Samarinda

Bendungan Benanga Masuk Status Siaga Banjir, Curah Hujan Disinyalir Bukan Faktor Tunggal Kenaikan Debit Air

Kaltimtoday.co, Samarinda – Memasuki musim penghujan, bencana banjir kembali menghantui pemukiman warga Kota Tepian-sebutan Samarinda. Terlebih pada Sabtu (11/1/2020) dini hari, curah hujan terpantau terus mengguyur Samarinda, bahkan terpantau sekitar 24 jam tiada hentinya langit menurunkan air.

Dampaknya, sejumlah aktivitas warga tentu terhambat. Bahkan tak sedikit pemukiman yang terendam. Dari data sebelumnya, terpantau ada 19 titik banjir di Samarinda dengan ketinggian air bervariatif, yakni dari 20 centimeter hingga 1 meter.

Baca juga:  10 Jam Diguyur Hujan, Sejumlah Aktivitas Warga Terdampak, Ratusan Penumpang Pesawat Dievakuasi Menggunakan Truk

Meski demikian, warga diketahui tidak sampai melakukan pengungsian. Dua hari berselang, Senin (13/1/2020) siang dari hasil pantauan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Samarinda, ketinggian debit air di Bendungan Benanga, Lempake telah mencapai 80 cm.

Dijelaskan Hendra AH Sekretaris BPBD Samarinda, beberapa waktu sebelumnya ketinggian debit air masih dalam keadaan normal. Namun ketika mendapat air kiriman dari wilayah Sungai Siring, Kecamatan Sempaja Utara sebelum siang, maka saat ini keadaan semakin mengkhawatirkan.

“Setelah anggota pantau tadi, ketinggian air sudah mencapai 82 cm tepatnya,” ucapnya saat dikonfirmasi.

Untuk sementara, Bendungan Benanga ditutup untuk umum.

Di pintu air Bendungan Benanga sendiri diketahui memiliki ukuran ketinggian, yang terbagi menjadi tiga warna, hijau, kuning dan merah. Saat ini ketinggian air sudah mencapai status siaga.

“Cuma dari pantauan di wilayah Bengkuring belum terlalu tinggi. Baru berkisar 20-25 cm ketinggiannya,” imbuhnya.

Pengurangan ketinggian air pun, lanjut Hendra, turut dipengaruhi dengan kondisi perairan Sungai Mahakam. Karena sejatinya, air yang tertampung di bendungan dibuang secara perlahan akan mengalir ke Sungai Karang Mumus (SKM).

“Berdasarkan laporan petugas di lapangan, air turun saja. Karena kondisi air di sungai Mahakam dan Sungai Karang Mumus normal saja,” jelas Hendra.

Untuk titik banjir sendiri masih di beberapa wilayah langganan. Sebut saja Bengkuring dan Griya Mukti. Meski masih terpantau cukup aman, namun BPBD sendiri sudah bersiap dengan semua kemungkinan terburuknya. Yakni mendirikan sejumlah posko di titik rawan, hingga menyiapkan beberapa unit perahu karet yang saat ini telah disiagakan di wilayah Pampang.

“Posko ada satu di Bengkuring. Perahu karet di Bengkuring ada 2 unit dan Pampang ada 3 unit. Kami pun akan memantau 24 jam di Bendungan,” pungkas Hendra.

Kenaikan Tinggi Muka Air (TMA) disinyalir bukan hanya karena faktor hujan karena ada dua warna air yang berbeda.

Terpisah, Kepala Satuan Kerja (Satker) Operasi dan Pemeliharaan (OP) BWS III Wilayah Kalimantan Timur (Kaltim) Kalpin Nur mengabarkan hasil pantauan di lokasi terkait Tinggi Muka Air (TMA) di Bendungan Benanga, sekitar pukul 13.00 Wita telah mencapai 87 cm. Pihaknya mengatakan, saat ini imbauan sudah masuk pada persiapan siaga banjir.

“Sekarang ini sudah masuk status siaga. Untung saja kondisi Sungai Mahakam sedang surut, hingga sedikit membantu banjir tidak terjadi dengan cepat,” tuturnya.

Baca juga:  Jangan Hanya Sibuk IKN, Desa-desa di Pelosok Kaltim Butuh Listrik

Lebih lanjut dikatakan Kalpin bahwa, kenaikan debit air ini tidak hanya berdampak dari curah air hujan saja. Tapi dari pantauannya ada dua jenis air mengalir di bagian hulu Bendungan Benanga tersebut. Hal itu terlihat dari warna yang terbagi dua, ada yang keruh dan jernih. Sehingga dikatakannya, ada kemungkinan kenaikan debit air yang terjadi di Bendungan Benanga bukan sepenuhnya karena curah hujan yang begitu intens.

“Kami tadi sudah pantau menggunakan drone dan memang warna air berbeda itu berasal dari hulu bendungan. Selanjutnya kami akan koordinasikan hal ini kepada pihak terkait dan tetap fokus untuk pemantauan dan siaga banjir,” pungkasnya.

[JRO | RWT]

Facebook Comments

Tags

Related Articles

Back to top button
Close