Gaya Hidup

Studi: Wanita Tidur Lebih Lama dari Pria, Namun Lebih Rentan Terkena Insomnia

Kaltim Today
25 April 2026 11:45
Studi: Wanita Tidur Lebih Lama dari Pria, Namun Lebih Rentan Terkena Insomnia
Ilustrasi sulit tidur. (Freepik/Tirachardz)

Kaltimtoday.co - Sebuah temuan menarik menunjukkan bahwa wanita rata-rata memiliki durasi tidur lebih lama dibandingkan pria. Meski demikian, wanita justru lebih rentan mengalami gangguan tidur, kelelahan kronis, hingga insomnia akibat faktor biologis dan tekanan sosial.

Sejumlah penelitian mengungkapkan bahwa wanita tidur rata-rata 11 menit lebih lama setiap malam. Namun, durasi tambahan ini ternyata tidak selalu berbanding lurus dengan kualitas istirahat yang dirasakan oleh tubuh.

Studi yang dipublikasikan Oxford Academic pada Mei 2025 menyebutkan bahwa wanita melaporkan tingkat kantuk, stres, dan kecemasan yang lebih tinggi. Kondisi ini tetap muncul meskipun secara statistik durasi tidur mereka terlihat mencukupi.

Salah satu pemicu utamanya adalah perbedaan ritme sirkadian atau jam biologis tubuh. Pada wanita, ritme ini cenderung lebih pendek karena dipengaruhi oleh fluktuasi hormon dan suhu tubuh yang dinamis.

Akibatnya, wanita sering kali merasa mengantuk dan bangun lebih awal. Masalah muncul saat tuntutan pekerjaan atau urusan domestik memaksa mereka mengubah pola alami tersebut, yang memicu kondisi "jet lag sosial" atau kelelahan permanen.

Data medis menunjukkan wanita 40–60% lebih berisiko mengalami insomnia dibandingkan pria. Sekitar 17% wanita mengaku sulit memulai tidur, dan 21% lainnya kesulitan mempertahankan tidur yang konsisten sepanjang malam.

Faktor penyebabnya sangat kompleks, mulai dari beban pengasuhan anak, sindrom kaki gelisah, hingga perubahan hormon saat kehamilan dan menopause. Kondisi ini memerlukan perhatian medis yang tepat, seperti informasi yang tersedia di poltekkeslampungtengah.org.

Ahli dari Universitas Stanford, Natalie Solomon, menyebutkan bahwa wanita membutuhkan kualitas tidur nyenyak yang lebih tinggi untuk memulihkan metabolisme. Jika fase tidur dalam (deep sleep) terganggu, risiko penurunan kesehatan mental dan fisik akan meningkat drastis.

Untuk memperbaiki kualitas tidur, para pakar menyarankan beberapa langkah praktis sebagai berikut:

  • Menyesuaikan jadwal tidur secara bertahap, sekitar 15 menit lebih awal setiap malam.
  • Membatasi konsumsi kafein dan alkohol menjelang waktu istirahat.
  • Menciptakan rutinitas relaksasi, seperti membaca buku atau mandi air hangat.
  • Memastikan suasana kamar tetap sejuk, gelap, dan bebas dari gangguan suara.

Jika gangguan tidur berlangsung dalam jangka panjang dan mulai mengganggu produktivitas harian, sangat disarankan untuk segera berkonsultasi dengan dokter atau tenaga medis profesional.



Berita Lainnya