Samarinda

Ajak Tekan Pencemaran Lingkungan Lewat Bank Sampah, DLH Kaltim: Masyarakat Untung, Lingkungan Tetap Terjaga

Katimtoday.co, Samarinda – Telah umum dikenal masyarakat keberadaan Bank Sampah sebagai tempat pengumpulan limbah dan bahan baku tak terpakai guna dapat dikelola kembali. Tersebar di berbagai titik, mulai dari tingkat kota hingga rukun tetangga (RT), Bank Sampah mampu menghasilkan produk baru yang memiliki nilai jual yang tak kalah saing. Landasan tersebut mendorong Dinas Lingkungan Hidup (DL) Kaltim untuk membentuk Bank Sampah yang tersistem seperti proses transaksi di bank pada umumnya.

Telah dirancang sejak 2016, Bank Sampah DLH Kaltim resmi beroperasi pada 2018. Kendati hingga saat ini, masih sedikit masyarakat yang mengetahui keberadaan Bank Sampah yang berlokasi di Kantor Dinas DLH, Jalan MT Haryono tersebut. Bank Sampah DLH Kaltim pada 2019, berhasil mengumpulkan 1 ton kertas berdasarkan akumulasi pengumpulan setiap bulannya.

Baca juga:  BPPSDMP Gelar Pelatihan Agribisnis Cabai bagi Aparatur, PLT Kepala DPTPH Kaltim: Komoditas Pangan yang Menawan

Andi Sitty Surianty, Kepala Tim Bank Sampah DLH Kaltim menerangkan, perkembangan Bank Sampah di kabupaten/kota Kaltim terpantau aktif dan mulai masif. DLH Kaltim sendiri memiliki peranan mengumpulkan data Bank Sampah dari daerah yang telah terdata tersebut. Balikpapan menempati posisi pertama dengan jumlah 120 bank sampah yang berdiri di Kota Minyak tersebut, kemudian disusul oleh Kutai Kartanegara berjumlah 55 Bank Sampah.

“Warga banyak lebih mengenal bank sampah terdekat yang ada di lingkungan kediaman mereka, tetapi Bank Sampah DLH sebenarnya terbuka luas untuk seluruh masyarakat. Sejauh ini hanya pegawai yang menjadi nasabah Bank, akan tetapi perlahan melalui mulut ke mulut, mulai banyak warga yang mengumpulkan sampah dan menjadi nasabah tetap di Bank Sampah DLH Kaltim,” jelas perempuan yang akrab disapa Asti tersebut.

Limbah yang Bank Sampah DLH Kaltim himpun selanjutnya akan disalurkan kepada pengepul antara lain, plastik, kardus, kertas, botol kaca, hingga minyak jelantah. Pengelolaan minyak jelantah yang terkumpul, kemudian berubah fungsi menjadi sabun yang siap pakai. Hal tersebut mampu menekan pencemaran lingkungan terhadap air dan tanah akibat minyak yang tidak mampu terserap dengan baik.

Baca juga:  BPPSDMP Kaltim Monitoring dan Evaluasi Kaji Terap di Kutim, Petani Mulai Implementasikan Teknologi

1 liter minyak jelantah memiliki nilai jual Rp 2000 disusul dengan kertas serta kardus dengan satuan kilogram nya mencapai Rp 1000-1.300. Warga yang hendak mendaftar menjadi nasabah Bank Sampah DLH Kaltim, hanya cukup membawa sampah yang telah terkumpul lalu menukarkannya. Kemudian, warga secara otomatis terdaftar dan mendapat buku tabungan seperti pada umumnya di bank. Buku tabungan berwarna hijau tersbebut menjadi acuan bagi nasabah untuk mencatat setiap proses transaksi dengan nominal yang terkumpul.

“Bank kami selalu aktif dan terbuka bagi seluruh warga. Kami menyambut dengan baik sebab ini merupakan gerakan mengurangi limbah dan mengelolanya secara arif. Lingkungan minim pencemaran, masyarakat turut mendapat keuntungan dari sampah yang mereka kumpulkan. Tidak semua sampah itu sia-sia,” pungkas Asti.

[SNM | RWT | ADV DISKOMINFO]

Facebook Comments
Tags

Related Articles

Back to top button
Close