Daerah

Meski Masuk Skala Prioritas, Pembangunan Kembali SMPN 24 Samarinda Belum Menemui Titik Terang

Nindiani Kharimah — Kaltim Today 11 Februari 2026 19:29
Meski Masuk Skala Prioritas, Pembangunan Kembali SMPN 24 Samarinda Belum Menemui Titik Terang
Proses pembersihan sekolah pasca banjir di SMP Negeri 24 Samarinda. (Istimewa)

Kaltimtoday.co, Samarinda - Pihak SMP Negeri 24 Samarinda masih terus menanti kepastian terkait langkah konkret Pemerintah Kota (Pemkot) Samarinda dalam menangani persoalan banjir yang tak kunjung usai. 

Kondisi sekolah yang berlokasi di Kelurahan Bukit Pinang ini kembali memprihatinkan setelah air merendam bangunan pada Senin (9/2/2026) lalu. Banjir yang terjadi di awal pekan tersebut seolah menegaskan bahwa janji perbaikan fasilitas pendidikan di wilayah itu masih sebatas wacana yang belum terealisasi di lapangan. 

Kepala SMPN 24 Samarinda, Bambang, mengungkapkan bahwa meski ketinggian air tidak mencapai satu meter, genangan kali ini bersifat merata dan menyasar seluruh ruang kelas di lantai dasar. Ancaman kerusakan pun membayangi fasilitas elektronik sekolah yang vital bagi operasional harian. 

“Kalau sampai masuk ke laptop dan komputer, itu sudah sangat parah, karena ada ruang kerja dan ruang belajar di situ,” tegas Bambang saat dikonfirmasi.

Kejadian ini sangat disayangkan mengingat sekolah baru saja menerima bantuan sarana berupa meja-meja baru. Bambang mengaku merasa lelah jika harus terus-menerus berhadapan dengan risiko kerusakan aset negara akibat air yang masuk ke lingkungan sekolah. Ia menagih tindakan cepat dari pemerintah agar proses belajar siswa tidak terus terganggu. 

“Terus terang saya sangat menyayangkan, karena meja-meja baru yang baru datang—sebagian bantuan—kalau rusak lagi rasanya capek,” ungkapnya kecewa.

Akibat rendaman air yang cukup masif, kegiatan belajar mengajar terpaksa ditiadakan sementara. Pada Selasa (10/2/2026), pihak sekolah memfokuskan seluruh tenaga untuk melakukan pembersihan dengan melibatkan bantuan dari petugas Pemadam Kebakaran, BPBD, hingga DLH.

Sejatinya, upaya normalisasi drainase sempat dilakukan oleh Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (PUPR) dan memberikan dampak positif dalam waktu singkat. Namun, curah hujan tinggi pada Senin kemarin membuktikan bahwa perbaikan drainase saja belum cukup menjadi solusi permanen.

Bambang menceritakan bahwa sebelumnya kondisi sempat membaik setelah adanya intervensi dari pihak PUPR. Namun, skala banjir kali ini jauh melampaui prediksi mereka. 

“Selama ini saya selalu bilang, alhamdulillah sudah tidak ada banjir. Sempat ada sekali, tapi kecil saja. Nah, yang Senin ini justru besar sekali, air masuk hampir ke semua ruangan,” imbuhnya. 

Persoalan ini memicu diskusi mengenai opsi relokasi sementara bagi para siswa. Pihak sekolah menyatakan kesiapan mereka jika memang harus mengosongkan gedung demi pembangunan total, termasuk jika harus menerapkan sistem pembelajaran daring kembali. 

“Pada prinsipnya kami siap mengikuti arahan pemerintah. Kalau memang harus dirombak sekalian dan dinaikkan, kami siap mencari solusi lain, termasuk pembelajaran online,” jelas Bambang. 

Hambatan utama dalam wacana relokasi maupun pembangunan gedung baru adalah besarnya biaya pematangan lahan yang diperkirakan menyentuh angka miliaran rupiah. 

Kendati lahan tersebut merupakan aset milik Pemkot, hingga kini belum ada titik terang apakah gedung akan dibangun dengan konsep panggung atau ditinggikan. Informasi yang beredar menyebutkan pembangunan baru akan masuk dalam rencana tahun 2026, namun detail waktu pelaksanaannya masih gelap.

“Kami diminta bersabar, karena katanya sudah masuk prioritas. Artinya kami tetap menunggu, harapan kami masih menunggu,” pungkas Bambang.

[RWT] 



Berita Lainnya