Kaltim

Soal Jurnalistik vs Media Sosial, Diskominfo Kaltim Minta Publik Pahami Pola Kerja

Defrico Alfan Saputra — Kaltim Today 14 Juni 2026 10:22
Soal Jurnalistik vs Media Sosial, Diskominfo Kaltim Minta Publik Pahami Pola Kerja
Kepala Diskominfo Kaltim Muhammad Faisal saat memaparkan perbedaan mendasar antara karakteristik produk jurnalistik dan media sosial yang memiliki logika kerja masing-masing. (Istimewa)

SAMARINDA, Kaltimtoday.co - Di tengah dominasi media sosial sebagai sumber informasi masyarakat, Kepala Dinas Komunikasi dan Informatika (Diskominfo) Kalimantan Timur, Muhammad Faisal, mengajak publik untuk memahami perbedaan mendasar antara produk jurnalistik dan media sosial. Menurutnya, kedua hal tersebut memiliki karakteristik serta mekanisme kerja yang berbeda sehingga tidak tepat jika selalu dipertentangkan.

Faisal menjelaskan bahwa produk jurnalistik lahir melalui proses peliputan, penyuntingan, hingga verifikasi ketat yang melibatkan ruang redaksi. Sementara di media sosial, setiap pengguna dapat mempublikasikan informasi kapan saja tanpa melalui mekanisme penjaga gerbang (gatekeeper). Akibatnya, arus informasi bergerak jauh lebih cepat, tetapi tidak selalu disertai dengan proses pengecekan yang memadai.

"Jurnalistik dan media sosial punya logika kerja masing-masing. Jadi bukan soal mana yang menang, melainkan memahami sebuah logika kerja dari masing-masing," ujar Faisal.

Ia menjabarkan dari aspek sumbernya, produk jurnalistik harus melalui proses di media yang melibatkan redaktur dan perangkat redaksi lainnya. Sebaliknya, aktivitas di media sosial berjalan tanpa penjaga gerbang sehingga siapa pun bisa mempublikasikan apa saja secara bebas.

Menurut Faisal, fenomena tersebut saat ini sudah menjadi bagian dari perilaku masyarakat sehari-hari, termasuk dirinya sendiri ketika mencari informasi awal mengenai suatu peristiwa. Ia mencontohkan bagaimana masyarakat cenderung langsung membuka media sosial saat mengetahui adanya kegaduhan atau indikasi suatu kejadian di sekitar mereka.

"Bahkan saya juga begitu. Begitu ada asap sedikit, jauh-jauh aja, ya kita buka medsos dulu nih. Mana nih ngepul-ngepul asap sudah. Ada suara ribut-ribut, yang buka medsos dulu. Perilaku kita juga membuat medsos itu jadi sumber," tuturnya.

Lebih lanjut, Faisal mengingatkan tantangan terbesar saat ini adalah bagaimana masyarakat mampu membedakan informasi yang telah diverifikasi dengan konten yang beredar bebas, sehingga tidak mudah terjebak hoaks, disinformasi, maupun budaya clickbait. Ia pun memberikan catatan khusus mengenai definisi hoaks yang berkembang di publik.

"Sekali lagi, hoaks itu bukan berita yang salah atau berita yang tidak benar. Hoaks itu lebih ngeri dari itu. Hoaks itu adalah sesuatu yang sengaja dibuat salah. Ya jadi dia sebenarnya lebih kejam daripada berita yang tidak benar," kata Faisal.

Ia menambahkan, hoaks sejatinya berangkat dari sesuatu yang benar namun sengaja diubah menjadi salah agar memengaruhi orang lain. Secara akademik, terdapat pembagian antara hoaks, disinformasi, misinformasi, hingga malinformasi, meski masyarakat lebih sering menyamaratakan semuanya dengan istilah hoaks.

Faisal menegaskan bahwa konten hoaks di media sosial sangat berbahaya karena pembuatnya tahu informasi yang benar, tetapi sengaja menyebarkan ketidakbenaran agar publik ikut keliru. Hal ini diperparah dengan nihilnya proses verifikasi di media sosial, meski platform tersebut unggul dalam hal kecepatan.

"Nah ini yang ramai sekarang digalakin. Kemudian verifikasi juga enggak ada verifikasi, kecepatan sudah pasti. Nah ini yang soal tanggung jawab, mudah-mudahan nanti kita bisa bahas," pungkah Faisal.

[TOS]



Berita Lainnya