Daerah
Kesaksian Anak Veteran, La Hasan dan Perjuangan Berdarah Merah Putih di Sangasanga
Kaltimtoday.co, Tenggarong - Sejarah perlawanan di Sanga-Sanga bukan sekadar catatan buku dan hingga kini hidup dalam ingatan Ahmad Hasan, anak veteran pejuang La Hasan, yang kembali menuturkan perjuangan berdarah sang ayah saat Merah Putih pertama kali dikibarkan di tanah Sangasanga.
Ahmad mengatakan, kisah perjuangan ayahnya bermula jauh sebelum Indonesia merdeka. Menurutnya, La Hasan sudah terlibat dalam perlawanan sejak awal 1930-an dan berpindah-pindah wilayah demi menghindari kejaran penjajah.
Ia menuturkan, saat berada di Surabaya pada masa sebelum kemerdekaan, ayahnya terlibat dalam perlawanan terhadap simbol penjajahan Belanda. Aksi tersebut membuat La Hasan ditangkap tentara kerajaan Hindia Belanda atau Koninklijk Nederlandsch-Indisch Leger (KNIL) dan dibuang ke Nusa Kambangan. Namun, penahanan itu tidak mematahkan tekadnya.
“Bapak sempat dibuang ke Nusa Kambangan, tapi beliau nekat melarikan diri dengan berenang. Itu bukan hal kecil, risikonya besar sekali,” katanya.
Setelah berhasil meloloskan diri, La Hasan kemudian bergerak menuju Kalimantan Timur. Di wilayah ini, tekanan kembali datang. Tawaran untuk bergabung dengan tentara KNIL ditolaknya, sehingga membuat dirinya terus diburu.
“Beliau tidak mau jadi tentara Belanda. Karena itu terus dikejar dan akhirnya bergabung dengan pejuang-pejuang di Kalimantan Timur,” jelasnya.
Pada masa pendudukan Jepang, sekitar awal 1940-an, La Hasan menggunakan strategi berbeda. Ia menyusup dengan bergabung dalam barisan tentara Jepang hingga mengikuti pelatihan militer dan dipercaya mengendalikan kapal patroli. Kesempatan itu dimanfaatkan untuk melucuti senjata dan amunisi yang kemudian diamankan untuk kepentingan perjuangan.
Puncak perjuangan La Hasan terjadi di Sangasanga pada 26 Januari 1947. Bersama rekan-rekannya, ia menurunkan bendera Belanda. Bagian biru dirobek dan dibuang ke laut, sementara Merah Putih dikibarkan sebagai simbol perlawanan rakyat.
Keesokan harinya, 27 Januari 1947, pasukan KNIL melakukan penyerangan ke wilayah Sangasanga. Dalam situasi terdesak, tentara penjajah menekan dengan cara menahan istri dan anak La Hasan sebagai sandera.
“Karena ibu dan kakak saya ditahan, bapak akhirnya menyerahkan diri supaya keluarganya selamat,” tuturnya.
La Hasan kemudian dirantai dan dibawa ke Balikpapan. Ahmad Hasan mengenang, ayahnya mengalami penyiksaan berat selama perjalanan dan masa penahanan yang berlangsung berhari-hari.
“Beliau disiksa habis-habisan. Tidak ada yang menolong, kecuali dua sepupu yang akhirnya menyelamatkan bapak secara diam-diam,” ujarnya.
Setelah berhasil diselamatkan dan kondisi tubuhnya pulih, La Hasan kembali melanjutkan perlawanan hingga masa kemerdekaan Indonesia. Setelah Indonesia merdeka, ia diakui sebagai veteran dan menerima tanda kehormatan negara, termasuk Bintang Gerilya yang diberikan langsung oleh Presiden Soekarno.
Ahmad memberi pesan, kesaksian ini disampaikannya agar sejarah perjuangan di Sangasanga tidak hilang dari ingatan masyarakat lokal.
“Saya hanya ingin menyampaikan yang benar. Jangan sampai sejarah pejuang lokal dilupakan atau dilencengkan,” pungkasnya.
[RWT]
Related Posts
- Lurah Jawa Sebut Semburan Sumur Migas Sudah Teratasi, Minta Pertamina Sediakan Air Bersih untuk Warga
- Tak Hanya RTH, Taman Patung Bung Karno Sangasanga Bakal Menjadi Wisata Belanja
- SIMATA Pejuang Jadi Solusi Kemajuan Kota Juang Sangasanga
- Peringatan Peristiwa Merah Putih Sangasanga ke-78, Mengenang Perjuangan Melawan Belanda
- Sangasanga Bakal Ubah Lahan Eks Tambang Jadi Pusat Pertanian dan Peternakan









