Opini

Guru Hebat, Covid-19 Mendera Tetap Berkarya

Oleh: Mohammad Makmun Qomar, M.Pd (Guru SMP Negeri 12 Samarinda)

Saat Covid-19 mendera yang tidak jelas ujungnya ini, perbincangan ringan melalui chat whatsapp antara guru dengan peserta didik banyak yang menanyakan kapan masuk sekolah kembali. Peserta didik yang aktif, disiplin, punya etos belajar tinggi, suka bergaul, pembelajaran jarak jauh (PJJ) adalah suatu penyiksaan. Covid-19 telah membuat jarak dari teman-temanya, tidak bertemu guru-gurunya, atau kangen dengan suasana kantin sekolah tempat ngerumpi bersama. Sebaliknya bagi peserta didik yang tidak disiplin, etos belajar rendah, pandemi Covid-19 sebuah berkah karena tidak harus berada di penjara yang namanya sekolah dengan penyiksaan melihat guru mengajar dengan kedisiplinan dan tugas-tugasnya.  Gurupun tak mampu memberi jawaban yang menyenangkan bagi mereka.

Pandemi Covid-19, menghentak kesadaran guru-guru. Pembelajaran tidak bisa lakukan dengan cara biasa.  Pembelajaran tidak dapat dilakukan dengan berkomunikasi secara langsung kepada peserta didik. Padahal peserta didik harus tetap mendapatkan pembelajaran. Guru-guru harus menemukan ide besar bagi terlayaninya proses pembelajaran. Guru harus tetap mengajar bagaimanapun kondisi yang terjadi. Kalau guru tidak mengajar akan terjadi lost generasion, sangat menakutkan bagi perkembangan peradaban kemanusiaan.

Baca juga:  Sekolah Kembali Dibuka, Bijakkah?

Selama ini, tidak pernah terbesit akan mengalami kondisi yang seperti ini, guru dan peserta didik harus berjauhan. Peserta didik dilarang ke sekolah kalau tidak ada kepentingan mendesak. Paradoks, biasanya kalau peserta didik tidak ke sekolah maka akan terkena sanksi, tetapi saat ini yang terjadi peserta didik dilarang ke sekolah.

Kurikulum pendidikan tidak pernah dirancang untuk masa darurat seperti saat ini. Kementerian Pendidikan sekalipun tidak pernah akan berpikir akan mengalami goncangan hebat ini. Sehingga pemegang kebijakan pendidikan mengalami kegagapan mencari solusi akan permasalah pembelajaran peserta didik yang tetap aman bagi guru dan peserta didik. Dari sekian jalan mencari solusi di gelar webinar kemendiknas untuk para guru. Dari renungan kemendiknas akhirnya muncul kurikulum darurat, program guru berbagi, pembelajaran melalui TVRI dan RRI, lomba video pembelajaran.

Sekolah sebagai garda paling depan yang bersentuhan langsung dengan peserta didik harus menyamakan persepsi dengan dewan guru. Dewan guru harus tetap memberikan pelayanan pembelajaran ke peserta didik. Guru harus dapat berinovasi dengan metode pembelajaran jarak jauh. Memastikan semua peserta didik aktif dapat mengakses proses pembelajaran.

Inovasi Metode Pembelajaran

Situasi yang serba sulit ini ternyata ada beberapa guru yang sudah dapat menemukan solusi untuk melakukan pembelajaran jarak jauh dengan pemanfaatan aplikasi internet. Sebelum Covid-19 mendera mereka sudah terbiasa pembelajaran online tentu berbasis internet. Guru yang sudah akrab dengan aplikasi internet pandemi ini tidak terlalu menjadi masalah besar. Metode Pembelajaran Jarak Jauh sudah biasa dilakukan.

Mau tidak mau memaksa guru belajar berbagai aplikasi internet. Guru-guru yang masih energik dengan semangat 45 tidak menyerah dengan kondisi darurat ini. Dengan kesigapan belajar aplikasi internet tidak peduli apapun namanya yang penting tetap dapat terhubung dengan peserta didiknya untuk memberikan pembelajaran. Permasalahan bagaimana dengan guru-guru yang sepuh yang mau mendekati purna bakti. Diakui, tidak semua guru punya semangat inovasi mengembangan metode Pembelajaran Jarak Jauh.

Bukan perkara mudah memberi motivasi pada guru-guru untuk melakukan inovasi pembelajaran. Salah pendekatan akan menjadi permasalahan panjang. Tidak sedikit para guru yang alergi perkembangan karena sudah nyaman dengan konsisinya yang telah dilalui selama ini. Ada beberapa guru yang alergi kritik, tidak mau diberikan saran. Tetapi dibalik sikap yang tertutup itu dengan kondisi darurat seperti ini hati nuraninya pasti berkata ingin belajar dengan inovasi pembelajaran yang baik. Guru harus membuka diri untuk melihat peserta didiknya tetap belajar walaupun tidak harus dengan metode atau aplikasi internet yang hebat.

Saatnya guru-guru yang masih segar yang mempunyai energi lebih tampil ke depan memberikan pelatihan ke para guru yang belum faham dengan berbagai aplikasi internet. Pembelajaran dengan google classroom: cara membuat absen, cara membuat tugas, mengirimnya ke peserta didik sekaligus cara mengecek peserta didik yang telah mengumpulkan tugas. Aplikasi thatquiz, zoom, atau google mett dan lain-lain.

Para guru kalau para guru ingin berkomunikasi langsung dengan beberapa peserta didik dapat menggunakan aplikasi zoom dan google mett. Hal ini tidak murah karena menyedot pulsa yang banyak. Apalagi kalau semua guru menggunakan aplikasi ini. Orang tua peserta didik bisa kalang kabut untuk membeli pulsa. Guru harus mampu memilah dan memilih keuntungan dan kerugian, efektif dan efesien memakai sebuah aplikasi.

Aplikasi whatsaap sangat mudah digunakan. Aplikasi whatsapp guru-guru sudah familier. Aplikasi ini dapat menjadi alternatif bagi guru-guru yang sangat gatek teknologi dalam Pembelajaran Jarak Jauh. Kelemahannya kalau semua siswa mengirim jawaban yang berupa foto ke handphone guru, bisa berakibat fatal handphone rusak karena ram handhopnya tidak mencukupi. Kelemahan menggunakan handphone yang lain adalah kesulitan untuk mengoreksi seluruh pekerjaan peserta didik karena layarnya kecil.

Pembelajaran dengan youtube sangat menyenangkan. Guru dapat menjelaskan materi walau tidak harus bertatap langsung dengan peserta didik. Materi dapat diakses kapan dan dimana saja. Peserta didik dapat mengulang-ulangnya. Guru yang bijak tentu tidak akan membuat tayangan di chanel youtubenya durasi panjang. Dalam kondisi normal satu bab misalnya dapat diselesaikan dua pertemuan, tetapi dalam youtube bisa dipecah jadi lima pertemuan. Hal ini dilakukan agar tidak terlalu banyak menyedot pulsa peserta didik.

Apabila guru memang ingin suara asli dan wajahnya dilihat oleh peserta didik, youtube dapat membantu memberi solusi. Guru harus mampu membuat video, mengeditnya dan mengaploudnya. Membuat video guru harus mampu berkomunikasi yang bagus, suara harus jelas. Pada saat membuat video guru dapat dibantu dengan aplikasi powerpoint untuk menjelaskan materi-materi yang didalamnya yang  bisa diolah dalam bentuk tulisan atau video penjelas. Guru harus mampu mengaplikasikan tangkap layar monitor untuk merekam tulisan yang ada di layar monitor yang direkam. Proses selanjutnya editing dan mengapload di chanel youtube. Dapat dishare ke peserta didik.

Situasi pandemi ini, banyak bermunculan para guru menjadi youtuber. Guru-guru berlomba memberikan pelayanan kepada peserta didiknya. Keadaan yang tidak terbayang sebelumnya. Suara dan wajahnya bisa diakses oleh siapapun tanpa batas wilayah. Peserta didik dimanapun dapat mengases materinya. Guru yang aktif, kreatif, pantang menyerah dalam mengelola chanelnya tidak tertutup kemungkinan dapat mendapatkan rupiah dari youtube. Membahagiakan bagi guru-guru yang aktif, kreatif dan terus ingin maju.

Video yang telah dibuat oleh guru dapat dishare dengan berbagai cara. Kalau hanya ingin dipakai secara terbatas oleh peserta didiknya saja maka dapat menggunakan aplikasi google drive, google classroom. Pemakain aplikasi google drive dapat dibantu dengan share link melalui whatsapp peserta didik. Aplikasi internet sangat membantu karya-karya guru terus berada di depan para peserta didiknya.

Orang Tua dan Anak

Permasalahan dengan guru yang tidak mau berkembang saja sudah membuat tertatih-tatih proses Pembelajaran Jarak Jauh ini. Peserta didik yang dari ekonomi mampu tentu fasilitas penunjang Pembelajaran Jarak Jauh bukan masalah utama. Handphone sudah menjadi teman setia setiap detik dalam bermain game. Permasalahan besarnya adalah pada pendampingan orang tua saat peserta didik memegang handphone untuk belajar atau untuk berselanjar game.

Rumit lagi tak kala peserta didik yang orang tuanya tergolong ekonomi tidak mampu. Pembelajaran Jarak Jauh mensyaratkan peserta didik harus mempunyai perangkat untuk menerima pesan dari gurunya minimal handphone. Jangankan mempunyai handphone untuk mencukupi kebutuhan utama saja masih sering kesulitan. Kalau mempunyai handphone biasanya untuk bekerja bukan untuk belajar anak-anaknya

Permasalahan pendampingan menjadi hal yang perlu diangkat. Orang tua yang bekerja, sibuk dengan anak-anaknya yang masih kecil,  atau yang berpendidikan rendah pasti akan banyak mengalami masalah. Ketika anaknya menanyakan sesuatu penjelasan terhadap seatu materi pelajaran pasti tidak dapat menberikan jawaban dan jawabannya hanya kemarahan dan sumpah serapah, entah ke guru atau Covid-19 ini. Saat-saat orang tua merasakan bagaimana beratnya mendidik anak-anaknya di rumah sangat terasa. Hal ini semoga akan memacu kerja sama orang tua, sekolah dan guru untuk pendidikan mereka.

Fasilitas Pembelajaran Jarak Jauh bukan hanya berupa handphone saja tetapi kuota pulsa juga harus terpenuhi. Disaat orang tua ekonomi terhimpit karena Covid-19, disisi lain anak-anaknya harus terpenuhi fasilitas belajarnya. Keadaan yang tragis memilukan.

Kepedihan orang tua mendapat solusi dengan penggunaan dana bos dapat untuk membeli kuota pulsa internet. Seandainya hanphone juga di sediakan oleh pemerintah alangkah super bahagianya mereka. Entah hanphone yang paling murahpun asal dapat digunakan untuk belajar. Masalah adanya fasilitas handphone diberikan ke keluarga yang tidak mampu bukan karena sebab, tidak ada yang tahu kapan Covid-19 akan berlalu dan kapan pembelajaran normal bisa berjalan lagi. Selagi tidak ada fasilitas itu mereka akan terkendala saat proses belajar.

Permasalahan bukan masalah handphone dan pulsa saja. Guru harus dapat memastikan peserta didik dapat menginstal aplikasi yang digunakan. Peserta didik harus mempunyai akun. Jaringan internetnya lancar. Kalau sudah terkendala jaringan internet, guru sehebat apapun pasti akan melemah semangatnya. Tanpa jaringan yang lancar maka akan terjadi kendala penerimaan materi ke peserta didik. Banyak pekerjaan para guru yang harus diselesaikan awal sebelum memasuki pembelajaran dengan aplikasi internet.

Salut, angkat topi pada guru-guru yang berkenan berkeliling dari rumah ke rumah peserta didiknya untuk memberikan pembelajaran. Tidak semua guru dapat melakukan kegiatan ini. Disadari kegiatan berkunjung dari rumah ke rumah peserta didik adalah sebuah kemulyaan tapi harus diakui juga bahwa kegiatan ini tidak efektif kalau dilakukan terus menerus. Peserta didik yang jumlahnya tidak banyak dan ada didekat sekolah mungkin dapat dilakukan dengan mudah. Bagaimana kalau peserta didiknya banyak, saling berjauhan dan kondisi geografis yang kurang bersahabat.

Guru-guru yang datang ke peserta didik kadang kala membuat tidak nyaman bagi keluarga yang di rumah. Merasa terganggu. Mereka harus berhenti beberapa jam untuk tidak guyonan, tidak menyalakan TV, tidak mendengarkan musik dengan suara keras. Keluarga dipaksa harus hening agar proses pembelajaran anaknya dapat berjalan lancar. Bagaimana bila ada keluarga yang tidak menghormati guru datang ke rumah peserta didik. Orang tua acuh tak acuh. TV tetap menyala dengan suara keras. Pembelajaran tidak nyaman.

Kondisi yang tidak nyaman ini, membuat guru harus menurunkan egonya. Para guru rasanya tidak etis kalau harus memaksa peserta didik wajib mengerjakan tugas tanpa memahami kondisi peserta didik. Dalam keadaan normal peserta didik yang tidak mengumpulkan tugas dapat menerima sanksi. Kondisi seperti ini, guru harus dapat memberi solusi yang nyaman bagi peserta didik. Jangan sampai ada peserta didik memutuskan berhenti sekolah gara-gara kesulitan mengakses pembelajaran. Hal ini sangat mungkin terjadi kalau memang peserta didik kesulitan mengakses pembelajaran dan gurunya tidak mau tahu dengan permasahan yang dihadapi peserta didik.

Baca juga:  Guru Sugestif di Era Pandemi

Guru-guru hebat adalah guru yang dapat memahami kondisi peserta didik, menjadi fasilitator, membimbing, mengarahkan dan memberikan assesmen pembelajaran. Beberapa bulan ini kinerja guru, walau kondisi menakutkan tetap mengawal peserta didik dalam mencari ilmu dengan berbagai pendekatan atau metode yang beraneka ragam dengan memastikan mereka dapat mengases pembelajaran dengan menyenangkan dan bermakna bagi perjalanan kehidupannya.

Sulitnya Pendidikan Karakter

Materi pelajaran bisa tersampaikan dengan bantuan aplikasi internet. Bagaimana dengan materi pendidikan karakter. Pendidikan karakter  tentang nilai-nilai kehidupan,  kejujuran, kepedulian, tanggung jawab, kerja sama, gotong royong, hingga keimanan. Pendidikan karakter agak lebih mudah kalau bertemu secara langsung. Guru langsung bisa memberikan bimbingan dan evaluasi. Di saat pandemi ini guru terbatas hanya menyampaikan, mengingatkan dan evaluasi dalam bentuk sikap, tulisan pada jawaban-jawaban mereka. Proses bimbingan, pengawasan, pendampingan, teladan, peranan mutlak orang tua di rumah yang senantiasa bersama dengan putra-putrinya.

Kerja sama pimpinan sekolah, dewan guru, komite sekolah atau orang tua murid yang saling terbuka, saling menghargai, saling sinergis dan memahami tugas masing-masing akan dapat mengatasi permasalahan proses pembelajaran ini. Tidak mudah melalui pandemi Covid-19, kesadaran akan ikhtiar dan berserah diri kepada Tuhan yang Maha Kuasa adalah jalan terbaik melewati pandemi Covid-19 ini. Kinerja guru, kompetensi, pengabdian, karya dan inovasi tiada henti yang terus berpedoman pada protokol kesehatan adalah kunci keberhasilan melewati Covid-19 ini menyongsong new normal dunia pendidikan.(*)

*) Opini penulis ini merupakan tanggung jawab penulis seperti tertera, tidak menjadi bagian tanggung jawab redaksi kaltimtoday.co

Facebook Comments
Tags

Related Articles

Back to top button
Close

Adblock Detected

Please consider supporting us by disabling your ad blocker