Opini

Strategi Pengelolaan Kesehatan Mental dalam Keluarga di Tengah Wabah Covid-19

Oleh: Rizka Fajriyah (Prodi Bimbingan Konseling Islam, Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Samarinda

Pada kondisi saat ini seluruh dunia khususnya di Indonesia sedang diterjang oleh sebuah wabah virus Corona alias Covid-19 yang berdampak besar dalam kehidupan sehari-hari. Seperti diketahui, persebaran kasus Indonesia data yang tercatat pada 12 Oktober 2020 adalah 337 ribu, sembuh 259 ribu, dan meninggal 11. 935 orang (yang seiring waktu data akan berubah). Dengan adanya situasi tersebut, maka pemerintah mengeluarkan kebijakan bahwa seluruh aktivitas dialihkan bekerja dari rumah (Work From Home) bagi para pekerja sedangkan bagi para pelajar belajar dari rumah (Study From Home) guna memutuskan rantai penyebaran Covid-19, sehingga situasi saat ini lebih banyak meluangkan waktu di dalam rumah.

Oleh karena itu, pada kondisi ini memberikan dua dampak baik sisi positif maupun negatif, dampak dari negatif dari wabah Covid-19 yaitu mulai dari sektor ekonomi perusahaan maupun masyarakat, teknologi dalam proses pembelajaran, bisnis dan lainnya, sedangkan dampak postif dari sebuah wabah Covid-19 yaitu mencegah penularan atau penyebaran Covid-19, meningkatkan kreatifitas diri, family time.

Baca juga:  Segera Catat! Debat Publik Antar Calon Wali Kota Samarinda Digelar 18 Oktober 2020 Mendatang

Stigma masyarakat Indonesia masih belum sepenuhnya dketahui di kalangan masyarakat Indonesia sehingga muncul faktor yang membuat stigma masyarakat memiliki pandangan yang berbeda mengenai penderita gangguan kesehatan mental sehingga keterbatasan informasi dan ilmu pengetahuan yang ada di Indonesia juga menambah dampak pada kekurangnya perhatian masyarakat mengenai kesehatan mental ini.

Padahal kesehatan mental sama hal pentingnya dengan kesehatan fisik, yang dapat diartikan kesehatan mental seseorang dapat bekerja dengan semaksimal mungkin dan jika kesehatan mental terganggu maka kondisi fisik akan terpengaruh. Oleh karena itu situasi saat ini bukan hanya memperhatikan kesehatan fisik akan tetapi kesehatan mental pun perlu diperhatikan salah satunya di dalam keluarga, karena keluarga adalah unit terkecil di lingkaran masyarakat yang berfungsi sebagai tempat nyaman, aman, dan damai dalam suasana penuh kasih, cinta dan sayang.

Munculnya Covid-19 ini banyak masyarakat risau dalam kondisi saat ini, yang menimbulkan emosional seperti stres, kecemasan hingga depresi, terutama orang tua yang pekerja atau pebisnis yang harus gulung tikar, ekonomi tidak stabil dan PHK, sehingga emosional nya tidak terkendalikan maka dilampiaskan kepada sang anak atau keluarga yang terdekat.

Adapun masalah lainnya hingga menimbulkan kecemasan yaitu penerimaan informasi yang ditelan langsung mengenai berita Covid-19 yang diterima langsung oleh komunikator, apabila terlalu cemas dan stres akan mempengaruhi sistem imun menjadi lemah dan mudah terserang penyakit. Maka dari itu dapat dikatakan bukan hanya kondisi mental yang terganggu kondisi fisik pun akan mempengaruhi.

Namun keluarga juga harus memiliki pengetahuan kompetensi tentang kesehatan mental sehingga tidak terjadi self diagnosis. Self diagnosis merupakan proses analisis terhadap diri sendiri berdasarkan informasi yang didapatkan berbagai sumber salah satunya internet, sehingga dengan sumber yang didapatkan secara anda langsung menyimpulkan informasi tentang kondisi fisik maupun kesehatan, adapun bahaya dalam self diagnosis akan berdampak buruk baik fisik maupun mental. Oleh karena itu, alangkah baiknya langsung konsultasi kepada konselor atau psikolog untuk menghindari self diagnosis mengenai kondisi anda.

Sembari dalam memenuhi protokol, adapun strategi pengelolaan kesehatan mental dalam keluarga di tengah wabah Covid-19, sebagai berikut :

  1. Sharing dengan anggota keluarga dan saling memberikan support satu dengan yang lainnya
  2. Selalu menjaga kesehatan fisik seperti olahraga sesuai kondisi tubuh dan makan makanan bergizi
  3. Hindari konflik antar anggota keluarga, karena saat ini, keluarga berperan penting.
  4. Patuhi protokol yang di terapkan pemerintah ketika kita berada di luar rumah, karena ada keluarga yang harus kita jaga.
  5. Selalu berdoa kepada Tuhan Yang Maha Esa, agar semua keluarga, saudara, maupun masyarakat diberikan keselamatan dan di jauhkan dari wabah ini.
Baca juga:  Covid-19: Antara Sunnatullah, Aqidah dan Syariah

Adapun cara sederhana menjaga kesehatan mental di tengah wabah Covid-19 yang mampu mengatasi kecemasan berlebihan, stres, depresi dan lain sebagainya yaitu self care. Self Care adalah perawatan untuk diri secara fisik maupun mental guna mendapatkan rasa damai dan nyaman. Memelihara kesehatan mental dengan cara “self care” merupakan aktivitas yang dapat mengoptimalkan energi baik secara fisik maupun mental. Seperti diketahui self care dapat menambah produktivitas, kebahagiaan diri sendiri, dan lebih menghargai diri sendiri. Adapun efek yang besar terhadap diri sendiri dari self care itu sendiri yakni, mampu mengatasi penyakit mental seperti stres, depresi, kecemasan berlebihan dan lain sebagainya.

Oleh karena itu menjaga kesehatan mental sangatlah penting pada situasi saat ini, salah satunya menjaga komunikasi, memberikan support, melakukan aktivitas yang disukai individu masing masing sehingga dapat meminimalisir kecemasan, stres, maupun depresi. Oleh karena itu cara di atas merupakan langkah-langkah positif agar tetap menjaga kesehatan mental yang tidak sulit untuk di lakukan pada situasi saat ini.(*)

*) Opini penulis ini merupakan tanggung jawab penulis seperti tertera, tidak menjadi bagian tanggung jawab redaksi kaltimtoday.co

Facebook Comments
Tags

Related Articles

Back to top button
Close