Nasional
Anggaran MBG Dipangkas Rp 67 Triliun, Chatib Basri Ingatkan Risiko Kenaikan Harga Barang
Kaltimtoday.co - Dewan Ekonomi Nasional (DEN) secara resmi meminta Presiden Prabowo Subianto untuk memperketat efisiensi belanja anggaran negara. Langkah disiplin fiskal ini dinilai mendesak untuk diterapkan, termasuk pada pelaksanaan program prioritas Makan Bergizi Gratis (MBG), demi membentengi perekonomian domestik dari hantaman tekanan ekonomi global serta tren pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS).
Ekonom senior sekaligus Anggota DEN, Chatib Basri, menegaskan bahwa penataan efisiensi belanja operasional negara merupakan instrumen krusial untuk menjaga stabilitas postur fiskal APBN. Langkah ini sekaligus menjadi sinyal positif untuk mempertahankan tingkat kepercayaan (confidence) para investor asing terhadap fundamental ekonomi Indonesia.
Menurut Chatib, kebijakan ikat pinggang ini sudah sepatutnya menyasar program-program strategis nasional yang menguras pagu anggaran dalam skala besar, tak terkecuali program MBG.
"Langkah-langkah yang dilakukan dalam efisiensi anggaran, termasuk di antaranya berkaitan dengan MBG," ujar Chatib Basri seusai menghadiri pertemuan tertutup dengan Presiden Prabowo Subianto di Istana Merdeka, Jakarta, Selasa (9/6/2026).
Pagu MBG Disunat Rp 67 Triliun Demi Efisiensi
Arah rekomendasi dari DEN tersebut sejalan dengan langkah taktis yang telah diambil oleh pemerintah dalam postur APBN 2026. Guna menjaga ruang aman fiskal, pemerintah tercatat telah melakukan rasionalisasi dengan memangkas alokasi anggaran program MBG sebesar Rp 67 triliun. Kebijakan ini otomatis mengoreksi pagu total MBG dari yang semula dianggarkan Rp 335 triliun menyusut menjadi Rp 268 triliun.
Tidak hanya sekadar memotong anggaran, kementerian teknis terkait juga tengah melakukan optimalisasi skema distribusi logistik serta perbaikan tata penyajian makanan di lapangan. Reformasi rantai pasok ini diproyeksikan mampu melahirkan penghematan operasional tambahan hingga menembus Rp 20 triliun.
Di samping membahas MBG, pertemuan strategis di Istana tersebut turut membedah volatilitas pergerakan kurs rupiah. DEN memperingatkan bahwa depresiasi mata uang Garuda yang terus berlanjut berpotensi menjadi pemantik utama lonjakan harga barang baku impor (imported inflation) serta peningkatan biaya produksi dan distribusi.
"Kami juga menyampaikan, salah satu isu penting yang harus diperhatikan adalah kemungkinan mengenai risiko kenaikan harga-harga yang bisa terjadi akibat dari pelemahan rupiah. Karena ini tentu akan berdampak untuk kelas menengah ke bawah," kata Chatib menjabarkan risiko makroekonomi.
Realisasi Anggaran MBG Meroket 17,53 Persen Per Mei
Kendati dihadapkan pada skema efisiensi yang ketat, implementasi program MBG di lapangan terpantau tetap menunjukkan grafik ekspansi yang sangat agresif. Program ini bahkan tercatat sebagai salah satu mesin penggerak utama dalam kenaikan pos belanja barang pemerintah pada tahun anggaran 2026.
Merujuk pada data Kementerian Keuangan hingga akhir Mei 2026, realisasi serapan anggaran untuk program MBG telah menembus angka Rp 88,15 triliun. Angka ini merefleksikan pertumbuhan sebesar 17,53% jika dikomparasikan dengan posisi April 2026 yang bertengger di angka Rp 75 triliun.
Menteri Keuangan, Purbaya Yudhi Sadewa, membeberkan bahwa total dana jumbo yang telah dikucurkan tersebut berhasil menjangkau sedikitnya 63,13 juta jiwa penerima manfaat. Jaminan gizi tersebut didistribusikan melalui jaringan 29.679 Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) yang kini telah beroperasi aktif di berbagai pelosok tanah air.
DEN Pastikan Fundamental Ekonomi Nasional Tetap Solid
Meskipun dihujani oleh sentimen negatif geopolitik internasional dan ketidakpastian pasar global, Anggota DEN lainnya, Mochammad Firman Hidayat, mengimbau publik untuk tidak panik. Ia menegaskan bahwa kekuatan fundamental ekonomi Indonesia saat ini berada dalam posisi yang sangat kokoh dan jauh dari bayang-bayang krisis kelam seperti yang terjadi pada tahun 1998 silam.
"Fundamental ekonomi kita dalam kondisi yang sangat baik, bahkan jauh dibandingkan dengan kondisi krisis 1998. Berbagai indikator makro menunjukkan perekonomian nasional tetap solid dan berada jauh dari potensi krisis," terang Firman optimistis.
Optimisme tersebut didukung oleh rilis data makroekonomi kuartal berjalan. Pertumbuhan ekonomi Indonesia pada triwulan I-2026 sukses merangkak naik ke angka 5,61% secara tahunan (year-on-year / yoy). Sementara itu, tingkat inflasi nasional per Mei 2026 dilaporkan masih menjinak pada level 3,08% (yoy).
Kendati demikian, Firman mengingatkan jajaran kabinet untuk tetap memasang mode waspada tingkat tinggi guna menyusun bantalan kebijakan pada semester II-2026.
[RWT]
Related Posts
- Kejagung Benarkan Geledah Kantor Badan Gizi Nasional Pagi Ini
- Prabowo Copot Dadan Hindaya dari Kepala BGN, Digantikan Nanik S Deyang
- SDN 010 Bontang Sebut Program MBG Disambut Positif oleh Seluruh Murid
- Prabowo: Tidak Ada Negara Kuat Tanpa Pangan yang Aman dan Berkesinambungan
- Presiden Prabowo: MBG dan Koperasi Desa Merah Putih Bangkitkan Ekonomi Rakyat dari Desa







