan inovasi juga menjadi bagian dari upaya tersebut.
PHE mengembangkan sejumlah pendekatan, di antaranya Chemical Enhanced Oil Recovery (CEOR) untuk mengoptimalkan lapangan yang telah berproduksi. Perusahaan juga mengeksplorasi peluang teknologi energi masa depan, seperti hidrogen alami serta penangkapan dan penyimpanan karbon atau Carbon Capture and Storage/Carbon Capture, Utilization, and Storage (CCS/CCUS).
Sr. Supervisor North Mahakam Production Pertamina EP Sangasanga Field, Alfian Dinata, membagikan perspektif mengenai kegiatan operasional industri hulu migas serta tantangan dalam menjaga produksi energi.
“Menjaga produksi migas bukan hanya tentang menjalankan kegiatan operasional, tetapi juga bagaimana menghadapi tantangan di lapangan melalui pemanfaatan teknologi, pengetahuan teknis, dan kemampuan memecahkan masalah. Hal-hal tersebut menjadi bagian penting dalam mendukung keberlanjutan produksi energi,” ujar Alfian.
Melalui sesi tersebut, mahasiswa diharapkan memperoleh gambaran mengenai penerapan ilmu dan kompetensi dalam lingkungan kerja industri hulu migas.
Selain perspektif industri, UYC 2026 juga menghadirkan Vina Muliana, praktisi sumber daya manusia sekaligus kreator konten. Ia membahas pengembangan pengetahuan, pengalaman, dan kreativitas agar dapat menghasilkan karya yang relevan bagi masyarakat.
“Mahasiswa tidak harus menunggu hingga lulus untuk mulai mengembangkan potensi diri. Pengalaman melalui organisasi, proyek, kompetisi, maupun kegiatan lainnya bisa menjadi ruang untuk belajar, menguji kemampuan, dan menemukan bidang yang ingin ditekuni,” kata Vina.
Sektor hulu migas tidak hanya membutuhkan tenaga kerja dari bidang teknis. Keahlian teknologi dan data, bisnis, keuangan, komunikasi, hukum, keberlanjutan, rantai pasok, hingga pengembangan masyarakat juga diperlukan untuk mendukung operasional industri.
Ketua Jurusan Teknik Kimia Polnes, Ir. Ibnu Eka Rahayu, S.ST., MT., IPM, menilai perguruan tinggi memiliki peran dalam mempersiapkan mahasiswa melalui penguasaan ilmu dan pengalaman yang berkaitan dengan kebutuhan industri.
“Perguruan tinggi memiliki peran untuk mempersiapkan mahasiswa tidak hanya melalui penguasaan ilmu, tetapi juga melalui pengalaman dan kesempatan untuk memahami tantangan nyata di industri. Kehadiran Upstream Youth Champs 2026 di Politeknik Negeri Samarinda menjadi ruang bagi mahasiswa untuk memperluas wawasan mengenai industri hulu migas dan melihat bagaimana kompetensi yang mereka pelajari dapat diterapkan dalam menjawab kebutuhan industri serta tantangan energi Indonesia,” ujarnya.
Melalui program UYC 2026, PHE mengajak mahasiswa mengembangkan kemampuan berpikir kritis, berkolaborasi, beradaptasi, dan menerapkan pengetahuan dalam situasi nyata.
Kompetensi tersebut diharapkan menjadi bekal bagi generasi muda untuk berkontribusi dalam menjawab kebutuhan energi Indonesia.
[RWT]
Related Posts
- Gedung Pandurata RSUD AWS Dikebut, PUPR Kaltim Targetkan Rampung Desember 2026
- Kemenaker Targetkan Pembahasan UMP 2027 Tuntas Akhir November 2026
- Dorong Kemandirian Warga Binaan, Pemkab Kukar Siapkan Dukungan Lahan dan Pasar Produk SAE Pastarung
- Kukar Jadi Daerah Pertama Gelar Festival Lokal Gemini Impact Awards 2026, 200 Guru Jadi Peserta
- Sengketa Bagi Hasil Rp25,9 Miliar, Petani Tim 37 Kaubun Menanti Putusan Banding









