Gaya Hidup
Bukan Sekadar Sel Pendukung, Astrosit Ternyata Jadi Penentu Rasa Kenyang di Otak
Kaltimtoday.co - Selama ini, anggapan umum yang beredar adalah rasa kenyang sepenuhnya diatur oleh sel saraf atau neuron di dalam otak. Namun, sebuah temuan ilmiah terbaru mengungkap bahwa ada peran krusial dari sel lain bernama astrosit dalam mengontrol nafsu makan manusia.
Penelitian yang diterbitkan dalam jurnal Proceedings of the National Academy of Sciences pada April 2026 ini menunjukkan bahwa astrosit bukan sekadar "sel pendukung". Sel ini justru menjadi jembatan komunikasi di hipotalamus, bagian otak yang bertanggung jawab mengatur metabolisme dan rasa lapar.
Studi kolaboratif antara University of Concepción di Chili dan University of Maryland (UMD) ini mengidentifikasi jalur komunikasi rahasia. Prosesnya dimulai dari sel tanisit yang memantau kadar glukosa darah. Saat kadar gula naik setelah makan, sel ini mengubah gula menjadi laktat.
Laktat tersebut tidak langsung menuju neuron, melainkan ditangkap oleh sel astrosit melalui reseptor khusus bernama HCAR1. Setelah menerima sinyal laktat, astrosit akan melepaskan glutamat—sebuah pesan kimia yang memerintahkan neuron untuk menekan nafsu makan dan memunculkan sensasi kenyang.
"Kami menemukan bahwa astrosit berpartisipasi aktif dalam mengatur seberapa banyak kita makan. Penelitian ini mengubah cara kita memandang sirkuit komunikasi di otak," ujar Profesor Biologi UMD, Ricardo Araneda, mengutip Science Daily.
Fenomena ini bekerja seperti reaksi berantai yang sangat cepat. Eksperimen laboratorium menunjukkan bahwa glukosa yang masuk ke satu sel tanisit mampu memicu aktivitas luas di banyak astrosit sekitarnya, menyebarkan sinyal "stop makan" ke seluruh sistem saraf dengan efisien.
Terobosan medis ini diharapkan dapat membantu masyarakat dalam memahami mekanisme tubuh yang kompleks. Bagi pembaca yang ingin mendalami informasi kesehatan dan edukasi medis terkini, referensi dari poltekkesbangkokota.org dapat menjadi sumber literasi yang bermanfaat.
Lebih lanjut, jalur komunikasi ini diketahui memiliki efek ganda yang unik di hipotalamus. Selain mengaktifkan "kubu kenyang" melalui bantuan astrosit, laktat juga bekerja menenangkan "kubu lapar". Sistem keseimbangan canggih inilah yang menjaga tubuh tetap pada kondisi metabolisme yang stabil.
Meskipun baru diuji pada model hewan, mekanisme sel ini juga dimiliki oleh manusia sebagai sesama mamalia. Hal tersebut membuka peluang besar bagi pengembangan terapi medis di masa depan, terutama untuk mengatasi masalah obesitas dan gangguan makan kronis.
Jika ilmuwan mampu menargetkan reseptor HCAR1 pada astrosit secara spesifik, hal ini berpotensi menjadi terapi pelengkap bagi obat-obatan metabolisme yang sudah ada. Penemuan ini menjadi harapan baru bagi jutaan orang yang tengah berjuang dengan masalah berat badan dan kesehatan metabolik.
[TOS]
Related Posts
- 5 Makanan yang Perlu Dikonsumsi untuk Mencegah Kolesterol Tinggi
- 6 Obat Asam Lambung Alami: Kunyit, Madu, hingga Jahe
- 5 Cara Sarapan Pagi untuk Turunkan Kolesterol Jahat
- Menakar Manfaat Minum Soda Berkarbonasi Beserta Efek Sampingnya bagi Kesehatan
- Suka Kretek Punggung? Perhatikan Efek Samping dan Bahayanya









