Green Zetizen
Persiapkan Masa Depan Kaltim Pasca Tambang, Green Zetizen Training Kenalkan Pekerjaan Hijau ke 30 Pelajar Samarinda
Kaltimtoday.co, Samarinda - Kalimantan Timur kini tengah bersiap menghadapi transformasi ekonomi besar-besaran seiring dengan upaya dekarbonisasi global.
Menanggapi tantangan tersebut, sebanyak 30 siswa SMA/sederajat di Samarinda dibekali kompetensi baru melalui workshop bertajuk “Penguatan Kapasitas Generasi Muda dalam Mempersiapkan Pekerjaan Hijau di Kalimantan Timur”
Kegiatan yang diinisiasi oleh Yayasan Mitra Hijau (YMH) bersama Green Zetizen ini digelar di Lumina Room, Hotel Aston Samarinda pada Jumat (26/6/26).
Pelatihan ini bertujuan untuk menggeser orientasi karir anak muda Kaltim yang selama ini terpaku pada sektor ekstraktif menuju sektor Green Jobs (pekerjaan hijau) yang lebih berkelanjutan.
Ketua Dewan Pembina YMH, Dicky Edwin Hindarto, dalam pemaparannya menekankan urgensi transisi energi bagi Kaltim. Mengingat dominasi batu bara yang selama ini menjadi tulang punggung ekonomi Kaltim, Dicky memperingatkan bahwa permintaan komoditas ini diprediksi akan menurun drastis hingga lebih dari 70 persen sebelum tahun 2050.
“Green jobs adalah pekerjaan yang memberikan dampak positif bagi lingkungan sekaligus memenuhi prinsip pekerjaan yang layak (decent work), jadi kalau petugas sapu jalan itu meskipun dia memberikan dampak positif bagi lingkungan, belum termasuk green jobs karena bayaran dan tunjangan pekerjaan yang mereka terima belum memenuhi standar kelayakan green jobs " ujar Dicky dalam materinya.
Ia menambahkan bahwa sektor energi terbarukan, transportasi ramah lingkungan, hingga konsultan lingkungan menjadi peluang cerah bagi angkatan kerja muda Kaltim.
Kegiatan ini juga mengundang praktisi muda asal Samarinda yang sudah memulai pekerjaan hijau, salah satunya ialah Direktur Bank Sampah Faperta Unmul, Ananda Bayu Saputra. Ia menekankan bahwa keberadaan bank sampah harus dilihat sebagai sebuah sistem pemberdayaan yang utuh.
“Bank sampah bukan sekadar tempat buang sampah, melainkan sebuah ekosistem ekonomi hijau yang memberdayakan masyarakat dari bawah” jelas Bayu.
Di Samarinda sendiri, keberadaan lebih dari 78 bank sampah telah berhasil mereduksi sekitar 1.498 ton sampah per tahun dari pembuangan langsung ke TPA Sambutan.
Bayu juga memaparkan bahwa hasil penjualan sampah kini dapat dikonversi menjadi tabungan emas sebagai bentuk literasi finansial bagi generasi muda.
Tak hanya pengelolaan limbah, sektor pertanian perkotaan juga menjadi sorotan. Chitia Agustina, pengelola Oemah Keboen (Obun), membagikan pengalamannya membangun agrowisata di Samarinda.
Chitia berpesan bahwa dalam membangun bisnis ramah lingkungan, jejaring komunitas menjadi faktor yang sangat menentukan keberhasilan.
“Bisnis tidak bisa jalan sendirian. Kita perlu membangun ekosistem bareng komunitas lokal. Melalui kolaborasi, kita bisa saling berbagi pengalaman dan bekerja sama memperkuat fondasi bisnis. Itulah mengapa team work makes the dream work" ungkap Chitia.
Selain menerima materi, para peserta juga ditantang dalam sesi simulasi studi kasus untuk merumuskan ide bisnis hijau kreatif guna menjawab permasalahan lingkungan riil di Samarinda menjadi sumber pendapatan yang berkelanjutan,
Output dari pelatihan ini diharapkan dapat membentuk jejaring pemuda yang siap menjadi aktor penggerak ekonomi hijau di lingkungan sekolah maupun komunitas masing-masing demi mewujudkan masa depan Kalimantan Timur yang adil dan tangguh.
[AD | ADV]
Related Posts
- Cara menyimpan video TikTok tanpa watermark yang benar benar bersih
- Penerapan Manajemen Talenta Jadi Alasan Lambatnya Pengisian Jabatan Definitif di Lingkup Pemprov Kaltim
- Koalisi Gratispol Watch Desak Gubernur Kaltim Benahi Sistem Pendidikan Gratispol
- Usut Gratifikasi Batu Bara Mantan Bupati Kukar Rita Widyasari, KPK Periksa Japto Soerjosoemarno
- DPRD Kaltim Desak Pemprov Segera Isi Jabatan Definitif OPD, Target Rampung Februari 2026









