Opini

Peran Bimbingan Konseling Islam dalam Mengatasi Stres Belajar Anak di Masa Pandemi

Oleh: Salamiah (Prodi Bimbingan Konseling Islam, Institut Agama Islam Negeri Samarinda)

Pendidikan merupakan salah satu alternatif dalam mempersiapkan sumber daya manusia untuk menjaga serta dapat memajukan kehidupan, baik di masa sekarang maupun di masa mendatang, dari segi pengetahuan, pengalaman maupun peradaban dan yang lainnya. Seperti halnya para ulama hingga ilmuan, mereka tidak langsung menjadi orang besar kecuali melalui pendidikan terlebih dahulu, baik tarbiyah langsung dari orangtua ataupun melalui sebuah lembaga pendidikan yang memadai.

Dengan demikian begitu pentingnya sebuah pendidikan, secara dzohir maupun bathin. Sebab itulah, segala hal yang terkait di dalamnya juga menjadi sangat penting, seperti halnya menyiapkan (alat, bahan, materi) yang berkualitas untuk diberikan kepada sang anak atau orang yang akan menerima pendidikan. Kemudian penyampai ilmu atau pendidik (guru) yang sesuai dengan bidang keahliannya, sehingga seorang anak itu sendiri dapat menerima pendidikan dengan penuh kesadaran dan kenyamanan tanpa merasa dipaksa.

Baca juga:  Peran Pemuda dalam Menjaga Titik Waras Sebuah Demokrasi

Adapun yang menjadi permasalahan saat ini ialah pendidikan tidak dapat langsung diberikan secara langsung antara guru dan murid, melainkan daring yaitu melalui alat media online seperti WhatsApp, Zoom, Google Meet dan lain-lain. Hal ini tentu sangat menghambat atau menjadi suatu gejala stres bagi sang anak jika ia tidak mengerti dan memahami tentang apa yang disampaikan oleh gurunya, segala keterbatasan tentu terjadi bagi setiap individu anak dan orangtua.

Sebagaimana orangtua yang terbatas dalam menyediakan keperluan kouta dan lainnya, terlebih bagi orangtua dalam kemampuan ekonomi menengah ke bawah yaitu selain tidak mempunyai pengalaman dan serta berlatar belakang pendidikan yang rendah, maka akan membuat beban atau masalah baru karena diperlukannya peran orangtua dalam mendampingi setiap pembelajaran anak-anaknya selama berada di rumah, dan dalam hal ini sebagian para orang tua cenderung menjadi lebih tidak sabar atau menjadi emosional.

Kehadiran dan perkembangan serta penyebaran virus Covid-19 di Indonesia banyak membawa perubahan serta peralihan sistem, terutama dalam bidang pendidikan, baik mulai dari Taman Kanak-Kanak hingga perguruan tinggi sudah menjalankan anjuran dari pemerintah yaitu mengimbau kepada masing-masing lembaganya untuk menerapkan pembelajaran secara online/daring, sebagaimana halnya para pekerja dan kegiatan lainnya dipindahkan menjadi Work From Home. Namun dalam hal ini, masih banyak orang tua yang merasa terbebani, karena mereka harus membagi waktu bekerja dengan mendampingi anak-anak belajar online.

Dalam kondisi demikian, banyak orangtua yang tidak sabar dalam membersamai pembelajaran anak-anaknya selama berada di rumah. Akhirnya, tidak sedikit dari orangtua mengalami gangguan psikologis seperti stres, depresi dan lain-lain. Akibatnya juga berdampak kepada anak-anak, selain mereka tidak dapat merasakan manis dan asyiknya belajar di sekolah bersama teman-teman sambil bermain, mereka juga dituntut dengan tugas atau pekerjaan rumah yang diberikan oleh orang tua terlebih bagi anak-anak perempuan.

Oleh karena itu, terdapat beberapa tanda jika anak-anak mengalami stres, di antaranya seperti bersifat mudah marah, lemes, susah tidur, malas makan, dan tiba-tiba munculnya penyakit yang tanpa ada gejala. (Ali Aulia Ramly, Unicef Pemerhati Kesehatan Jiwa Anak).

Sedangkan tanda-tanda anak stres menurut IDAI (Ikatan Dokter Anak Indonesia) ialah sebagai berikut :

  1. Perubahan pada perilaku yang tidak biasa (gestur)
  2. Emosi tidak stabil (mudah marah dan menangis)
  3. Tidak bisa tenang atau gelisah (tampak murung)
  4. Mudah putus asa (kehilangan percaya diri)
  5. Menarik diri dari lingkungan dan lengket berlebihan terhadap pola asuh orang tua.
  6. Hilangnya nafsu makan serta sulit untuk berkonsentrasi
  7. Gangguan tidur (sulit dan sering terbangung ketika tidur, pusing bahkan hingga berdampak kepada mimpi buruk).

Dengan demikian, layanan bimbingan konseling Islam diharapkan menjadi solusi bagi setiap permasalahan yang dihadapi masyarakat saat ini, untuk itu perlu adanya penyuluhan akan adanya kesadaran masyarakat bahwa tidak ada masalah yang tidak mempunyai jalan keluar atau solusi, terlebih bagi lingkungan warga masyarakat yang kental akan keyakinan agamanya, yaitu Islam. Oleh karena itu, dalam beberapa hal manusia perlu menyadari dan merenungkan bahwa dari setiap kejadian yang terjadi di muka bumi adalah sudah menjadi bagian dari ketentuan Allah, Tuhan alam semesta.

Konselor ialah salah satu profesi yang bertugas untuk melayani masyarakat dari berbagai gangguan atau masalah sosial. Bimbingan Konseling Islam merupakan suatu upaya atau langkah untuk membantu setiap permasalahan melalui jalan syari’at yakni sesuai berdasarkan Al-Quran dan Al-Hadist. Sehingga diharapkan dari setiap problematika yang dialami setiap individu maupun kelompok mampu untuk menjadikannya sebagai pelajaran besar dan pandangan bagi setiap generasi untuk kembali kepada jalan yang benar serta sesuai tuntunan syari’at.

Konsep konseling yang dipelopori oleh Frank Parson (Boston, 1908) telah berkembang sebagai layanan konsultasi dalam bentuk wawancara konselor kepada klien dengan cara berkomunikasi secara langsung dan mendalam untuk mencapai tujuan dalam rangka pemecahan masalah, pemenuhan kebutuhan, pengubahan sikap dan tingkah laku klien serta penerimaan diri. Dalam hal ini, tentu adanya perbedaan dengan bimbingan konseling pada umumnya, letaknya ialah jelas pada pendekatan dan pemberian saran serta pengarahan kepada klien sesuai dengan landasan Al-Quran dan Al-Hadist.

Ada beberapa hal yang harus dilakukan dalam membantu anak-anak yang merasa tertekan hingga stres dalam menjalani pembelajaran secara daring atau online untuk keluar dari permasalahan yang mereka hadapi, dan dalam hal ini perlu adanya kerjasama antara orang tua bersama seorang konselor, ialah antara lain sebagai berikut:

Baca juga:  Covid-19: Antara Sunnatullah, Aqidah dan Syariah
  1. Membuatkan jadwal belajar anak-anak secara terstruktur (baik saat waktu belajar berlangsung maupun ketika waktu mengerjakan tugas).
  2. Mendorong anak-anak agar mampu mengendalikan emosi, seperti pada saat menarik atau menghela nafas ketika sedang marah.
  3. Memilihkan kegiatan yang mereka sukai selama berada dirumah serta sekaligus menyalurkan kemampuan yang mereka miliki seperti menari, memanah, berenang dan lain-lain.
  4. Memberikan waktu atau kesempatan anak-anak mereka untuk bermain, berinteraksi dengan teman-temannya agar mood mereka tetap bagus selama berada dirumah.

Demikian sedikit pandangan terhadap bimbingan konseling islam dalam upaya membantu kliennya dalam mencapai tujuan hingga mampu mengembangkan kemampuan atau potensi diri yang dimiliki setiap individu untuk mengarah kepada hal positif dan lebih baik lagi, bermanfaat bagi dirinya sendiri, orang lain hingga masyarakat luas.(*)

*) Opini penulis ini merupakan tanggung jawab penulis seperti tertera, tidak menjadi bagian tanggung jawab redaksi kaltimtoday.co

Facebook Comments
Tags

Related Articles

Back to top button
Close