Gaya Hidup

Serupa Tapi Tak Sama, Psikopat Vs Sosiopat

Sering kita mendengar istilah psikopat dan sosiopat untuk menggambarkan seseorang yang terlihat baik tetapi ternyata berperilaku aneh dan kejam.

Dalam Diagnostic and Statistical Manual of Mental Disorders, buku panduan resmi para dokter dan psikolog untuk diagnosis psikologis yang dirilis oleh American Psychiatric Association (APA), dijelaskan bahwa sosiopat dan psikopat adalah dua tipe gangguan mental jenis Antisocial Personality Disorders (ASPD) dan ditempatkan dalam kategori spesifik: amat manipulatif.

Mereka juga sama-sama memiliki minim rasa penyesalan, empati, tanggung jawab terhadap orang lain dan kerap mengabaikan hukum serta norma sosial.

Penderita psikopat dan sosiopat sama-sama tidak bisa memahami tau berbagi perasaan dengan orang lain. Mereka juga cenderung tidak bisa membedakan mana yang benar dan salah.

Gangguan ini memiliki karakteristik umum yang seringkali membingungkan.

Ciri-ciri utama yang dimiliki oleh sosiopat dan psikopat antara lain:

▪ Mengabaikan hukum dan adat istiadat sosial
▪ Mengabaikan hak orang lain
▪ Kegagalan untuk merasa menyesal atau bersalah
▪ Kecenderungan untuk menampilkan perilaku kekerasan atau agresif.

Lalu, bagaimana kita bisa mengenali dua gangguang psikologis ini? Simak perbedaannya:

Psikopat

▪Merencanakan kejahatan hingga detail, tak terdeteksi, dan membuat lebih sedikit kesalahan.

Yang terbaik dari seorang psikopat adalah kemampuannya memperhitungkan sifat manipulatif dengan amat terperinci. Itulah kenapa kemudian sebuah studi tahun 2002 dari National Center for Biotechnology Information (NCBI) menunjukkan bahwa, 93,3% dari kasus pembunuhan psikopat telah direncanakan.

Ketika melakukan pembunuhan, amat mungkin mereka menikmatinya karena ketiadaan empati saat menyaksikan orang lain kesakitan.

▪ Tak mengenal rasa takut, tak memiliki empati, dan anti sosial

Minimnya rasa takut dan penyesalan seorang psikopat dipengaruhi oleh lesi pada bagian otak yang dikenal sebagai amigdala sebuah bagian yang bertanggung jawab atas persepsi emosi, agresi pengendali, serta mengatur memori.

Kerusakan tersebut biasanya terjadi karena turun temurun atau bawaan lahir. Demikian menurut analisis Aaron Kipnis, seorang PhD psikolog klinis yang juga menulis buku berjudul The Midas Complex.

Dengan komposisi kerusakan semacam itu, tak perlu diherankan jika seorang psikopat memiliki ketenangan yang luar biasa ketika melakukan kejahatan.

▪ Sangat manipulatif dan mudah disukai orang lain

Para psikopat seringkali berpendidikan baik dan memiliki pekerjaan tetap. Beberapa psikopat juga sangat pandai dalam manipulasi dan menyamar sehingga mereka bisa memiliki keluarga dan hubungan jangka panjang tanpa membuat curiga orang-orang di sekitarnya.

Sosiopat

▪ Kurang stabil dalam secara emosi, impulsif, perilakunya tidak menentu

Sosiopat juga memiliki bentuk emosi yang labil dan sangat impulsif. Mereka juga lebih tidak sabaran, cenderung spontanitas, serta minim persiapan yang mendetail dalam hal apapun.

Ciri sosiopat makin kentara karena ketika kejahatan atau kebohongannya terbongkar, mereka biasanya akan lekas marah dan jengkel karena memang tidak mampu mengendalikan ekspresi dengan baik.

▪ Bertindak atas paksaan, kurang sabar, mudah menyerah dan kurang perencanaan dalam melakukan kejahatan

Karena cenderung spontan, kejahatan seorang sosiopat cukup mudah terdeteksi karena mereka memang sembrono dan tidak cukup pintar untuk menutupi jejak atau merancang strateginya.

Berbeda dengan psikopat yang lebih mampu memanipulasi keadaan, sekalipun hal tersebut juga dilakukan demi menunjukkan betapa dirinya tidak merasa bersalah.

▪ Suka mendominasi orang lain, tak ragu untuk bohong, suka saat korbannya dipermalukan, dan merasa superior

Tidak seperti psikopat, orang dengan sosiopat sebagian besar tidak memiliki rencana untuk menjatuhkan orang, sebisa mungkin mereka ingin terlihat seperti orang normal atau dipandang sebagai orang yang bahagia.

[NON | RWT]

Facebook Comments
Tags

Related Articles

Back to top button
Close