Daerah

DPRD Kukar Temukan Akses Pertanian Bukit Biru dalam Kondisi Parah, Produktivitas Terganggu 10 Tahun

M Jaini Rasyid — Kaltim Today 20 Januari 2026 20:08
DPRD Kukar Temukan Akses Pertanian Bukit Biru dalam Kondisi Parah, Produktivitas Terganggu 10 Tahun
Komisi I DPRD Kukar lakukan peninjauan jalan pertanian di Kelurahan Bukit Biru. (Istimewa)

Kaltimtoday.co, Tenggarong - Akses jalan usaha tani di Kelurahan Bukit Biru, Tenggarong, diketahui rusak parah hingga menghambat distribusi hasil panen. Kondisi ini ditemukan Komisi I DPRD Kukar saat peninjauan lapangan dan disebut telah berlangsung sekitar 10 tahun lamanya.

Peninjauan dipimpin oleh Anggota Komisi I DPRD Kukar, Desman Minang Endianto, bersama anggota lainnya. Mereka mendatangi empat titik jalan usaha tani yang menjadi jalur utama petani dalam mengangkut hasil panen menuju permukiman.

Dalam dialog bersama petani dan perwakilan kelompok masyarakat, terungkap bahwa kerusakan jalan tidak hanya menyulitkan aktivitas panen, tapi juga membuat kendaraan pertanian tak bisa masuk ke area produksi. Sebagian besar ruas jalan disebut hanya bisa dilalui dengan berjalan kaki atau motor tanpa muatan.

“Kalau akses jalannya tidak memadai, tentu aktivitas pertanian akan terganggu. Padahal ini menyangkut hajat hidup masyarakat dan peningkatan produksi pertanian,” kata Desman, Senin (19/1/2026).

Ia menambahkan, usulan perbaikan telah berulang kali disampaikan warga melalui proposal maupun koordinasi ke perangkat daerah, namun belum mendapatkan tindak lanjut serius. 

Di lapangan, rombongan DPRD menemukan jembatan darurat yang hanya ditopang dua sampai tiga batang pohon kelapa, sehingga rawan membahayakan petani saat menyeberangkan hasil panen. Warga menyebut kondisi ini sudah berlangsung sekitar satu dekade tanpa intervensi teknis dari pemerintah.

Salah satu keluhan datang dari Ketua Gabungan Kelompok Tani (Gapoktan) Bukit Biru, Hasim Adnan. Ia mengungkapkan, sekitar 90 persen ruas jalan usaha tani tidak bisa dilewati kendaraan bermuatan padi akibat permukaan yang rusak dan jembatan yang tidak layak.

Distribusi hasil panen diungkapkannya kerap dilakukan dengan dipikul, menggunakan arko, atau motor tanpa muatan jika kondisi memungkinkan.

“Kerusakan jembatan ini sudah sekitar 10 tahun. Kami sudah mengajukan proposal sejak lama, tapi belum ada realisasi. Selama ini kami gotong royong saja, hasil panen diseberangkan sedikit demi sedikit,” ucap Hasim.

Oleh karena itu, sebagai legislator fraksi PKB di DPRD Kukar, Desman akan membantu meneruskan keluhan warga dan berharap kondisi tersebut segera direspons Pemkab Kukar.

“Kami berharap Dinas Perkim bisa segera turun meninjau lokasi pemakaman ini. Jangan sampai kerusakannya meluas dan berdampak pada area pemakaman warga,” pungkasnya.

[RWT]



Berita Lainnya