Gaya Hidup

Penyakit Jantung Hantui Gen Z di Malaysia, Diam-diam Akibat Kebanyakan Konsumsi Ini

Kaltim Today
20 Mei 2026 18:01
Penyakit Jantung Hantui Gen Z di Malaysia, Diam-diam Akibat Kebanyakan Konsumsi Ini
Ilustrasi. Freepik

Kaltimtoday.co - Banyak warga Malaysia, termasuk generasi muda, tanpa sadar mengonsumsi garam jauh melebihi batas harian yang dianjurkan. Kebiasaan ini memicu kekhawatiran meluas karena berpotensi mendongkrak risiko hipertensi, penyakit jantung, hingga stroke di usia muda.

Momen ini bertepatan dengan Pekan Kesadaran Garam Sedunia yang diperingati setiap 12–18 Mei, sekaligus Hari Hipertensi Sedunia. Para ahli kesehatan pun kembali mengingatkan bahwa garam adalah komponen pola makan berbahaya yang paling sering luput dari perhatian masyarakat.

Selama ini, publik cenderung lebih fokus membatasi konsumsi gula demi menghindari diabetes. Padahal, asupan natrium berlebih merupakan faktor risiko utama penyakit kardiovaskular, yang hingga kini masih menduduki peringkat teratas sebagai penyebab kematian tertinggi di dunia.

Asupan Garam Warga Malaysia Lampaui Batas Aman WHO

Berdasarkan data Survei Kesehatan dan Morbiditas Nasional 2024, sekitar tiga dari empat orang dewasa di Malaysia rutin mengonsumsi makanan tinggi garam.

Rata-rata warga Malaysia mengonsumsi sekitar 7,3 gram garam per hari. Angka ini jauh melampaui batas aman yang direkomendasikan oleh Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), yaitu kurang dari 5 gram atau setara dengan satu sendok teh saja per hari.

Tantangan terbesarnya adalah natrium sering kali "tersembunyi" di dalam hidangan sehari-hari yang tidak selalu terasa asin di lidah. Sumber utamanya meliputi:

  • Saus dan kecap
  • Kuah kaldu dan sup
  • Mi instan
  • Makanan olahan (processed food)
  • Hidangan yang dibeli di luar rumah atau restoran

Mahasiswa dan Gen Z Jadi Kelompok Paling Rentan

Para ahli menilai mahasiswa dan generasi muda menjadi kelompok yang paling rentan terpapar risiko ini. Pola makan di lingkungan universitas dan kos-kosan cenderung identik dengan makanan cepat saji yang murah, praktis, dan tinggi natrium.

Jika dibiarkan, kebiasaan buruk ini dikhawatirkan akan terus terbawa hingga mereka menginjak usia dewasa dan memicu ledakan kasus penyakit kritis di masa depan.

Guna mengantisipasi hal tersebut, sejumlah institusi pendidikan di Malaysia mulai bergerak. Mereka mencoba menghadirkan pilihan menu rendah garam melalui kolaborasi dengan vendor makanan, kampanye nutrisi, hingga reformulasi resep pada kantin kampus.

"Tujuannya bukan mengubah budaya makan secara total, melainkan mendorong pilihan yang lebih sehat tanpa mengorbankan rasa dan harga yang ramah di kantong mahasiswa," tulis laporan tersebut, dikutip dari Free Malaysia Today.

Garam Alternatif dan Langkah Kecil yang Berdampak Besar

Rendahnya kesadaran masyarakat mengenai kandungan natrium pada gorengan, daging olahan, dan makanan siap saji menjadi tantangan berat bagi para edukator kesehatan. Berbeda dengan gula yang langsung memberikan sinyal rasa manis, garam cenderung menyatu secara samar ke dalam kebiasaan makan harian.

Sebagai solusi makro, peneliti global saat ini mulai mengembangkan garam alternatif rendah natrium. Sebagian kandungan natrium pada produk ini diganti menggunakan kalium, namun tetap mempertahankan cita rasa asin yang serupa.

Sejumlah bukti klinis awal menunjukkan bahwa penggunaan garam pengganti ini efektif membantu menurunkan tekanan darah sekaligus menekan risiko penyakit kardiovaskular, terutama jika dikombinasikan dengan strategi diet sehat lainnya.

Para ahli menegaskan, mengurangi konsumsi garam tidak harus dilakukan secara ekstrem sejak awal. Langkah-langkah kecil dan sederhana dinilai sudah cukup efektif membantu lidah dan tubuh beradaptasi secara bertahap, antara lain:

  • Mengurangi takaran bumbu siap saji secara berkala.
  • Memilih produk kemasan dengan label low sodium (rendah natrium).
  • Mengurangi porsi garam saat memasak sendiri di rumah.

Informasi lain terkait lingkungan bisa kunjungi dlhkapuas.aisyiyahduri.sch.id untuk meningkatkan pemahaman Anda.



Berita Lainnya